Oleh: Angelica Mitha Putrizka, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

POJOKSATU.id - Bedi Mulyana, S.Hut., M.Par., MMCAP, kini telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan selama lebih dari 20 tahun sebagai dosen di Program Studi Ekowisata.

Lahir di Tasikmalaya, ia menempuh pendidikan di SMAN 5 Tasikmalaya sebelum melanjutkan studi S1 di IPB University dengan fokus pada Konservasi Sumber Daya Hutan.

Ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan membawanya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Udayana dalam Kajian Pariwisata, serta mendalami Pariwisata Budaya dan Peninggalan di Prancis.

Seluruh pendidikan S2 dan studi di Prancis ia tempuh melalui beasiswa, hasil dari dedikasi dan perjuangannya dalam dunia akademik.

Perjalanan kariernya dimulai sebagai asisten dosen (asdos) pada tahun 2002 hingga 2005.

Setelah menyelesaikan masa pengabdian sebagai asdos, ia resmi menjadi dosen pada tahun 2005 dan hingga kini telah mengajar selama dua dekade.

Meski telah lama berkecimpung di dunia akademik, awalnya ia tidak bercita-cita menjadi seorang dosen.

Inspirasi itu datang dari ayahnya yang seorang guru, serta pemahamannya dari ilmu agama bahwa salah satu bentuk amal jariyah terbesar adalah ilmu yang bermanfaat.

Ia merasa bahwa jalan yang ia tempuh ini adalah bentuk dari "tersesat ke jalan yang benar", sebuah perjalanan yang tidak direncanakan tetapi membawa manfaat bagi banyak orang.

Dalam mengajar, Bedi memiliki kebanggaan terbesar saat mahasiswanya berhasil mencapai potensi terbaik mereka, layaknya seorang orang tua yang melihat anaknya sukses.

Namun, ia juga merasakan kesedihan saat mahasiswa tidak berhasil. Tantangan besar yang ia hadapi saat ini adalah generasi Z dan perkembangan teknologi.

Ia sering melihat mahasiswa lebih fokus pada ponsel saat di kelas, sesuatu yang kadang membuatnya sedih.

Ia berharap mahasiswa memiliki kesadaran lebih besar akan pentingnya belajar, karena setelah kuliah, mereka akan menghadapi fase kehidupan yang lebih kompleks dan menuntut tanggung jawab yang lebih besar.

Meski kini dikenal sebagai seorang akademisi, masa muda Bedi juga diwarnai dengan kecintaannya terhadap seni dan musik.

Ia tidak pernah menyangka akan menjadi dosen. Perjalanannya ke IPB pun penuh perjuangan, ia datang terlambat untuk pendaftaran yang seharusnya dilakukan sehari sebelumnya.

Bahkan saat UMPTN, karena adanya demo, ia harus berjalan kaki dari IPB hingga Padalarang.

Namun, segala perjuangan itu terbayar dengan diterimanya ia di IPB, yang kemudian menjadi awal dari perjalanan akademiknya.

Di masa depan, Bedi bertekad untuk terus belajar dan memperdalam ilmu, bukan untuk mencari kesuksesan pribadi, tetapi agar bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.

Ia juga memiliki pesan bagi mahasiswa dan siapa pun yang ingin berkembang, “Jadilah pribadi yang lebih baik, karena hanya kita sendiri yang benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan kita. Jangan berhenti untuk memperbaiki diri, dan selalu tingkatkan kemampuan komunikasi. Sebab, komunikasi dan tulisan adalah keterampilan dasar yang menjadi fondasi penting dalam berbagai aspek kehidupan.”

Dengan ketulusan dan konsistensi dalam mengajar, Bedi terus berperan sebagai pembimbing bagi generasi muda, berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki perjalanan dan tantangannya masing-masing, tetapi ia berharap ilmu yang diberikan dapat menjadi bekal yang bermanfaat bagi mereka di masa depan.***