4 Kisah Mengharukan Setelah 10 Tahun Tsunami Aceh

BANER-10TAHUNTSUNAMIACEH

POJOKSATU – Indonesia sedang terkenang tsunami Aceh, 10 tahun silam. Selalu ada cerita setiap peringatannya. Selalu ada luka setiap tahunnya. Tapi, selalu ada cerita kebahagiaan pada setiap peringatannya.

Tahun ini, tepat 10 tahun tsunami Aceh, ada enam kisah mengharukan setelah 10 tahun Tsunami Aceh. Inilah kisahnya…

1. Rojatul Jannah Kembali ke Orangtua Setelah Hilang saat Usia 4,5 Tahun
Rojatul Janah


Di Meulaboh, Aceh Barat, seorang anak korban tsunami baru kembali bertemu dengan kedua orang tuanya. Suasana haru bercampur bahagia meluap di Lorong Kangkung, Desa Pagong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Rabu kemarin (6/8).

Pasangan suami-istri, Septi Rangkuti, 52, dan Jamaliah, 42, terlihat bahagia setelah bertemu dengan satu di antara dua anaknya yang hilang diseret gelombang besar tsunami. Isak tangis bahagia ibu dan ayah tersebut terlihat sambil merangkul anak mereka yang baru ditemukan.

Nama anak korban tsunami itu adalah Rojatul Jannah bin Rangkuti. Saat terseret gelombang besar pada Desember 2004, usianya masih 4,5 tahun. Namun, kini dia berusia lebih dari 14 tahun.

Namanya pun telah berubah menjadi Wenni. Peristiwa itu terjadi setelah papan tempat dia mengapung terseret gelombang tsunami hingga terdampar ke Pulau Banyak, Nias. Dia ditemukan nelayan asal Aceh Barat Daya (Abdya) yang bernama Bustamir. Setiba di Blang Pidie, dia diadopsi Mariam (ibu angkat). Dua tahun terakhir, dia menetap dengan nenek angkat bernama Sarwani di sebuah rumah bantuan di Kawasan Pulo Kayu, Kecamatan Susoh, Abdya.

Dia bersama neneknya harus menjalani rutinitas mencari kerang dan mengumpulkan dan menjual botol air minum mineral demi memperoleh uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Aktivitas itu dilakukan Rojatul Jannah setelah belajar di bangku kelas IV MIN Susoh, Abdya.

Pada Juni lalu, Rojatul Jannah tanpa sengaja terlihat oleh Zainuddin, saudara kandung Jamaliah (ibu korban), sedang berkeliling mencari botol minuman mineral bekas. Asal usulnya pun ditelusuri hingga nenek angkat Sarwani menuturkan bahwa Wenni bukan cucu kandungnya, melainkan anak tsunami. “Itu awal abang saya yakin kalau dia adalah keponakannya, anak saya,” kata Jamaliah.

Sementara itu, sebulan pascabencana gempa dan tsunami, pasangan Septi dan Jamaliah bersama seorang anak mereka pindah ke Desa Parigonan, Kecamatan Ulubarungun, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Merekapun mendapat kabar tersebut dari Zainuddin.

“Sebenarnya, sejak bulan puasa, kami meminta Rojatul Jannah alias Wenni untuk dipulangkan. Tetapi, nenek angkatnya meminta diambil setelah Lebaran,” ungkap Jamaliah.

Rojatul Janah1Pada 5 Agustus 2014, Kepala Desa Panggong, Sekdes Panggong, bersama Septi Rangkuti dan Jamaliah menuju Susoh Abdya untuk mengambil kembali anaknya. Pada 6 Agustus sekitar pukul 02.00, Rojatul Jannah tiba ke kampung ibunya.

Dengan terharu, Septi Rangkuti dan Jamaliah menyatakan bahagia karena berhasil menemukan satu di antara dua anak mereka yang hilang saat disapu gelombang tsunami. Septi Rangkuti menuturkan, saat kejadian, dua anaknya, yakni Rojatul Jannah dan Salim Arif Pratama diletakan di atas papan. Dengan kuat, anaknya memeluk papan tersebut hingga gelombang besar memisahkan anak dan orang tuanya selama sepuluh tahun.

Menurut pengakuan Rojatul Jannah, dirinya terseret arus gelombang hingga terdampar ke Pulau Banyak, Nias. Dia bersama abangnya selamat. Kakak-beradik tersebut berpisah setelah orang dewasa lain membawa abangnya untuk diadopsi.

