Pengakuan Pilot: Peralatan Usang, Andalkan Laporan Radio

033336_804188_airasia_stresPOJOKSATU – Demi mempertahankan pesawat tetap menerbangi koridor penerbangan pada jarak yang aman satu sama lain, ATC di Indonesia memberlakukan pemisahan prosedur dengan memanfaatkan laporan radio dari para pilot untuk menghitung posisi satu pesawat relatif terhadap posisi pesawat lainnya.

Prosedur itu menghabiskan waktu lebih lama ketimbang menggunakan radar canggih yang dioperasikan Singapura dan di mana pun di dunia, yang memungkinkan petugas ATC bisa dengan cepat memanfaatkan data radar yang dikirim balik dari semua pesawat yang berada di area terbang.

Kurangnya perlengkapan terkini dan kondisi cuaca yang tidak stabil ini pernah dikeluhkan para pilot dan pakar penerbangan ketika Boeing 737 Lion Air jatuh pada 2013 di Bali. Saat itu pilot melaporkan bahwa pesawatnya telah ditarik angin ke bawah laut yang jaraknya beberapa meter dari landas pacu.

Itu dianggap contoh klasik dari geseran angin yang adalah perubahan tiba-tiba pada kecepatan dan arah angin. Bandara-bandara di pulau-pulau terkenal di Asia Tenggara seperti Bali, Koh Samui, Langkawi dan Cebu, tidak memiliki perangkat pendeteksi geseran angin di darat yang sebenarnya membantu pilot saat mendarat dan tinggal landas.


Para pilot mengaku keputusan-keputusan sulit kerap muncul dari pengalaman. “Menurut saya, jika saya tak mendapatkan izin (mengubah arah terbang) dan saat bersamaan ada cuaca buruk di depan, saya akan menyampingkan saja pesawat itu, baru setelahnya berurusan dengan pihak berwenang,” kata seorang mantan pilot SIA lainnya yang kini menjadi pilot pada maskapai Gulf. (indopos/reuters/jpnn)