2015, Ekonomi Tumbuh 5,8 Persen

Ilustrasi

6648_5243_OKE-Kurs-Rupiah1-BEC

PEMERINTAH  menaruh optimisme terhadap tingkat pertumbuhan perekonomian pada 2015. Hal itu terlihat dari adanya kenaikan proyeksi akselerasi ekonomi menjadi 5,8 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015. Sebelumnya, pemerintah hanya mematok pertumbuhan ekonomi tahun depan di angka 5,6 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menyatakan, asumsi makro yang disepakati tersebut pada dasarnya masih berada dalam rentang yang telah diperkirakan pemerintah. Yang jelas, kata Chatib, pelaksana APBN yang bakal digedok itu sebetulnya adalah pemerintah yang baru mendatang. Dengan demikian, pihaknya berharap presiden yang terpilih dan jajarannya diharapkan dapat menggenjot ekonomi ke posisi yang lebih baik.

’’Pertumbuhan ekonomi dan rupiah lebih bagus (tahun depan),’’ katanya setelah penandatanganan kesepakatan dengan Komisi XI DPR, Bappenas, dan Bank Indonesia (BI), beberapa waktu lalu mengutip dari laman online Jawa Pos.


Asumsi pertumbuhan ekonomi yang telah disepakati badan anggaran (banggar) tersebut lebih tinggi dibandingkan APBNP 2014 yang sebesar 5,5 persen dan juga melebihi realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2013 yang sebesar 5,78 persen. Di pihak lain, IMF meramalkan bahwa perekonomian Indonesia pada 2015 bisa menyentuh 5,8 persen.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Andin Hadiyanto memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari kondisi internasional yang memang tengah melemah. Khususnya yang terjadi pada pasar ekspor utama Indonesia, yakni Tiongkok, yang terus mengalami penurunan output ekonomi. Hal tersebut secara otomatis mengakibatkan turunnya permintaan Tiongkok terhadap komoditas dari Indonesia.

’’Turunnya Tiongkok membuat harga tambang dan hasil perkebunan jatuh. Padahal, (dua komoditas itu merupakan) 50 persen dari ekspor Indonesia ke Tiongkok. Karena itu, ekspor perlu ke produk-produk berbasis industri,’’ ujarnya.

Selain merevisi pertumbuhan ekonomi, pemerintah mengubah beberapa asumsi makro 2015 seperti inflasi yang menjadi 4,4 plus minus 1 persen dari sebelumnya yang hanya 4,4 persen. Begitu pula halnya dengan nilai tukar rupiah di level Rp 11.600 hingga Rp 11.900. ’’Suku bunga surat berharga negara (SBN) tiga bulan pada awalnya 6,2 persen menjadi 6 persen,’’ paparnya.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, asumsi RAPBN 2015 yang dipatok pemerintah dianggap sesuai dengan perkiraan BI. Pada 2015, pertumbuhan ekonomi versi BI dalam rentang 5,4–5,8 persen. Sementara itu, inflasi pada kisaran 4,0 persen plus minus 1 persen. Akan tetapi, BI memproyeksikan, pergerakan nilai tukar rupiah bisa lebih tinggi. Yakni di level Rp 11.800 hingga Rp 12 ribu per USD dengan nilai tengah Rp 11.900 per USD.

Menurut Perry, forecast rupiah tersebut dipicu pemulihan ekonomi di Amerika Serikat yang membawa konsekuensi normalisasi suku bunga The Fed. ’’Kalau tidak ada normalisasi suku bunga, rupiah bisa Rp 11.800 per USD. Melihat saat ini sekitar Rp 11.700 per USD. Namun, normalisasi The Fed ini tidak boleh diabaikan,’’ ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR Dolfi Othiniel Fredric Palit mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut harus dirasakan semua kalangan. ’’Pertumbuhan ekonomi harus berkualitas. Dengan pertumbuhan segitu, seberapa besar dampak perbaikan kesejahteraan kepada petani dan nelayan,’’ tuturnya. (ps/jp/one)