Kronologi Kasus yang Menjerat Bos KPK Jadi Tersangka

Bambang

POJOKSATU – Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto diringkus Bareskrim Mabes Polri, Jumat (23/1) pagi. Pria yang karib disapa BW itu ditangkap di sebuah jalan raya di Depok, Jawa Barat saat mengantar anaknya ke sekolah.

Bambang ditangkap dan kemudian berstatus tersangka terkait kasus kesaksian palsu dalam persidangan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalteng, 2010 lalu. BW dijerat pasal 242 juncto pasal 55 KUHP.

Penangkapan ini berawal dari laporan Kuasa Hukum tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang, Wilfrid Sihombing.

Wilfrid Sihombing melaporkan Bambang Widjojanto ke Kapolri dan Jaksa Agung. Kasusnya adalah dugaan suap Pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng), di Mahkamah Konstitusi (MK).


Wilfrid Sihombing menjelaskan, ada dugaan penyuapan yang dilakukan Bambang selaku pengacara pasangan Ujang Iskandar-Bambang Purwanto kepada Akil Mochtar selaku hakim (MK) dalam perkara sengketa Pilkada Kota Waringin Barat, Kalteng, yang pada saat itu digelar di MK.

Menurut Wilfrid, Akil Mochtar dalam salah nota pembelaannya menyebutkan Bambang meminta tolong kepadanya selaku hakim MK untuk memenangkan perkara yang diajukan Bambang.

Dalam pleidoi Akil Mochtar juga diketahui, Bambang sempat menumpang mobil dinas Akil Mochtar dari Gedung MK sampai Pasar Minggu.

Dalam perjalanan, Bambang berulang kali meminta bantuan Akil Mochtar sehubungan dengan perkara sengketa Pilkada Kabupaten Kota Waringin Barat.

Kala itu, Akil Mochtar merupakan salah satu hakim MK yang menangani perkara tersebut. Akhirnya, MK memenangkan gugatan yang diajukan Bambang.

Putusan itu memang dinilai sangat aneh dan kontroversial karena memenangkan pasangan nomor urut 2, sekaligus mendiskualifikasi pasangan nomor urut 1, Sugianto-Eki Soemarno. Padahal pasangan nomor urut 1 sudah dinyatakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pemenang pilkada itu.

Bambang sendiri pernah membantah menyuap Akil Mochtar. (one)