Oleh: Sugeng Budiharsono

POJOKSATU.id - Setiap melalui tempat ini, jalanan tersendat, baik pagi, siang maupun sore.

Tempat ini selalu ramai, namanya Pasar Wonomulyo, di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Nama tempat yang aneh bagi daerah Sulawesi Barat.

Karena memang nama tempat itu berasal dari Bahasa Jawa, yang berarti hutan yang (membuat hidup menjadi) mulia. Atau hutan yang menjadi makmur atau ramai.

Baca Juga: Saling Ciduk! TNI Tangkap Solar Diduga Milik Brimob, Kini Giliran Brimob Amankan 7 Ribu Liter Diduga Terkait Oknum TNI

Nadi ekonomi di pasar Wonomulyo berdenyut 24 jam sehari, dengan omset sekitar 1,5 milyar rupiah setiap hari.

Hal ini menunjukkan skala perputaran uang dan transaksi harian yang sangat besar dari ratusan pedagang, agen, rumah makan, warung kopi, dan cokelat. Komoditas yang diperdagangkan mulai kebutuhan sehari-hari, kakao, dan kopi.

Komoditas tersebut berasal dari Kecamatan Wonomulyo itu sendiri, dan dari kecamatan sekitarnya, bahkan dari kabupaten tetangganya, seperti Mamasa, Pinrang, dan Enrekang.

Baca Juga: Penutupan Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Diperpanjang, Kepala Balai TNGGP Sebut yang Terdampak Kebakaran Sampai 1 Hektare

Lonjakan transaksi paling tinggi biasanya terjadi pada hari pasaran yaitu setiap hari Rabu dan Minggu. Dengan omset sebesar itu menjadikannya pasar terbesar di seluruh Sulawesi Barat.

Pasar Wonomulyo dikelilingi persawahan yang membentang luas dengan dibatasi dinding pegunungan, seperti pemandangan lukisan, yang menenangkan jiwa.

Dengan sistem irigasi teknis, maka dapat menanam padi sepanjang tahun. Dan menjadikan Kecamatan Wonomulyo sebagai lumbung pangan bagi Kabupaten Polewali Mandar.

Baca Juga: Lagi dan Lagi, Viral Diduga Polisi Todong Warga Pakai Senpi tak Terima Ditegur, Hukuman Terlalu Ringan?

Di balik lumbung pangan dan pusat perdagangan yang terus berkembang, Kecamatan Wonomulyo menyimpan sejarah panjang kehidupan masyarakatnya yang penuh dengan perjuangan tanpa henti. Dan menjadikan daerah tersebut yang awalnya hutan menjadi daerah yang masyarakatnya hidup makmur dan mulia, dan daerahnya maju.

Kappung Jawa di Polewali Mandar

Orang Mandar menyebut Wonomulyo sebagai Kappung Jawa atau Kampung Jawa. Karena merupakan suatu enclave orang Jawa di wilayah suku Mandar di Polewali Mandar.

Baca Juga: Viral! Diduga Oknum Polisi Todong Pistol Usai Ditegur Berkendara Pelan, Benarkah Mabuk?

Permukiman orang Jawa di Kecamatan Wonomulyo ini merupakan bagian dari program emigrasi (sekarang disebut dengan istilah transmigrasi) dari pemerintah kolonial Belanda.

Program emigrasi merupakan salah satu dari tiga bagian politik etis (ethische politiek) dari pemerintah kolonial Belanda.

Pemerintah kolonial Belanda menyiapkan kolonisasi Mapilli sejak tahun 1934. Para kolonis dari Jawa pertama kali didatangkan ke lokasi tersebut pada tanggal 1 September 1937 sebanyak 115 keluarga (380 jiwa) yang dipimpin oleh seorang asisten wedana, Raden Soeparman.

Baca Juga: Fakta Puncak Bogor Kini Sebagai Jalur Lintas Sang Raptor Elang Jawa, Peneliti : Ada Kesenyapan yang Aneh

Sebagai seorang priyayi, Soeparman paham betul falsafah hidup orang Jawa. Soeparman dalam memimpin koloni tersebut mengombinasikan antara falsafah hidup Jawa dan kedisiplinan kolonial Belanda.

Masyarakat Jawa memiliki falsafah hidup antara lain hamemayu hayuning bawana (menjadikan alam semesta asri, selamat dan lestari) dan urip iku urup (hidup itu menyala).

Makna dan nilai utama dari hamemayu hayuning bawana adalah adanya hubungan antara manusia yang harmonis dengan alam, keselarasan sosial, dan keseimbangan spiritual.

Baca Juga: Tak Peduli yang Lain, Botok Pastikan Tetap Demo di Jakarta 27 Agustus, Massa Tambahan Sudah OTW

Hubungan yang harmonis dengan alam mewajibkan manusia untuk menjaga, merawat, dan tidak merusak lingkungan fisik demi kelestarian bumi.

Keselarasan sosial dalam rangka menciptakan kedamaian, kerukunan, dan kesejahteraan antar sesama manusia tanpa memandang ras dan agama.

Keseimbangan spiritual dengan memelihara batin dan perilaku agar senantiasa berbuat kebaikan demi keselamatan dunia lahir dan batin sebagai makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca Juga: Guru PPPK Dapat Jalan Jadi PNS 2027, Desakan Setop CPNS Umum Menguat

Sedangkan makna filosofis urip iku urup adalah menolak egoisme, bermanfaat bagi sesama, dan berempati dan saling berbagi.

