Oleh: Rafi Muhammad Fayiz, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University

POJOKSATU.id - Ramadan telah tiba, bulan suci Ramadan adalah bulan yang selalu di tunggu tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Karena pada bulan ramadan selalu menghadirkan nuansa kebersamaan yang khas.

Tidak hanya umat muslim saja, banyak orang non muslim juga yang ikut merasakan kebersamaan ketika bulan suci Ramadan, seperti saat buka puasa bersama, atau bahkan pada saat hari raya idul fitri.

Seperti yang kita tahu salah satu tradisi yang melekat di bulan suci ini adalah buka puasa di masjid.

Hampir di setiap daerah, kita bisa menemukan masjid yang menyediakan takjil dan makanan berbuka secara gratis bagi siapa saja yang datang.

Menu berbukanya pun sangat variatif di setiap masjid, mulai dari kurma, gorengan, kue, hingga makanan berat seperti nasi.

Bagi saya buka puasa bersama di masjid itu begitu menyenangkan, karena saya bisa merasakan kehangatan dan juga kebersamaan yang sangat kuat di dalamnya.

Seperti ketika berbuka puasa bersama di masjid dengan teman teman kampus selepas kuliah, dan dilanjut sholat isya dan tarawih itu menjadi momen yang tak terlupakan.

Tentu buka puasa bersama di masjid ini menjadi momen yang tidak bisa dilupakan oleh banyak orang karena ketika buka bersama di masjid bisa menjadi tempat untuk saling bersilaturahmi bersama tetangga ataupun teman dan saudara.

Namun, di balik kebiasaan ini, muncul pertanyaan: apakah tradisi ini masih dijalankan dengan makna yang seharusnya, ataukah kini hanya menjadi ajang berburu makan gratis?

Makna Buka Puasa di Masjid

Buka puasa di masjid sejatinya bukan hanya sekadar urusan perut. Ini adalah wujud atau bentuk dari kebersamaan, solidaritas, dan berbagi yang diajarkan dalam Islam.

Di masjid, tak ada sekat ataupun membeda-bedakan antara mereka yang datang. Siapa pun bisa duduk dan makan bersama, baik itu masyarakat setempat, musafir, hingga mereka yang kurang mampu.

Momen ini juga menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang saling peduli terhadap sesama manusia.

Selain itu, berbuka di masjid juga menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Ada suasana kebersamaan yang khas, di mana orang-orang tidak hanya makan bersama tetapi juga melanjutkan dengan salat Magrib, Isya, dan Tarawih secara berjamaah.

Suasana ini memberikan pengalaman spiritual yang mendalam dan mengajarkan tentang arti kesederhanaan.

Bagi banyak orang, berbuka di masjid menjadi momen refleksi untuk lebih mensyukuri nikmat yang diberikan.

Terlebih lagi hal ini hanya dapat dilakukan setahun sekali yaitu ketika bulan suci Ramadan.

Namun, belakangan ini, saya merasa bahwa tradisi ini tampak mengalami perubahan makna.

Dengan semakin maraknya budaya konsumtif di bulan Ramadan, ada kekhawatiran bahwa esensi berbuka puasa di masjid mulai terkikis.

Dari Ibadah Menjadi Ajang Berburu Takjil?

Di beberapa tempat, buka puasa di masjid mulai kehilangan esensinya. Tidak sedikit orang yang datang hanya untuk makan, lalu segera pergi tanpa ikut sholat berjamaah.

Jadi ketika sudah memasuki waktu adzan maghrib, masjid yang menyediakan buka puasa gratis akan penuh oleh orang orang yang ingin berbuka puasa di masjid. Lalu ketika memasuki waktu

sholat isya dan tarawih masjid sudah mulai sepi dan hanya terisi beberapa saff saja karena orang orang sudah meninggalkan masjid untuk melanjutkan aktifitasnya.

Tapi ada juga orang orang yang berburu masjid dengan menu berbuka yang lebih variatif, bukan karena ingin menikmati kebersamaan, melainkan hanya demi mencari makanan terbaik secara gratis.

