Kenangan Terindah Pramugari Cantik AirAsia

Wanti Setiawati. Ist
Wanti Setiawati. Ist
Wanti Setiawati. Ist

POJOKSATU – Musibah yang menimpa Wanti Setiawati (30), pramugari AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menyisakan duka cukup mendalam bagi keluarganya.

Wanti merupakan warga Kampung Lembur Tengah, Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Keluarga mengaku tidak menaruh firasat apa-apa sebelum kejadian nahas menimpa sang pramugari cantik itu. Hanya saja mereka merasa ada perbedaan sikap yang ditunjukkan Wanti ketika pulang ke rumahnya pada November 2014 lalu.

Keluarga sempat heran melihat perubahan sikap Wanti yang dulu tomboy, menjadi gadis berjilbab. “Dia menggunakan jilbab, terus terakhir pulang ke sini dia jadi rajin beres-beres di rumah,” kenang kakak ipar Wanti, Iwan Darmawan.

Kendati berubah sikap, Iwan dan keluarga tidak menganggap hal itu sebagai pertanda buruk. Namun, hal itulah yang menjadi kenangan terindah bagi keluarga sebelum Wanti mengalami musibah. “Kami terus memanjatkan doa dan melakukan pengajian sehari dua kali,” imbuhnya.


Wakil Direktur Ariyanti Meggie Ambarsari SE, juga memiliki kenangan bersama Wanti. Sebab, Wanti merupakan alumni Yayasan Pendidikan Ariyanti, Jurusan Perhotelan, angkatan 2004.

“Kami lihat di Facebook alumni, banyak komentar dan doa untuk Wanti. Salah satunya datang dari saudara korban,” kata Meggie di lobi kantor Yayasan Ariyanti, Jalan HOS Cokroaminoto.

Meggie mengaku cukup dekat dengan Wanti. Saat itu, tahun 2004, Meggie masih menjabat sebagai Koordinator Jurusan. “Dia (Wanti) itu aktivis. Tidak neko-neko orangnya. Secara akademik juga baik,” ucapnya.

Sepengetahuan Meggie, Wanti sempat praktik kerja lapangan (PKL) di Hotel Radison (sekarang bernama Plaza Bukit Indah) Purwakarta sebagai Front Office.

Perempuan kelahiran 14 April 1984 itu memilih nge-kos di sana karena tidak mungkin pulang-pergi ke Bandung. Kemudian, Wanti lanjut bekerja di situ. Memang Hotel Radison, kata Meggie, banyak menyerap alumni Ariyanti. Namun, kepindahan Wanti menjadi flight attendant tidak diketahuinya. “Karena sudah hampir sepuluh tahun kami tidak bertemu,” kata perempuan berambut sebahu ini.

Setelah mendapat kabar duka, Meggie dan staf Ariyanti mencari data korban. Seperti, ijazah, alamat rumah, tanggal lahir, dan nomor telepon. Bahkan, Meggie sempat mendatangi alamat yang didapatnya, tapi kepemilikan rumah sudah berbeda. “Nomor yang kami punya pun tidak dapat dihubungi. Tidak aktif,” ujarnya. (tam/sam/one)