Ini Manfaat USG Bagi Janin

Tanda ibu hamil mau melahirkan
Ilustrasi. Foto: Jawapos
USG Pantau Air Ketuban. Peran Penting Pelindung Janin. Foto Ilustrasi. (Dite Surendra/Jawa Pos)
USG Pantau Air Ketuban. Peran Penting Pelindung Janin. Foto Ilustrasi. (Dite Surendra/Jawa Pos)

POJOKSATU – Rahim ibu merupakan inkubator terbaik bagi janin. Tentu, ibu hendaknya menjaga kondisi kandungan agar tetap stabil. Salah satu indikatornya, air ketuban dalam volume cukup.

Dokter Frans O. H. Prasetyadi SpOG (K) menjelaskan, air ketuban berperan penting dalam tumbuh kembang janin. Yakni, berfungsi sebagai pelindung janin.

Komposisi amnion fluid, menurut spesialis kebidanan dan kandungan tersebut, terdiri atas 98 persen air dan 1–2 persen lainnya garam. ’’Cairan ketuban mampu menangkal bakteri yang bisa mengakibatkan infeksi,’’ ujarnya.

Selain itu, keberadaan air ketuban ikut melindungi janin dari benturan atau guncangan selama masa kehamilan. Cairan amnion menjaga tali pusat tetap dalam kondisi lembap.


Jika sampai kekurangan atau kelebihan cairan ketuban, bayi dan ibu akan mengalami ketidaknyamanan. ’’Untuk mengecek volume cairan selalu pas, ibu wajib melakukan USG (ultrasonography),’’ ucap alumnus FK Unair tersebut.

Normalnya, volume amnion fluid 1.800–2.000 ml. Jika volume cairan melebihi normal, artinya ibu mengalami hidramnion. Kondisi hidramnion itu biasanya muncul pada ibu yang sedang hamil kembar. Baik kembar normal maupun kembar siam.

Kelebihan air ketuban tersebut menimbulkan beragam keluhan pada ibu. ’’Biasanya perut membesar hingga kulitnya kencang dan mengkilap. Kenaikan berat badannya drastis,’’ kata dokter yang berpraktik di RSAL dr Ramelan tersebut. Selain itu, ibu akan mengalami sakit punggung. Jika kelebihan cairannya cukup banyak, diafragma ibu terdesak sehingga muncul pula keluhan sesak atau sulit bernapas.

Sebaliknya, menurut Frans, kekurangan air ketuban juga bisa berakibat buruk. Oligoamnion atau kekurangan amnion fluid tersebut mengakibatkan janin mengalami dehidrasi. Jika cairan amnion kurang dari 500 ml, janin jarang bergerak. Bahkan, ’’kekeringan’’ itu menyulitkan persalinan.

Kelebihan atau kekurangan cairan amnion juga merupakan sinyal bahwa tubuh ibu mengalami gangguan kesehatan. Di antaranya, berupa preeclampsia maupun diabetes melitus. ’’Atau, mungkin, justru bayinya yang menderita kelainan bawaan,’’ jelas dokter 48 tahun tersebut.

Pemantauan volume cairan amnion dalam kandungan, ibu setidaknya menjalani empat kali USG selama mengandung. Selain USG, ibu harus konsultasi dengan ahli kandungan setidaknya sekali selama masa kehamilan.

Jika muncul gejala oligoamnion atau hidramnion, dokter akan menyarankan pengaturan pola makan dan terapi. Itu bergantung pada keluhan ibu.

Secara umum, dokter asal Surabaya tersebut menegaskan, ibu wajib memenuhi kebutuhan air. Selama kehamilan, ibu disarankan membatasi jumlah garam yang dikonsumsi. Tujuannya, cairan ketuban bisa berfungsi maksimal sebagai pelindung bagi janin hingga saatnya lahir. (fam/c19/nda/jawapos/zul)