Menelisik Keberadaan Kaum Gay di Kota Tauco

gay1
Ilustrasi

POJOKSATU – Keberadaan komunitas kaum homoseksual ‘Gay’ atau kerap disebut Laki Seks Laki (LSL) di Cianjur, bisa dihitung jari. Hal itu berdasarkan hasil catatan Petugas Lapangan (PL) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cianjur.
PKBI sendiri merupakan organisasi yang memberikan penyuluhan kepada komunitas gay akan HIV dan AIDS serta mengenai hubungan seksual yang aman, agar terhindar dari penyakit yang menular melalui hubungan badan atau sexually transmitted infections (STIS).
“Selama ini keberadaan gay di Kabupaten Cianjur bisa dikatakan masih tertutup, tidak mudah untuk menelusuri secara keseluruhan tentang cerita mereka,” kata Petugas Lapangan PKBI Cianjur E. Rina.
Meski begitu, kehidupan para gay yang ada di Kabupaten Cianjur tidak seperti di kota dan daerah lain, mereka hidup rukun berdampingan dengan kehidupan para Waria. Bahkan di Kota Tauco ini keberadaanya tertampung pada komunitas-komunitas tertentu.
“Catatan kami di lapangan, kehidupan gay tidak terdata secara keseluruhan. Karena dalam aktivitas kesehariannya tidak terbuka pada publik. Mungkin mereka lebih baik tertutup dalam menjalani kehidupan pribadinya,” ungkap Rina lagi.
Ia menyebutkan, bila bicara tentang Indonesia yang kehidupan masyarakatnya masih konservatif, maka tidaklah mudah bagi kaum gay bisa menjalani kehidupan pribadinya, apalagi melakukan pernikahan sesama jenis. Maka mereka kebanyakan memilih untuk hidup di luar negeri yang masih memberi peluang untuk menikah sesama jenis. Adapun negara yang jadi pilihan salah satunya Australia misalnya, mereka lebih bisa diterima dan menjadi diri sendiri, menjadi suatu pilihan seorang gay.
“Bila terlihat secara kasat mata, para gay tidak diketahui oleh masyarakat bahwa mereka itu sebagai LSL. Rata-rata penampilan dan wajahnya tampan. Bahkan selalu berpenampilan rapih dan mayoritas penghasilan ekonominya menengah ke atas,” terusnya.
Berdasarkan hasil PL PKBI Cianjur yang terbaru, ada seorang pelajar Kelas 11 SMA di Kecamatan Cikalongkulon, AE (16) yang positif terkena HIV/AIDS. “Awalnya dia terjun ke dunia gay, akibat butuh biaya sekolah, maka memilih bergaul bebas dengan sesama jenis,” terangnya.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur Hilman, dari data sementara yang dimilikinya, jumlah LSL di Kabupaten Cianjur baru tercatat 105 orang, dari sebelumnya sekitar 95 orang.
Menurutnya, keberadaan kaum gay kerap melakukan hubungan seks lewat komunitas homoseksual dengan cara anal. Maka itu sangat rentan terinfeksi HIV/AIDS. Namun beda halnya dengan komunitas waria yang keberadaanya sangat terbuka dan komunikatif.
Di Cianjur sendiri jumlah waria yang terdaftar dalam Komunitas Srikandi Panghegar Cianjur mencapai ratusan orang. “Kalau waria memang mereka lebih terbuka, jumlahnya ada sekitar 200 orang. Sebanyak 105 orang diantaranya ada di Kecamatan Cianjur,” terangnya, seraya setiap tahunnya jumlahnya akan bertambah setiap tahunya.
Selama ini, KPA Cianjur akan terus melakukan upaya dan gencar sosialisasi penanggulangan penyakit akibat hubungan sesama jenis. “Terutama pada kalangan yang masuk kategori populasi kunci tadi, tapi bukan untuk dijauhi atau dikucilkan, kita coba beri pembinaan dan pengarahan soal bahaya penyakit yang diakibatkan hubungan seks tidak sehat, karena sangat beresiko tinggi terhadap ancaman dirinya sendiri dan kehidupannya,” paparnya.
Pembina Yayasan Lepas Cianjur, Susane Febriyati menyebutkan, penyuluhan harus terus dilakukan pemerintah, terutama PKBI terhadap keberadaan kaum gay tersebut. Hal itu untuk menekan populasi kunci penyebaran virus AIV/AIDS yang ada di Cianjur.
“Kita sangat peduli terhadap kehidupan mereka, makanya selalu melakukan pembinaan dan penyuluhan secara berkesinambungan,” ucap Susane.
Dijelaskanya, keberadaan kaum gay telah tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Cianjur seperti di Kecamatan Cianjur, Pacet, Cikalongkulon dan Cipanas. “Rata-rata usia komunitas gay antara 17 hingga 40 tahun,” jelasnya.
Jika melihat kondisi ekonominya, rata-rata mereka dari kalangan masyarakat menengah ke atas, makanya susah ditembus dan didata secara detail. “Mungkin karena privasi, jabatan atau kehormatan keluarganya, bahkan status sosialnya tidak mau tercemar,” tuturnya. Keberadaan komunitas ini juga di Kabupaten Cianjur bisa dikatakan sudah cukup lama, hampir 40 tahun.
Adapun Puskesmas yang telah ditunjuk untuk melakukan tes, rujukan, tes HIV/AIDS, lalu pengambilan obat ARV bagi kaum homoseksual maupun gay yang mengalami penyakit kelamin diantaranya, Puskesmas Ciranjang, Puskesmas Muka, Puskesmas Joglo, Puskesmas Cipendawa Cipanas, RSUD Cianjur dan RSUD Cimacan.(mat)