Menolak egoisme menjadikan manusia tidak boleh hidup hanya untuk memikirkan diri sendiri.

Bermanfaat bagi sesama akan membuat hidup lebih bermakna, dan berempati dan saling berbagi adalah mengajarkan kita untuk selalu berbuat kebaikan tanpa pamrih, dan saling menolong.

Baca Juga: Bintang Perusuh

Kedisiplinan ala kolonial Belanda diterapkan oleh Soeparman dengan memberikan tindakan yang tegas kepada para warganya yang malas.

Bagi warga yang malas atau tidak bekerja, Soeparman mengarak mereka keliling kampung sambil membawa tulisan sebagai orang malas.

Selain itu Soeparman juga melakukan rapat setiap pekan untuk mengetahui kondisi warga dan hasil usaha mereka dari para kepala kampung.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Masih Fluktuatif, Waspadai Erupsi Susulan dan Pahami Mitigasinya

Kombinasi antara falsafah hidup Jawa dan kedisiplinan ala kolonial Belanda menjadikan daerah kolonisasi tersebut berkembang maju.

Keberhasilan kolonisasi ini membuat orang Jawa lainnya untuk menjadi peserta kolonis di daerah tersebut, selama tiga tahun didatangkan lagi sebanyak 1.354 keluarga.

Sejalan dengan perkembangan, Wonomulyo bukan hanya dihuni oleh orang Jawa, tetapi sudah menjadi melting pot bagi berbagai suku seperti Mandar itu sendiri, Bugis, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Ribuan Gempa Susulan Guncang NTT, Mengapa Belum Berhenti? Ini Kata Sains

Pusat Pertumbuhan Baru

Hanya dalam satu dekade saja daerah kolonisasi tersebut telah berkembang dengan pesat dari hutan belantara menjadi kawasan yang produktif.

Suatu capaian yang sangat luar biasa. Setelah kemerdekaan, Wonomulyo berkembang bukan hanya sebagai sentra pertanian, tetapi juga sebagai pusat perdagangan.

Baca Juga: Melihat Langsung Dusun Niaiba yang Kosong dan Ditinggalkan Usai Gempa NTT

Kombinasi keduanya menjadikan Wonomulyo berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru, sebuah aglomerasi alamiah.

Sebagai pusat pertumbuhan baru, Wonomulyo telah mendorong pertumbuhan daerah-daerah sekitarnya.

Namun tidak demikian dengan Kawasan Transmigrasi Tubbi Taramanu, yang telah ditetapkan sebagai kawasan transmigrasi melalui Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 91 Tahun 2016.

Baca Juga: Bolehkah Pemerintah Meminta Donasi kepada Masyarakat? Simak Aturan Hukumnya

Kawasan Transmigrasi Tubbi Taramanu walau sudah satu dekade ditetapkan namun belum ada perkembangan yang signifikan.

Padahal kawasan transmigrasi ini memiliki potensi yang luar biasa, seperti kakao, kopi, durian, dan terletak dekat dengan Wonomulyo yang sudah maju. Apalagi kakaonya sudah dikenal sampai ke Jepang.

Kementerian Transmigrasi seyogianya belajar dari pengembangan kolonisasi Wonomulyo dalam mengembangkan Kawasan Transmigrasi Tubbi Taramanu dan kawasan transmigrasi lainnya.

Baca Juga: Malaysia Tutup 591 Sekolah akibat Kabut Asap Karhutla, Bagaimana Kondisi Sekolah di Kalimantan?

Pembelajaran yang dapat dipetik dari Wonomulyo sekurang-kurangnya adalah: (1) adanya keseriusan dan memfokuskan pengembangan kawasan, dengan persiapan yang sangat matang sebelum mendatangkan transmigran; dan (2) pendampingan oleh orang yang memiliki pemahaman tentang budaya dan falsafah hidup transmigran, kebijaksanaan, dan kedisiplinan.

Persiapan lokasi transmigrasi dan calon transmigran harus dilakukan secara matang. Sebelum lokasi tersebut ditempati dan juga transmigran ditempatkan.

Demikian juga pendampingan, bukan dilakukan oleh pendamping yang masih belum memiliki kebijaksanaan, apalagi miskin ilmu, dan pemahaman tentang falsafah hidup transmigran, dan masyarakat lokal.

Baca Juga: Apa Saja Faktor Pertumbuhan Ekonomi? Ini 10 Hal yang Mendorong Ekonomi Negara

Kementerian Transmigrasi juga perlu memfokuskan pembangunan kawasan transmigrasi dengan program tepat pada beberapa lokasi sebagai pilot area, tanpa menafikan pembangunan kawasan transmigrasi lainnya. Bukan program yang tidak jelas, atau program-program yang hanya untuk mengejar headline.

Keberhasilan pilot area ini akan dapat dijadikan pembelajaran bagi pembangunan kawasan transmigrasi lainnya. Sehingga masyarakat di kawasan transmigrasi terdorong untuk membangun kawasan lainnya.

Dengan stimulan yang tidak terlalu besar dari pemerintah, maka diharapkan kawasan-kawasan transmigrasi lainnya juga berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru lainnya.

**) Pendiri dan peneliti senior dari Geoeconomics Assessment of Nusantara Institute (GAIN)*