 

2. Arif Pratama Kembali ke Aceh setelah Menjadi Gelandangan

120025_848462_Arif_Pratama_Si_Anak_Tsunami

Arif Pratama alias Solin (17) bertemu ayah dan ibunya pada 20 Desember 2014 setelah lenyap 10 tahun akibat tsunami Aceh. Remaja ini, ditemukan hidup jadi gelandangan di daerah Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat. Arief Pratama, diklaim abang kandung dari bocah tsunami Raudatul Jannah alias Wenni.

Pertemuan itu, berawal saat penayangan pada sebuah stasiun televisi nasional menampilkan segmen penemuan Raudatul Jannah dengan Jamaliah. Berita itu juga menjadi perhatian seorang pemilik usaha warnet pada daerah Payakumbuh, Padang, Sumatera Barat, bernama Lana Bestari (30).

Ia menilai seorang anak gelandangan,  yang biasa tidur di depan tokonya, memiliki wajah mirip dengan Jamaliah.
Gelandangan bernama Ucok itu diyakini Arif Pratama Rangkuti. Ucok hidup berpindah dari satu emperan ke emperan toko lainnya.

Pemilik warnet yang akrab disapa ibu Lana, mengasuh anak tersebut. Namun anak terlantar ini, enggan untuk menetap dalam rumah ibu Lana. Tapi dirinya sering datang meminta nasi ke tempat Lana Bestari.

Jamaliah, Ibu Arif Pratama Rangkuti, menjelaskan, selama di Padang, anaknya mendapat perawatan dari Ibu Lana.  Kabar keberadaan Arif Pratama juga diperoleh dari ibu Lana di Padang.

“Foto Ucok dikirimkan kepada saya, dengan bantuan sejumlah pekerja media. Saya pun dapat berkomunikasi via telpon dengan ibu Lana demi memastikan apakah benar Ucok anak saya,” jelasnya.

Usai yakin, Jamaliah mengaku langsung bertolak menuju Padang. Pada 20 Agustus, ia kembali pulang ke Meulaboh, Aceh Barat dengan membawa serta Ucok di sisinya. Kehadiran anak yang selamat dari bencana tsunami ini, menjadi perhatian warga, bahkan Bupati Aceh Barat HT Alaidinsyah (Haji Tito) turut datang demi menyaksikan pertemuan anak bencana itu.

3. Fanisa Rizkia Kembali ke Aceh setelah Dijual Jadi TKW di Malaysia

hilang-10-tahun-saat-tsunami-abg-15-tahun-ditemukan-di-malaysia

Pemerintah Aceh berhasil memulangkan seorang anak korban tsunami berusia 15 tahun dari Malaysia. Selama ini di Malaysia dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan juga korban trafficking.

Namanya Fanisa Rizkia (15) tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Aceh Besar, pada 19 Desember 2014. Fanisa Rizkia mengaku sangat senang bisa kembali ke Aceh. Meskipun dia tidak memiliki lagi keluarga, dia sangat bahagia bisa menginjak kaki kembali di bumi Serambi Mekkah. Fanisa merupakan salah satu dari ribuan korban tsunami Aceh.

“Senang bisa kembali ke Aceh, saya tidak mau lagi balik ke Malaysia,” kata Fanisa Rizkia di ruang VVIP Bandara SIM, Blang Bintang.

Selama di Malaysia, kata Fanisa Rizkia, dia sempat disiksa oleh pemilik agen Asraf penampung tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Bahkan agen Asraf tidak memberikan gaji hasil kerjanya.

“Kalau majikan baik, tetapi agen yang tidak baik, gaji gak dibayar, alhamdulillah sekarang sudah bisa pulang,” terangnya.

4. Pertemuan Wartawan BBC dengan Mawardah Priyanka

2142496Andrew-Harding780x390

Wartawan BBC Andrew Harding kembali ke Aceh setelah 10 tahun bencana tsunami dan bertemu lagi dengan salah seorang anak korban tsunami Mawardah Priyanka. Andrew kali pertama bertemu dengan Mawardah Priyanka di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid. Saat itu dia berusia 11 tahun, dan menemui Mawardah dalam kondisi kelelahan, sangat kotor, dan sendirian.

Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami. Beberapa hari kemudian dia menemukan kakaknya, Mutiyah, 16 tahun, ditemukan masih hidup.
Dalam beberapa bulan selanjutnya, Andrew tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam.

Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga. Tetapi, delapan tahun kemudian, Andrew kehilangan kontak mereka.

Andrew juga menceritakan bagaimana dia sulit menemukan rumah Mawardah. Sebab dulu sangat berlumpur. ”Sekarang di tempat itu ada jalan raya, dengan jembatan baru di atas sungai kecil,” tulis Andrew.

Dia juga merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing meninggalkan provinsi itu.

Selama dua hari, Andrew mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya. ”Saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan komplesitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami. (ps/jpnn/bbc/pojoksatu/berbagai sumber)