Kepala Pramugari Itu Mojang Bandung, Mantan Aktivis yang Tomboy

Senior Fight Attendant AirAsia QZ8501, Wanti Setiawati. Foto: ist
Senior Fight Attendant AirAsia QZ8501, Wanti Setiawati. Foto: ist
Senior Fight Attendant AirAsia QZ8501, Wanti Setiawati. Foto: ist

POJOKSATU – Wanti Setiawati, mojang asal Bandung, namanya ada dalam daftar nama kru pesawat AirAsia QZ8501.  Dia merupakan Kepala Pramugari alias Senior Fight Attendant di pesawat yang dipiloti Capt Iriyanto itu.

Setelah ditelusuri, ternyata Wanti adalah alumni Yayasan Pendidikan Ariyanti, Jurusan Perhotelan, angkatan 2004.

Hal ini dibenarkan Wakil Direktur Ariyanti Meggie Ambarsari SE. Awalnya, presiden direktur menerima kabar dari rekannya bahwa ada satu alumnus Ariyanti yang menjadi korban AirAsia.

Dia kemudian meminta foto korban yang bernama Wanti itu, karena tidak yakin dengan data nama. Benar saja, dalam sekejap, presiden direktur langsung mengenalinya.


“Kemudian, kami lihat di Facebook alumni, banyak komentar dan doa untuk Wanti. Salah satunya datang dari saudara korban,” kata Meggie kepada Bandung Ekspres (Grup JPNN) di lobi kantor Yayasan Ariyanti, Jalan HOS Cokroaminoto.

Segera setelah mendapat kabar itu, Meggie memasang karangan bunga di depan pintu masuk yayasan, sebagai bentuk berduka cita.

Didampingi Marketing Communication Yayasan Pendidikan Ariyanti Issar Adi Nugroho, Meggie bercerita, korban adalah anak yang aktif dan agak tomboy. Meggie mengaku cukup dekat mengenal Wanti. Saat itu, tahun 2004, Meggie masih menjabat sebagai Koordinator Jurusan.

“Dia (Wanti) itu aktivis. Tidak neko-neko orangnya. Secara akademik juga baik,” ucapnya.

Sepengetahuan Meggie, Wanti sempat praktik kerja lapangan (PKL) di Hotel Radison (sekarang bernama Plaza Bukit Indah) Purwakarta sebagai Front Office.

Perempuan kelahiran 14 April 1984 itu memilih nge-kos di sana karena tidak mungkin pulang-pergi ke Bandung. Kemudian, Wanti lanjut bekerja di situ. Memang Hotel Radison, kata Meggie, banyak menyerap alumni Ariyanti. Namun, kepindahan Wanti menjadi flight attendant tidak diketahuinya.

“Karena sudah hampir sepuluh tahun kami tidak bertemu,” kata perempuan berambut sebahu ini.

Setelah mendapat kabar duka, Meggie dan staf Ariyanti mencari data korban. Seperti, ijazah, alamat rumah, tanggal lahir, dan nomor telepon. Bahkan, Meggie sempat mendatangi alamat yang didapatnya, tapi kepemilikan rumah sudah berbeda. “Nomor yang kami punya pun tidak dapat dihubungi. Tidak aktif,” ujarnya.

Oleh karena itu, Meggie dan Issar berharap, pesawat AirAsia QZ8501 segera ditemukan. “Kami tetap berdoa supaya keluarga korban diberi ketabahan. Pinginnya penumpang selamat, tapi ya kita berdoa saja,” ucap Issar, kemarin sebelum Basarnas menemukan puing-puing pesawat. (tam/sam/jpnn)