Kominfo Berupaya Wujudkan Ruang Digital Berbudaya Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama DPR RI mengajak masyarakat, menanamkan nilai Pancasila di tengah era digital.

POJOKSATU.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama DPR RI mengajak masyarakat, menanamkan nilai Pancasila di tengah era digital, melalui webinar Ngobrol Bareng Legislator dengan tema ‘Mewujudkan Ruang Digital yang Berbudaya Indonesia’, Jumat (3/3).


Webinar ini digelar, untuk menghidarkan masyarakat dari dampak negatif pada era digital seperti saat ini. Pasalnya, era digital tidak hanya memudahkan, tapi juga memiliki dampak negatif, seperti mengikis nilai budaya dengan mudah masuknya budaya asing.

Dosen di STIE/STIKES Panti Wilasa Semarang, Lasarus Arintoko menjelaskan, era digital menciptakan nilai-nilai baru bagi masyarakat dan merupakan era yang baru juga.

Nilai-nilai Pancasila yang mengandung latar belakang dan budaya Indonesia ini dapat terkikis atau hilang dalam kehidupan masyarakat.


Menanamkan nilai Pancasila di era digital akan mencegah kita untuk terpengaruh dari pengaruh asing, terhindar dari berita hoaks, terbuka dan toleran terhadap suatu peristiwa yang sedang Trending di ruang digital.

Digitalisasi dinilai sangatlah penting untuk meminimalkan biaya operasional dan untuk menjangkau konsumen lebih banyak, seperti : Platform e-Commerce (Shopee, Website,dll ), Platform Media Sosial (Facebook, Instagram, Tiktok, dll).

Dengan adanya internet pelajar menjadi lebih mudah mengakses informasi tambahan yang terkait dengan pelajaran , menambah wawasan, dan kegiatan belajar jarak jauh : Platform EduTech ( Ruangguru, dll ), Platform komunikasi (Zoom, Whatsapp, dll).

Sektor Pemerintahan memanfaatkan digitalisasi untuk efisiensi biaya dan waktu dalam pelayanan publik sehingga pelayanan publik kepada masyarakat menjadi lebih cepat.

“Kita sebagai warga negara bisa membayar pajak, retribusi, dan lain – lain dari rumah yaitu Paspor Online (aplikasi antrian online), E- Samsat (pembayaran pajak kendaraan), E- Billing (pembayaran pajak), BPJS Online (pendaftaran BPJS), NPWP Online (daftar NPWP), LAPOR (layanan aspirasi dan pengaduan online rakyat),” jelasnya.

Digitalisasi tidak hanya memudahkan tenaga kesehatan dalam mendiagnosa penyakit, namun juga dapat memudahkan pasien. Dengan membuat janji secara online, pasien menjadi lebih cepat mendapatkan pelayanan tanpa harus menunggu berjam-jam di rumah sakit.

Pasien juga dapat melakukan konsultasi dengan dokter dan menebus obat secara online melalui platform telemedicine yaitu Platform Healthcare (Halodoc, Getwell, Gooddoctor, Klikdokter, Klinikgo, dll).

Peran pemerintah adalah pertama Melakukan edukasi dan pelatihan untuk mengurangi dampak negatif digitalisasi seperti hoax, dll.

Kedua Pemerataan Digitalisasi, ketiga Pelatihan dan edukasi untuk menciptakan talenta – talenta digital yang dapat memajukan teknologi Indonesia, dan terakhir Pemerintah harus melakukan pemerataan infrastruktur agar masyarakat Indonesia dari perkotaan hingga pelosok dapat menikmati manfaat dari adanya digitalisasi.

Head of PR & Corporate Relations Masima Radio Network, Boy Henry mengatakan, Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi (Wikipedia).

Budaya Indonesia dan Budaya Asing wujud di ruang digital, Ruang Digital lebih banyak menjadi panggung untuk budaya asing.

Walaupun berpeluang menambah pengetahuan, memperluas wawasan, mendapat penghasilan, ada dampak negatif dari budaya asing diantaranya lunturnya budaya Indonesia, kaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan tata krama.

Bahkan ujung-ujungnya bisa menjadi imperialisme budaya (Cultural Imperialism Theory, Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa, 2014), Indonesia dengan 34 Propinsi punya ribuan ragam budaya yang Sebagian besar belum diketahui dan tidak diterapkan.

“Padahal budaya-budaya tersebut sesuai dengan Nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Foto/Gambar, Film, konten video, konten audio, dll, menjadi sarana pengenalan dan penyebaran budaya di ruang digital,” tegas dia.

Menambahkan, Anggota Komisi I DPR, H. Mohammad Idham Samawi mengatakan, bangsa dan negara Indonesia dibangun dari banyak perbedaan, lebih dari 700 suku dan bahasa daerah dan 5 agama.

Dia meyakini bahwa hanya Pancasila, yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa dan agama.

“Pancasila berperan penting dalam menjaga kesatuan bangsa Indonesia beserta seluruh sumber daya alamnya dari tangan asing,” ungkap dia.

Pergerakan media pada saat ini, sudah beralih ke media sosial dan ruang digital. Di mana, lanjut dia, sudah tidak ada lagi batasan ruang dan waktu.

Apalagi, ruang digital bisa menimbulkan ancaman-ancaman yang bisa memecah belah bangsa yang terserbar secara terstruktur, sistematis dan masif.

“Maka dari itu kita harus melawan dengan cara yang sama misalnya dengan webminar-webminar seperti pada acara ini. Kita harus menerapkan nilai-nilai Pancasila di setiap silanya dalam kehidupan kita sehari-hari, dimulai dari hal-hal terkecil kita termasuk di ruang digital,” tegas Idham.

Sementara itu, Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan menjelaskan, pesatnya perkembangan teknologi yang semakin maju, dengan adanya pandemi Covid-19 telah mendorong kita untuk berinteraksi dan melakukan berbagai aktivitas melalui platform digital.

Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah, yang semakin mempertegas, bahwa kita berada di era percepatan trasnformasi digital.

Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang baik, dari masyarakat dengan pemerintah agar masyarakat tidak tertinggal dalam proses percepatan transformasi digital.

(Rishad Noviansyah)