Sehingga akhirnya banyak masjid menyediakan buka puasa gratis, tetapi tidak semua dimakan karena ada masjid lain yang yang menyediakan makanan lebih enak sehingga orang akan lebih senang untuk datang ke masjid tersebut.

Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip Islam yang mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan.

Kesadaran masyarakat dalam menghargai makanan perlu ditingkatkan agar tradisi buka puasa di masjid tetap berjalan dengan penuh berkah.

Fenomena ini tentu mengundang pertanyaan: apakah buka puasa di masjid masih menjadi bentuk ibadah ataukah sekadar peluang mendapatkan makan gratis?

Jangan sampai tradisi yang seharusnya menjadi sarana berbagi dan beribadah bersama justru berubah menjadi kebiasaan konsumtif tanpa makna spiritual.

Menjaga Tradisi dengan Inovasi

Agar tradisi ini tetap hidup dengan makna yang sebenarnya, perlu ada inovasi dalam penyelenggaraannya.

Masjid bisa mulai menerapkan konsep berbuka yang lebih tertata, misalnya dengan menyediakan sesi kajian singkat sebelum berbuka untuk mengingatkan jamaah tentang makna Ramadan.

Dengan adanya kajian ini, jamaah akan lebih memahami bahwa berbuka di masjid bukan hanya sekadar makan, tetapi juga bagian dari ibadah yang lebih luas.

Selain itu, masjid juga bisa menerapkan sistem pendaftaran sederhana bagi yang ingin berbuka di masjid, agar makanan yang disediakan benar-benar bermanfaat dan tidak disalahgunakan oleh mereka yang hanya mencari keuntungan pribadi.

Sistem ini juga bisa membantu pengelola masjid dalam memperkirakan jumlah makanan yang dibutuhkan sehingga dapat mengurangi risiko pemborosan.

Langkah lainnya yang bisa dilakukan adalah beralih ke konsep berbuka yang lebih ramah lingkungan.

Penggunaan wadah sekali pakai sering kali menjadi masalah dalam acara buka puasa di masjid.

Masjid dapat mulai mengganti kemasan plastik dengan wadah yang lebih ramah lingkungan atau bahkan meminta jamaah membawa wadah sendiri untuk mengurangi sampah.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan lingkungan.

Peran Masyarakat dalam Memaknai Tradisi Ini

Selain dari pihak masjid, kesadaran individu juga perlu ditingkatkan.

Berbuka di masjid seharusnya bukan hanya tentang menikmati makanan gratis, tetapi juga menjadi momen untuk memperkuat ibadah dan mempererat kebersamaan.

Jangan hanya datang ketika waktunya berbuka, tetapi juga ikut meramaikan masjid dengan ibadah setelahnya.

Jika kita hanya datang untuk makan dan langsung pergi, maka kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keberkahan lebih dalam dari Ramadan.

Masyarakat juga bisa berperan aktif dalam mendukung tradisi ini dengan cara berdonasi untuk penyelenggaraan buka puasa di masjid atau bahkan menjadi relawan dalam membantu persiapan makanan.

Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga nilai-nilai Ramadan.

Selain itu, generasi muda juga harus didorong untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan, termasuk berbuka di masjid.

Dengan adanya program menarik seperti diskusi agama, mentoring, atau kegiatan sosial lainnya, masjid bisa menjadi tempat yang lebih inklusif dan menarik bagi anak muda, sehingga tradisi ini bisa tetap hidup dan berkembang dengan baik.

Bulan suci Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan. Tradisi buka puasa di masjid adalah salah satau cara untuk mendapatkan keberkahan tersebut yang harus kita jaga.

Namun, jangan sampai esensinya tergerus oleh pola pikir konsumtif. Sebagai umat Muslim, kita harus memahami bahwa berbuka di masjid bukan hanya soal makan, tetapi juga tentang kebersamaan, kepedulian, dan ibadah.

Jika kita bisa menjaga nilai-nilai ini, maka tradisi buka puasa di masjid akan terus menjadi bagian yang bermakna dari Ramadan, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.

Jadi, Ramadan ini, apakah kita datang ke masjid untuk mencari makanan atau untuk memperkuat keimanan? Pilihan ada di tangan kita.***