Wisatawan Padati Museum Tsunami

10714_9008_oke-Museum-Tsunami-Aceh-Boy
CEROBONG DOA: Reza Syahputra, Musawwir, dan Supriyanto, siswa Pesantren Lhueng Bata Banda Aceh mengunjungi Museum Tsunami Aceh (24/12). (Boy Slamet/JP)

POJOKSATU, BANDA ACEH – Pada peringatan 10 tahun tsunami di Aceh, sejumlah tempat wisata yang berkaitan dengan bencana kemanusiaan itu  dipadati pengunjung. Ratusan wisatawan memadati Museum Tsunami Aceh di Jalan Iskandar Muda, kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Mayoritas adalah orang tua yang membawa anak-anak berusia remaja.

”Hari ini ada sekitar 2 ribu pengunjung. Sedikit lebih banyak dibandingkan hari biasanya. Mungkin karena liburan sekolah,” ujar Syarifah, petugas museum.

Museum yang dirancang Wali Kota Bandung Ridwan Kamil itu menjadi salah satu tujuan wisata warga Aceh yang datang dari berbagai daerah. Mereka umumnya datang untuk mengunjungi kerabatnya di Banda Aceh dalam rangka liburan sekolah. Salah satunya Mahmudin, warga Sigli, yang datang bersama istri dan dua anaknya.

Ditemui di Museum Tsunami, Mahmudin mengaku datang untuk mengunjungi kakaknya yang tinggal di Beurawe, Banda Aceh. ”Kebetulan anak-anak libur sekolah. Sekalian mampir ke sini. Kebetulan bertepatan dengan peringatan 10 tahun tsunami,” ujarnya.


Dalam musibah tersebut, kata dia, kakak dan suaminya selamat karena sedang menunaikan ibadah haji. Sementara itu, dua anak kakaknya dititipkan ke neneknya yang tinggal di Aceh Besar. ”Alhamdulillah semua selamat,” tuturnya.

Selain Mahmudin dan keluarganya, sejumlah anak penghuni sebuah dayah (pesantren salaf) di Lambaro, Aceh Besar, sedang mengamati 2 ribu nama korban tsunami yang terpahat di Sumur Doa Museum Tsunami. Mereka umumnya berusia 13 tahun sehingga tidak memiliki kenangan peristiwa tsunami. Menurut Syarifah, Museum Tsunami memang jarang dikunjungi penyintas (survivor). Mereka umumnya masih trauma karena kehilangan anggota keluarga. Karena itu, mengunjungi segala sesuatu yang berkaitan dengan tsunami akan membangkitkan ingatan menyedihkan.

Salah satu bagian museum yang membuat penyintas enggan masuk museum adalah Lorong Tsunami. Lorong itu sempit, gelap, menurun, dan berpagar tembok setinggi 35 meter. Lorong yang dipenuhi suara gemericik air itu memang dibuat untuk menggambarkan situasi ketika korban dilamun air bah setinggi pohon kelapa.

Karena mayoritas pengunjung tidak memiliki trauma dengan tsunami, suasana museum jauh dari kesan memilukan. Selain di Cerobong Doa yang diperdengarkan bacaan ayat-ayat suci, suasana museum justru riuh dengan teriakan anak-anak yang berebut memberi makan ikan-ikan koi yang dipelihara di kolam di bawah Jembatan Harapan.

Kolam berair tenang itu menggambarkan mulai pulihnya para penyintas dari trauma psikis berkat dukungan masyarakat internasional. Riuhnya celoteh anak-anak justru menguatkan kesan para penyintas sudah menatap masa depan.

Selain Museum Tsunami, wisatawan memadati Masjid Raya Baiturrahman, sekitar 500 meter dari museum. Petang kemarin ratusan pengunjung tampak antre untuk berpose di sekitar kolam di depan gerbang lama masjid. Warga lokal Aceh berbaur dengan wisatawan dari Malaysia, Thailand, dan India.

Menurut Adi, warga Banda Aceh, wisatawan dari luar negeri memang cukup ramai sejak penerbangan langsung dari Kuala Lumpur dibuka setiap hari. ”Pedagang di sini sudah biasa dibayar dengan ringgit,” katanya.

Selain wisatawan, di dalam masjid puluhan orang berkumpul untuk menyaksikan akad nikah Tengku Mohammad Reza dan Liza. Pernikahan yang digelar dua hari menjelang peringatan tsunami tersebut cukup mengundang perhatian warga.

Di sekitar masjid raya, puluhan aparat keamanan tampak sibuk mempersiapkan pengamanan kedatangan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam peringatan 10 tahun tsunami di Lapangan Blang Padang. Wapres hari ini dijadwalkan sudah tiba di Banda Aceh meski puncak peringatan baru digelar Jumat (26/12). Di Lapangan Blang Padang, belasan stan kemarin didirikan lembaga-lembaga donor dan lembaga kemanusiaan yang selama ini membantu Aceh pulih dari tsunami. Di antaranya, Oxfam, Mercy Corps, dan Palang Merah Indonesia.

Jumat pagi Pemkot Banda Aceh akan menggelar doa bersama di makam masal korban tsunami di Ulee Lheu. Makam di bekas Rumah Sakit Umum Meuraxa itu adalah makam masal terbesar kedua di Banda Aceh. Sedikitnya 14.264 orang dewasa dan anak-anak korban tsunami dimakamkan di kawasan seluas 15.800 meter persegi tersebut.

Berdasar pantauan, makam masal Ulee Lheu dan Blang Bintang sepi dari pengunjung. Menurut Zainal, petugas kebersihan Pemkot Banda Aceh, sehari-hari situasi makam masal memang sepi. ”Hanya satu dua orang yang menepikan mobil, berhenti sejenak, lantas jalan lagi,” terangnya.

Zainal menambahkan, bagi warga Aceh, 10 tahun tsunami sebenarnya sudah diperingati pada September. Peringatan tersebut berdasar perhitungan Hijriah peristiwa tsunami pada 26 Desember 2004 bertepatan dengan 14 Zulhijah 1425. ”Jumat hanya puncak peringatan secara resmi,” terangnya. Karena bersifat seremonial, puncak peringatan besok lebih banyak diisi dengan kegiatan yang bersifat pariwisata. Di antaranya, malam apresiasi seni budaya Dari Aceh untuk Dunia, pemutaran film dokumenter tsunami, lomba lari tsunami 10K, dan pameran foto.

Selain itu, tutur Zainal, pulihnya kondisi psikis para penyintas dan keluarganya dibantu tingginya pemahaman agama di kalangan masyarakat Aceh. ”Ny’ang meunyawong mandum mate (semua yang bernyawa pasti akan mati, Red),” katanya. Kesibukan persiapan peringatan 10 tahun tsunami tak mengurangi khusuknya misa malam kudus di Gereja Katolik Hati Kudus di kawasan Pante Pirak, Banda Aceh. Puluhan umat dari Banda Aceh dan Aceh Besar harus menembus hujan deras untuk hadir dalam misa. Dalam khotbahnya, Pastor Hamzani mengingatkan umat agar tidak kehilangan keyakinan pada kasih Tuhan dalam setiap kejadian. (c10/noe)