Oleh: Angelica Mitha Putrizka, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

POJOKSATU.id - Perjalanan ini bermula dari sebuah undangan pernikahan.

Aku dan keluargaku berangkat ke Jogja untuk menghadiri pernikahan bos Papa di hotel daerah Ambarukmo, Catur.

Setelah acara selesai, aku, kakak pertamaku, dan temannya memutuskan untuk berkeliling Jogja.

Awalnya, kami sudah merencanakan untuk mengunjungi beberapa destinasi, tetapi ternyata tempat yang ingin kami datangi terlalu penuh.

Akhirnya, kami mencari alternatif lain yaitu berburu pakaian thrift dan menikmati kuliner khas Jogja.

Kami menyusuri berbagai tempat thrifting, berburu pakaian unik dengan harga miring.

Setelah puas berbelanja, kami mencicipi rahang tuna di daerah Sardonoharjo yang terkenal dengan rasanya yang gurih dan kaya bumbu.

Selain itu, kami juga berkeliling menikmati suasana malam Jogja yang selalu nyaman untuk dijelajahi.

Setelah cukup lelah berjalan-jalan, kami kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya.

Keesokan harinya, perjalanan berlanjut ke Malang. Kami menginap di sebuah hotel di daerah Sigura yang memiliki suasana tropis khas Bali, dengan kolam di tengah area penginapan.

Namun, sejak awal tiba, rasanya ada sesuatu yang aneh. Udara di sekitar terasa lembab, mungkin karena hotel ini berdekatan dengan kolam dan sungai.

Aku dan kakakku mendapat kamar yang menghadap langsung ke kolam dan berhadapan dengan resepsionis, sedangkan orang tua aku mendapat kamar di sudut, yang lebih gelap dan tertutup pohon besar.

Baru beberapa saat istirahat, Mama tiba-tiba datang ke kamar kami dan berkata bahwa kami harus pindah hotel.

Alasannya, ada hotel lain yang lebih bagus. Aku sempat heran karena dari luar hotel ini terlihat baik-baik saja, bahkan memiliki pemandangan yang cukup menarik.

Tapi Mama tetap ingin pindah. Wajahnya tampak pucat dan saat aku memegang tangannya, terasa keringat dingin di kulitnya.

Aku semakin bingung, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti permintaannya dan mencari hotel lain di sekitar sana.

Di perjalanan menuju hotel baru, Mama akhirnya bercerita. Saat berada di toilet kamar, ia melihat sosok hitam tinggi berdiri diam, menatap ke arahnya dengan mata merah.

Bulu kuduknya langsung berdiri dan tanpa berpikir panjang, ia buru-buru keluar kamar menghampiri Papa. Aku merinding mendengar ceritanya, dan suasana di dalam mobil pun menjadi hening.

Yang lebih mengejutkan, setelah kami pindah hotel, barulah kami mengetahui bahwa di sekitar hotel lama sedang berlangsung acara bantengan.

Bantengan bukan sekadar atraksi seni biasa, tetapi juga ritual pemanggilan arwah dalam rangka syukuran atau pemberkatan.

Entah ada kaitannya atau tidak, tetapi semua terasa semakin masuk akal. Tidak heran jika Mama merasa ada sesuatu yang tidak beres sejak awal.

Kakak keduaku yang saat ini tinggal di Malang juga ikut berkomentar setelah mendengar cerita ini. Dia bilang bahwa adat di Malang masih sangat kental dan ada banyak hal yang perlu dihormati.

Setelah pindah hotel, malam harinya kami berjalan-jalan di daerah Kayu Tangan.

Suasananya mengingatkan pada Braga di Bandung atau Malioboro di Jogja, dengan bangunan tua dan lampu-lampu kota yang menciptakan suasana klasik.

Kami menikmati ramen hangat sebelum melanjutkan eksplorasi sambil menikmati udara malam yang tenang.

Besok paginya, aku dan keluarga pergi ke salah satu universitas di Malang untuk menemani kakak keduaku sidang.

Setelah acara selesai, kami lanjut ke Batu untuk menikmati nasi kebuli yang kaya rempah. Setelah puas, kami kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar.

Malamnya, kami berburu rawon terkenal di daerah Klojen. Kuahnya yang pekat dan gurih dengan potongan daging empuk benar-benar menghangatkan malam.

Hari terakhir di Malang, kami menyempatkan diri mencari oleh-oleh khas sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Perjalanan ini penuh dengan pengalaman seru: dari menghadiri pernikahan, thrifting di Jogja, menemani kakak sidang, kulineran di Malang hingga kejadian tak terduga di hotel yang masih membuat merinding sampai sekarang.

Semua menjadi cerita yang akan selalu diingat.***