Retno Nagayomi, Arsitek yang Jatuh Cinta pada Kain Nusantara

 

Retno Nagayomi

Ada nilai seni dalam selembar kain. Itu yang membuat Retno Nagayomi jatuh cinta pada segala jenis kain Nusantara. Perempuan 60 tahun tersebut kini memiliki ribuan kain dengan berbagai bahan dan motif.

”INI saya beli cuma tiga ribu (Rp 3.000, Red) lho,’’ ungkap Retno Nagayomi Soedomo sambil mengelus-elus kain berwarna cokelat yang baru saja diambil dari lemari antiknya. Selembar kain batik tulis bercorak daun dan ranting kering itu merupakan salah satu koleksi kesayangannya. Sekilas, kain tersebut biasa saja, seperti batik pada umumnya. Namun, bagi Retno, kain batik Madura itu memiliki makna yang begitu dalam.


”Kain ini saya beli tahun 1980-an dari seorang perajin batik Madura. Saya suka karena saat itu tinggal satu-satunya. Harganya memang murah, tapi saya melihat ada seni di dalamnya,’’ kisahnya.

Semakin lama usia kain tradisional, semakin tinggi nilai seninya. Itu yang membuat Retno amat tertarik dengan berbagai jenis kain Nusantara. Bahkan, ada salah satu kain yang kini berusia 75-an tahun. Kain tersebut diperoleh dari seorang kolektor batik. Bentuknya jarik dengan motif batik khas Solo.

Retno memang sangat tergila-gila pada kain Nusantara. Bukan hanya batik. Kain songket, tenun, dan endek pun menjadi koleksinya. Saking banyaknya, kain-kain tersebut tidak cukup ditempatkan dalam lemari di kamar. Akhirnya, kain-kain koleksi itu disimpan di beberapa lemari di beberapa sudut ruang tamu. Rumahnya jadi mirip museum kain Nusantara. ’’Di kamar sudah full. Saking banyaknya, saya sampai tidak mampu menghitung koleksi saya. Karena terus bertambah,’’ ujarnya.

Menurut perempuan yang tinggal di kawasan Rungkut itu, ada keunikan di setiap lembar kain Nusantara. Retno melihat kain-kain tersebut seperti lukisan ekspresionis yang menggambarkan ekspresi perajinnya.

Misalnya, batik Madura yang mengambil ide dari alam dan tidak memiliki pakem. Tetapi, perajin itu memasukkan satu warna yang kontras sebagai tanda ekspresi. ”Jadi, saya memandang kain Nusantara ini sebagai karya. Karena itu, saya memilih koleksi yang dibuat oleh tangan manusia, bukan mesin (batik cetak),’’ tambahnya.

Kecintaannya terhadap kain Nusantara dimulai sejak kecil. Retno memang gemar melukis dan senang fashion. Pada usia yang masih anak-anak tersebut, dia mulai mendesain busana sendiri dan berburu kain dengan didampingi orang tuanya. Bahkan, kala itu Retno sering membuatkan busana untuk keluarganya.

”Sejak kecil saya suka dengan kain-kain tradisional,’’ kata istri Bambang Sarwono, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), itu.

Dari sekadar hobi mendesain baju, menjahit, dan melukis, Retno akhirnya mulai mengoleksi kain saat kuliah di Jurusan Arsitek ITS pada 1976. Hobi tersebut menggila sejak bekerja di bidang konsultan proyek bangunan. Pekerjaan yang menuntut dirinya berkeliling daerah itu menjadi salah satu cara berburu kain. ’’Kalau sudah selesai tugas, saya selalu sempatkan waktu untuk mendatangi perajin kain tradisional di daerah itu,’’ jelas putri kedelapan di antara 11 bersaudara tersebut.

Retno mengaku telah menjelajahi hampir seluruh daerah di Indonesia untuk berburu kain Nusantara. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Lampung, Banjarmasin, Makassar, Nusa Tenggara Barat, sampai Nusa Tenggara Timur.

Dia merasa asyik dan menikmati setiap perjalanan berburu kain. Selain mendapatkan kain idaman, Retno menyatakan banyak belajar tentang filosofi dan perbedaan berbagai jenis kain dari berbagai daerah. Dia mencontohkan kain tenun rangrang yang sekarang sedang naik daun. Motif kain tersebut berbeda di setiap daerah. Misalnya, motif rangrang Bali yang tenunannya lebih renggang. Untuk rangrang Lombok, tenunannya lebih rapat. ’’Jadi, hampir semua kain yang saya beli ini punya filosofi. Sekaligus saya bisa belajar perbedaan kain-kain Nusantara,’’ ujarnya.

Retno menuturkan, membeli kain langsung kepada perajin memiliki banyak keuntungan. Selain mendapatkan kain handmade yang orisinal, dia sekaligus menghargai karya perajin kain yang kini semakin punah. Bahkan, membeli kain secara langsung kepada perajin justru lebih murah jika dibandingkan dengan yang dijual di toko-toko.

Hingga kini koleksinya terus bertambah. Karena itu, dia memiliki keinginan untuk membuat museum pribadi khusus koleksi kain-kain Nusantara. Menurut dia, kain Nusantara akan menjadi barang bersejarah.

’’Sudah seharusnya menyayangi budaya bangsa,’’ ungkapnya.

Soal harga, Retno tidak bisa menaksir. Apalagi dia tidak berniat menjualnya satu pun. Saking cintanya pada kain-kain Nusantara, Retno hampir setiap malam mewajibkan diri memajang kain-kain tersebut di kamarnya. Bahkan, kain itu kadang dibiarkan tergeletak di kasur atau dielus-elus sebelum tidur. Setelah itu, baru dia bisa tidur dengan nyenyak. ’’Kalau sudah melihat kain-kain saya itu, tidur langsung nyenyak,’’ ujarnya.

Retno menyatakan tidak begitu sulit merawat kain-kain koleksinya yang begitu banyak itu. Kain-kain tersebut cukup dipindahkan dari satu lemari ke lemari lain. Jika senggang, kain-kain itu diangin-anginkan, kemudian diletakkan di lemari antiknya. ’’Sebenarnya, tidak begitu sulit. Pokoknya, harus ada perputaran tempat agar kain tidak lembap,’’ jelasnya.

Bahkan, saat ini Retno suka memadupadankan kain-kain Nusantara dengan batu-batu alam. Menurut dia, kain Nusantara dengan batu alam sangat bersinergi. Keduanya memiliki nilai seni. Bedanya, kain Nusantara merupakan karya seni yang diciptakan tangan manusia. Sementara itu, batu alam adalah karya seni buatan Sang Maha Pencipta. ’’Jadi, setiap berburu kain, saya pasti berburu batu alam,’’ ujarnya.

Hingga saat ini koleksi batu alam miliknya juga mencapai ribuan. Mulai jenis batu kalimaya, bacan, safir, hingga berlian. Batu-batu tersebut diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Agar lebih cantik saat dipadupadankan dengan kain Nusantara, Retno juga mengkreasikan batu alam itu dalam bentuk kalung, cincin, hingga gelang. ’’Saya suka kalau pas pakai baju batik atau tenun dilengkapi aksesori batu-batuan alam. Terkesan cantik dan elegan,’’ tandasnya. (*/c6/ayi)