Badan Pesawat AirAsia Terbelah

Analisis Penyebab Jatuhnya AirAsia1
Grafis analisis kecelakaan AirAsia

POJOKSATU – Sejumlah temuan yang didapat tim pencari AirAsia QZ8501 mengindikasikan pesawat tidak meledak dan terbakar di udara. Direktur Teknologi PT Dirgantara In­do­nesia, Andi Alisjahbana menduga pe­sa­wat lepas kendali dan jatuh menghantam permukaan laut. “Dan pecah ketika sudah di dasar air,” ujar Andi.

Pendapat itu juga sesuai dengan pengamatan sementara dari tim SAR. “Dari pantauan udara, kami bisa melihat body pesawat dalam bentuk potongan besar, berada di bawah permukaan laut,” kata Direktur Operasional Badan SAR Nasional posko Pangkalan Bun, S.B. Supriyadi, di Landasan Udara Iskandar, Pangkalan Bun.  Posisi badan pesawat berada pada jarak 97-100 mil dari Pangkalan Bun.

Indikasi lainnya yang terungkap adalah kondisi jenazah penumpang utuh dan tak ada luka bakar. Ruth Hana Simatupang, pengamat penerbangan, menambahkan, temuan sejumlah serpihan dan beberapa jasad penumpang yang utuh di lokasi pencarian menguatkan indikasi bahwa badan pesawat hanya pecah di bagian tertentu dengan ukuran besar. “Dengan jasad utuh, pesawat tak mungkin terbakar di udara,” jelasnya.

Kemungkinan masih ada upaya penumpang menyelamatan diri pun masih realistis. Karena terlihat dari temuan perosotan pintu darurat. Presiden Direktur CSE Aviation, Edwin Sudarmo, berani memperkirakan pilot berusaha mendaratkan pesawat di permukaan air. Analisanya merujuk pada temuan perosotan pintu darurat.


Menurut dia, pesawat Airbus A320-200 dirancang mampu meluncur di udara tanpa dorongan mesin. Namun, Edwin tak berani menyimpulkan pesawat berhasil mendarat atau jatuh menghunjam laut.

Deputi Potensi SAR Basarnas Marsekal Muda TNI Sunarbowo Sandi berpendapat sama. Itu setelah timnya menemukan pintu darurat, koper, dan life jacket tidak menunjukkan terjadinya kerusakan parah atau hancur.

“Sampai sejauh ini tidak ada temuan yang mengindikasikan serpihan bodi atau sayap pesawat. Jadi, meskipun belum bisa memastikan, kemungkinan pesawat masih utuh sangat kuat,” ujarnya.

Oleh karena itu, skenario pencarian dan penyelamatan korban di dalam pesawat mulai dirancang Basarnas dan mulai dilakukan hari ini (1/1). Salah satu skenario itu ialah menerjunkan tim penyelam dari satuan Taifib.

Sebenarnya sempat ada skenario menggunakan kapal selam. Namun karena kedalaman laut diperikirakan hanya sekitar 30 meter, maka diputuskan cukup dengan mengerahkan penyelam.
Sementara itu, Panglima Komando Operasi I TNI AU Marsda Dwi Putranto menjelaskan, pencarian pesawat dan korban akan lebih difokuskan pada dua area yakni, titik 4 dan 5. Lokasi dua area itu hanya sekitar 120 mil laut (Nautical mile/NM). “Dua lokasi ini merupakan hasil observasi dari kapal menggunakan sonar,” jelasnya.

Sesuai hasil deteksi sonar, pada titik 4 dan 5 tersebut diprediksi terdapat benda yang kemungkinan adalah serpihan atau pesawat AirAsia. Rencananya, hari ini pendeteksian menggunakan sonar kembali dilakukan.

Setelah mendapat tanda adanya sesuatu, maka 47 anggota Taifib akan menuju ke sasaran. Kapal milik TNI AL dan tujuh pesawat evakuasi dari TNI AU siap siaga melanjutkan skenario evakuasi ini. Sebenarnya skenario tersebut sudah dilakukan kemarin, namun cuaca baik di udara maupun laut sangat tidak bersahabat.

Dari sisi udara, awan tebal gelap yang cukup tebal turun sejak pagi di atas langit Pangkalan Bun. Hal itu membuat jarak pandang sangat pendek, sekitar 20 meter. Gangguan cuaca juga terjadi di laut. Ketinggian ombak mencapai 3-20 meter. “Kondisi itu sangat berbahaya untuk dilakukan penyelaman. Kalau dipaksakan, bisa berakibat fatal,” ujarnya. (idr/gun)