Oleh: Hazairin Sitepu
Fajar memutuskan me-nonaktifkan 20 anak perusahaan. Terhitung 30 September hari ini. Diumumkan oleh direksi Holding kepada para direksi 20 anak perusahaan itu hari Kamis 24 September 2026.
Ini keputusan bisnis paling ekstrem tahun ini. Ekstrem karena me-menon-aktifkan 20 perusahaan sekaligus.
Para direksi 20 perusahaan itu hanya bisa berurai airmata ketika mendengar pengumuman yang disampaikan Direktur Utama Fajar Indonesia Corporindo (holding 20 perusahaan itu) Suardi M.
Ada di antara mereka menawar waktu non-aktif sampai Desember 2026.
"Ditolak. Keputusan sudah bulat. Tetap 30 September," kata seorang direksi anak perusahaan yang hadir.
Mirip ajal manusia, tidak dapat dimajukan dan dimundurkan sedetik pun. Tetap 30 September.
Bagi pemegang saham, keputusan ini memang wajib diambil untuk menghindari kerugian lebih besar. Juga sekaligus merasionalisasi core bisnis perseroan di tengah kelesuan yang semakin lesu.
Indikator-indikator ekonomi Indonesia memang sedang terjun.
Tetapi saya belum tahu persis motif utama penonaktivan ini. Kemungkinan untuk membuat bisnis Fajar lebih realistis di tengah badai besar yang terus menghantam industri media di Indonesia.
Bagi karyawan 20 perusahaan itu, ini keputusan paling menyakitkan hati.
Mereka tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Keluarganya tiba-tiba kehilangan penghasilan. Tetapi pemilik Fajar mungkin saja sudah memikirkan lebih jauh dari apa yang dipikirkan karyawan.
Fajar, atau Harian Fajar, diterbitkan oleh PT Media Fajar. Berkedudukan di Makassar. Didirikan 1 Oktober 1981 oleh (almarhum) H. M. Alwi Hamu.
Komposisi kepemilikan saham sampai dengan 2025: HM Alwi Hamu 32 persen, Jawa Pos 42 persen, PT Fajar Perintis 10 persen, HM Jusuf Kalla 4,7 persen, sisanya Aksa Mahmud, Dorothea Samola, Syamsu Nur, Andi Syaifuddin Makka, dan Zulkifli Gani Ottoh.
Tahun-tahun awal sampai dengan 1990, Fajar memang mengalami kesulitan untuk berkembang. Tahun 1992 mulai menemukan jalan bisnisnya. Setelah itu Fajar kemudian tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan media terbesar di luar Jawa.
Puncaknya ketika membangun gedung berlantai 17: Graha Pena. Beroperasi sebagai gedung perkantoran sejak Oktober 2007. Gedung ini berdiri di atas lahan seluas satu hektar. Ia menjadi salah satu simbol Kota Makassar.
Fajar termasuk kategori perusahaan besar. Memiliki lebih dari 20 anak perusahaan di berbagai kota Indonesia Timur selain Makassar: Kendari, Palu, Ambon, Kupang, Parepare, Palopo, Mamuju, Bone, Bulukumba.
Valuasi aset perseroan pada masa puncaknya saya perkirakan mencapai Rp1 triliun.
Komposisi kepemilikan saham Fajar saat ini mengalami perubahan. Aksa Mahmud menjadi pemilik mayoritas: 52 persen. Komposisi baru ini setelah Aksa membeli saham milik Jawa Pos, Dorothea Samola, Syamsu Nur, Andi Syafiuddin Makka dan Zulkifli Gani Ottoh.
Jawa Pos pada pertengahan 2026 memang melepas seluruh sahamnya di Fajar. Lalu diikuti Dorothea, Syamsu Nur, Andi Syafiuddin, dan Zulkifli.
Industri media di Indonesia sedang melalui fase-fase terjun bebas.
Ada yang terjun di atas laut berbadai bergelombang. Ada yang di tengah hutan rimba yang ada binatang buasnya. Ada pula di gunung berjurang curam.
Sebelum ini beberapa koran besar sudah tutup terlebih dahulu: Harian Republika, Harian Koran Tempo, Harian Sindo, Harian Indopos.
Media-media grup Fajar yang di-non-aktifkan itu antara lain Palopo Pos, Pare Pos, Berita Kota Makassar, Radar Bone, Radar Selatan, Kendari Ekspres, Rakyat Maluku.
Fajar praktis hanya mempertahankan lima medianya: Harian Fajar di Makassar, Radar Sulbar di Mamuju, Kendari Pos di Kendari, dan Timor Ekspres di Kupang.
Apakah yang akan terjadi pada tahap berikutnya, hanya zaman yang menjawabnya.
Non-aktifnya 20 perusahaan media Fajar grup apakah merupakan tanda-tanda zaman bahwa kiamat industri media di Indonesia semakin dekat?
Belum tentu. Tergantung amal-perbuatan pemilik dan pengelolanya.***




