Oleh: Ginandita Novi Andhini, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

POJOKSATU.id - Di era digital yang berkembang pesat ini, kita berada di tengah lautan informasi yang deras.

Media sosial menjadi tempat informasi mengalir tanpa henti. Disadari atau tidak, setiap langkah dan setiap tindakan kita meninggalkan jejak digital yang terekam oleh data.

Media sosial telah mengubah pola kita berinteraksi dan berbagi informasi, menciptakan pergeseran komunikasi satu arah yang kini menjadi dua arah.

Pergeseran ini sangat terlihat ketika dahulu, media massa tradisional seperti surat kabar, radio, dan televisi menyebarkan informasi tanpa mendapatkan banyak feedback dari khalayak.

Sedangkan kini, media sosial menjadi platform bagi setiap individu untuk menyebarkan dan menerima informasi secara bersamaan.

Perubahan ini tentu memiliki banyak keuntungan bagi manusia yang menikmati media sosial.

Meskipun ada banyak keuntungan dari media sosial yang menciptakan kemudahan berbagi informasi, ada pula tantangan besar yang harus dihadapi, salah satunya adalah privasi dan penyebaran data pribadi yang tidak disadari.

Data pribadi sering kali tersebar begitu saja tanpa kita sadari. Tanpa adanya kesengajaan, data pribadi dapat tersebar baik dalam bentuk unggahan foto, video yang kita ciptakan.

Namun, baru-baru ini muncul sebuah fenomena mengkhawatirkan di kalangan pengguna media sosial yang mengingatkan kita semua akan betapa mudahnya data pribadi bisa bocor tanpa disadari.

Penyebaran Data Pribadi Tanpa Disadari

Selasa, 18 Maret 2025, pukul 15.00 WIB, menjadi momen yang sangat dinanti-nanti oleh seluruh siswa dan siswi tingkat akhir di Indonesia.

Pasalnya, pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025 akhirnya diumumkan pada hari itu. Informasi kelulusan SNBP memang selalu menjadi momen yang sangat dinanti-nanti.

Bagi banyak siswa, lolos dalam SNBP bukan hanya sekadar perubahan status menjadi mahasiswa, melainkan sebuah pencapaian yang mencerminkan kerja keras, dedikasi, dan perjuangan mereka selama bersekolah.

Namun, isu yang menjadi sorotan utama adalah kebocoran data pribadi peserta SNBP 2025.

Banyak siswa dan siswi peserta SNBP 2025 tanpa sadar membagikan screenshot pengumuman hasil SNBP yang memuat informasi penting dan data pribadi, seperti nomor peserta, nama lengkap, tanggal lahir, dan lain-lain.

Hal ini dipicu oleh antusiasme siswa yang ingin berbagi kebahagiaan melalui platform media sosial, seperti Instagram, Twitter, TikTok, atau WhatsApp.

Selain itu, fenomena live streaming juga marak pada hari itu, di mana beberapa pihak menawarkan jasa pembukaan hasil pengumuman kelulusan secara langsung melalui live streaming.

Akibatnya, banyak siswa mengirimkan data pribadi mereka, seperti nomor pendaftaran dan tanggal lahir di kolom komentar untuk dibukakan hasil pengumumannya.

Hal ini dikarenakan akses ke hasil pengumuman memerlukan nomor pendaftaran atau nomor peserta yang digunakan saat pendaftaran SNBP.

Ini menjadi masalah serius karena informasi sensitif seperti data pribadi dapat diakses publik.

Meskipun penonton siaran langsung tersebut hanya ingin mendapatkan kepastian atau berbagi momen kegembiraan, mereka tanpa sadar telah mengungkapkan informasi pribadi yang sangat sensitif kepada publik, sehingga berisiko disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dampak Buruk Kebocoran Data dan Penyalahgunaan Data Pribadi

Anak-anak dan remaja seringkali tidak sepenuhnya sadar akan risiko yang mereka hadapi ketika membagikan data pribadi secara terbuka di internet.

Banyak dari mereka juga yang tidak menyadari dampak buruk dari membagikan data pribadi di ruang publik, terutama dalam interaksi semacam itu.

Mungkin karena dampaknya tidak terjadi secara langsung, mereka mengabaikan potensi risiko penyalahgunaan data.

Padahal, kebocoran data pribadi memiliki banyak dampak buruk, di antaranya adalah pencurian identitas.

Data pribadi yang tersebar dapat digunakan oleh pihak lain tanpa izin untuk melakukan penipuan atau tindakan ilegal lainnya.

Misalnya, jika nomor peserta, nama lengkap, tanggal lahir, atau informasi sensitif lainnya jatuh ke tangan yang salah, informasi tersebut dapat disalahgunakan untuk mendaftar layanan tertentu atau melakukan transaksi atas nama korban.

Lebih parah lagi jika data lain seperti password ikut tersebar, pelaku dapat mengakses akun-akun penting milik korban.

Perkembangan Media Sosial Sebagai Penghubung Informasi Pribadi dan Publik

Tak dapat dipungkiri, media sosial telah berkembang menjadi saluran informasi yang menghubungkan kita dengan khalayak luas, memungkinkan penyebaran informasi kepada ribuan bahkan jutaan orang.

Oleh karena itu, penting bagi setiap pengguna untuk memahami dan mengelola kontrol privasi yang tersedia di setiap platform.

Pada fenomena ini, salah satu langkahnya adalah dengan memastikan bagian data pribadi pada halaman web telah disensor sebelum mengunggah gambar hasil pengumuman SNBP.

Solusi dan Tindakan Preventif yang Dapat Dilakukan Untuk Menghindari Kesalahan yang Sama

Beberapa tindakan preventif lain yang dapat dilakukan untuk mencegah kebocoran data pribadi adalah dengan memberikan pemahaman yang tepat mengenai privasi dan keamanan data oleh lembaga pendidikan sebelum siswa berbagi informasi penting secara terbuka.

Sebelum adanya pengumuman hasil SNBP, siswa seharusnya sudah dibekali pengetahuan yang cukup tentang cara menjaga privasi mereka di dunia digital.

Pihak sekolah dapat memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai informasi yang seharusnya dilindungi dan informasi yang dapat dibagikan.

Melihat dari perspektif komunikasi digital, sekolah seharusnya membekali siswanya dengan memberikan edukasi terkait peran literasi digital dan etika bermedia sosial yang juga perlu ditekankan dalam akademik guna menciptakan generasi yang tidak hanya terampil dalam teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya.

Oleh karena itu, sekolah dapat menggandeng profesional atau ahli di bidangnya untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa mengenai risiko yang ada dan cara melindungi data pribadi mereka di dunia maya.

Dengan demikian, pembekalan siswa dengan pengetahuan terkait literasi digital, etika bermedia sosial, dan perlindungan data pribadi akan membentuk individu yang lebih bijak dalam bermedia sosial.***