Oleh: Santi Agustina, Program Studi S1 Kebidanan Universitas Respati Indonesia dan juga mahasiswa Program Doktor FKM Universitas Hasanuddin Makassar.

 

Kesehatan mental ibu selama masa kehamilan, persalinan, dan nifas merupakan aspek yang sangat penting bagi kesejahteraan ibu dan bayi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dan ibu baru melahirkan dan nifas rentan mengalami masalah psikologis, seperti depresi, kecemasan, dan stres.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) (2022), sekitar 10-20% ibu mengalami gangguan mental perinatal, namun banyak yang tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan perawatan yang memadai.

Tantangan utama dalam deteksi dini adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental, stigma sosial, serta kurangnya tenaga profesional di bidang ini.

Prevalensi depresi pascapersalinan yang tinggi, dengan mengidentifikasi prediktor obstetrik dan psikososial (Adeyemo et al., 2020).

Sebuah studi di China menemukan bahwa 23,5% ibu mengalami gejala PPD, sementara 6,1% mengalami gejala PP-PTSD (Liu et al., 2021).

Baca Juga: Biodata Lisa Mariana Ternyata Berasal dari Tangsel, Kini Jual Mobil Mewahnya Honda HRV

Penelitian di Ethiopia melaporkan prevalensi PP-PTSD sebesar 21,6% di antara ibu postpartum (Alemu et al., 2024).

Studi komunitas lain menemukan prevalensi PP-PTSD sebesar 3,6%, sebanding dengan angka global (Gankanda et al., 2021). Masalah psikologis seperti depresi antenatal, kecemasan perinatal, dan depresi postpartum merupakan tantangan kesehatan yang signifikan bagi ibu hamil, bersalin, dan nifas.

Deteksi dini sangat penting untuk mencegah dampak negatif terhadap kesehatan ibu dan perkembangan anak. Depresi postpartum adalah kondisi umum yang dapat mempengaruhi kesejahteraan ibu dan perkembangan bayi.

Tantangan sistemik, seperti terbatasnya akses ke layanan kesehatan mental, terutama di daerah pedesaan atau kurang terlayani, berkontribusi terhadap perawatan yang tidak memadai bagi mereka yang mengalami PPD (Sultan et al., 2022).

Pendekatan tradisional untuk mengatasi depresi postpartum sering melibatkan penggunaan antidepresan, namun kekhawatiran tentang efek samping dan dampaknya pada bayi membuat banyak ibu enggan menggunakannya.

Baca Juga: Lisa Mariana Ngaku Perawan Saat Hubungan Intim dengan Ridwan Kamil, 4 Kali Dijebol di Palembang

Depresi postpartum adalah kondisi umum yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan anak.

Penelitian yang dilakukan oleh Sidebottom et al., (2023) untuk mengidentifikasi prevalensi PPD dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ini di Upper Egypt dalam pembahasannya menunjukkan bahwa faktor-faktor biologis dan obstetrik memainkan peran penting dalam perkembangan PP.

Pemantauan hormonal dan fungsi tiroid, serta perhatian khusus pada wanita muda dan primipara, dapat membantu dalam deteksi dini dan pencegahan PP.

Selain itu, pendekatan multidisiplin yang mencakup perawatan obstetrik dan psikiatri mungkin diperlukan untuk mengelola risiko dan gejala PP secara efektif.

Penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, status sosial ekonomi, dan latar belakang etnis dalam skrining dan perawatan depresi selama dan setelah kehamilan. (Sidebottom et al., 2023).

Faktor-faktor tersebut seperti ibu muda, wanita multipara, ibu tunggal, individu non-Nordik, dan mereka yang berpendidikan rendah, memiliki risiko lebih tinggi untuk tidak menjalani skrining PPD (Khedr et al., 2023).

Oleh sebab itu perlunya strategi yang tepat sasaran untuk memastikan cakupan skrining yang komprehensif, seperti pendekatan yang peka terhadap budaya dan dukungan yang lebih baik untuk populasi yang rentan.

Keterbatasan layanan deteksi dini seperti kurangnya tenaga kesehatan mental, indonesia memiliki rasio psikologi klinis yang rendah yaitu sekitar 1 psikolog per 160.000 penduduk (Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Hanya 1 dari 10 ibu dengan gangguan psikologis yang mendapatkan perawatan medis yang sesuai. Adanya stigma sosial , biaya yang tinggi yang membuat ibu enggan untuk mencari bantuan karena rasa malu atau takut mendapatkan stigma negative.

Seiring dengan berkembangnya teknologi digital dan mobile health (mHealth), solusi berbasis aplikasi mulai digunakan untuk meningkatkan akses skrining dan intervensi psikologis bagi ibu hamil dan pascapersalinan (Mustafina et al., 2025).

Aplikasi kesehatan seluler yang didasarkan pada teori mindfulness dan dukungan sosial dapat meningkatkan dukungan sosial yang dirasakan, efikasi diri dalam pengasuhan, dan mengurangi gejala depresi postpartum. Pembelajaran mesin (Amit et al., 2021).

Hasil penelitian Mustafina et al., (2025) memperluas pemahaman tentang efek integratif dari mindfulness dan dukungan sosial dalam mengurangi gejala depresi postpartum dan menunjukkan potensi klinis dalam pengobatan gejala depresi postpartum.

Beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan meliputi: Integrasi aplikasi mhealth ke dalam sistem layanan kesehatan nasional. Pelatihan tenaga kesehatan dalam pemanfaatan teknologi mhealth.

Peningkatan kesadaran masyarakat dan edukasi kesehatan mental. Dan penyediaan layanan psikologis berbasis digital dan kolaborasi dengan akademisi dan sektor swasta.***