Surat Cinta untuk Jokowi: Ayo, Bertarunglah, Petarung!

Jokowi jumpa pers di Istana Bogor

POJOKSATU – Kata-kata itu belum lama engkau ucapkan berkali-kali. Saya yakin engkau juga belum lupa. Engkau mengucapkannya di beberapa tempat, di beberapa kesempatan.

“Saya ini petarung. Jangan pikir saya lembek,” katamu di hadapan santri Pondok Pesantren Pandanaran, Sleman, Yogyakarta, Senin (2/6) siang, belum setahun berlalu. Saya ingatkan satu momen ini saja.

Itu menjelang pemilihan presiden yang akhirnya engkau menangkan. Rakyat memilihmu. Engkau mengidentikkan dirimu dengan rakyat. Kau bilang, kandidat lawan boleh saja tangguh, mempunyai dana kampanye yang besar, serta memiliki mesin politik yang besar dan kuat karena didukung banyak partai.

Yang mengharukan adalah ketika dengan perbandingan itu kau bilang bahwa apa yang telah disiapkan relawan pendukungmu mampu memberikan efek lebih besar.


“Enggak apa-apa di sana mesin politik besar. Yang penting di sini mesin rakyatnya kuat, mesin relawan kuat,” ujarmu waktu itu.

Rakyat. Relawan. Di mana dua nama itu sekarang kau letakkan di hatimu? Masihkah keduanya ada dalam pikiranmu?

Saya tidak ingin buru-buru menarik kesimpulan. Tapi melihat hari ini ketika orang sipil yang dulu mendukungmu beramai-ramai bergerak ke KPK, berjaga di sana, saya melihat kau mulai tidak lagi terasa ada bersama rakyat dan relawan.

Kau belum memperlihatkan seberapa tangguh kau tampil sebagai petarung. Saya belum ingin kecewa. Tapi saya siap untuk kecewa. Dan saya akan kecewa bersama banyak orang di negeri ini.

Saldo kepercayaan dan harapan kami padamu rasanya lekas sekali terkuras. Wahai, Petarung, kau masih punya waktu untuk menyetor-menambah ke rekening kepercayaan kami. Mudah-mudahan kau bisa mempertahankan rezim ini sampai pemilihan berikutnya.

Saya tidak akan sedih jika seandainya engkau harus jatuh karena kau tidak tampil sebagai petarung. Partai utama pendukungmu dan engkau sedang bermain-main dengan akal sehat rakyat dan relawan yang dulu ikut mengantarkan engkau ke pucuk kekuasaan di negeri ini.

Ada harapan. Ada kepercayaan. Kami dulu memilih engkau karena kami percaya menitipkan harapan padamu. Jika kedua hal itu engkau lupakan maka sebesar apa harapan kami dulu, sebesar itulah kekecewaan kami kini.

Pemerintahan yang engkau terajui ini ternyata sama saja: gaduh dan bising. Ini menguras energi bangsa ini dan engkau tahu itu. Kami sesungguhnya ingin melihat engkau dengan bergegas bekerja, bekerja, bekerja sebagaimana jargonmu. Banyak sekali pekerjaan rumah bangsa ini. Bukannya gaduh, gaduh, gaduh, dan engkau punya kuasa untuk menunjukkan bahwa dirimu mampu.

Ayolah, bertarunglah, wahai Petarung kami!

Jakarta, 23 Januari, 2014.