Minami, Guru Asal Jepang di SMKN 5 Kota Bekasi

Minami

Sejak bulan Oktober 2014 lalu, wanita asal Jepang, bernama Minami diputuskan menjadi pendamping guru bahasa Jepang di SMKN 5 Bekasi. Sayangnya, Minami kesulitan dalam memahami bahasa istilah di Indonesia. Seperti apa?

DENY ISKANDAR, Bekasi

Minami diberikan kepercayaan Japan Foundation untuk menjadi guru pendamping di SMKN 5, Kota Bekasi hingga Juni 2015. Meski waktu hanya sebentar, akan tetapi niat Minami untuk menularkan pendidikan di tanah air sangat besar. Hal itu bisa terlihat saat semangat Minami memamaparkan materi mata pelajarannya di ruang kelas.


Meski sulit menyampaikan bahasa Indonesia dengan pasif, tetapi dia terus berusaha memberikan pemahaman. Ada tiga materi yang harus disampaikan setiap harinya, yakni kebudayaan Jepang, Tarian Jepang, Bahasa Jepang dan Origami. Biasanya, tingkat kesulitan Minami dalam mengajar terletak pada bahasa istilah.

Meskipun sudah belajar bahasa Indonesia sejak tiga bulan yang lalu, hanya saja dirinya kerap kali dibingungkan dengan bahasa yang dipakai siswa di dalam kelas ketika belajar. Padahal, wanita mermata sipit itu mengklaim sudah belajar bahasa indonesia oleh mentornya.

”Saya sebagai guru pendamping bahasa Jepang untuk ekstrakurikuler bahasa Jepang di SMKN 5 Bekasi. Dan saya bertugas menyampaikan kebudayaan Jepang, menari, origami, bahasa Jepang dan sebagainya,” kata Minami dengan bahasa terbata-bata.

Selama Minami memberikan proses pendidikan, ditemukan ada banyak perbedaan antara sekolah di Jepang dan di Indonesia. Di Jepang, seluruh siswa wajib hadir di dalam kelas mulai pukul 08.30 sampai pukul 14.00 siang. Sedangkan di Indonesia mulai pukul 07.00 sampai 12.00.

Selain untuk jam belajar, kata Minami, perbedaan juga ada di jumlah siswa SMK di masing-masing kelas. Untuk jumlah siswa Jepang di ruang kelasnya 40 orang siswa, sedang di Indonesia, dibatasi sampai 36 orang siswa.

”Ditambah lagi, kalau di Jepang sistemnya moving class, berbeda dengan disini,” bebernya.

Meskipun mengaku sulit beradaptasi di bidang bahasa, ada sisi positif yang ditularkan Minami kepada siswa dan guru-guru di SMKN 5 Bekasi.

”Saya berangkat pagi hari naik angkot dan pulangnya dari sekolah ke jalan raya, saya jalan kaki lalu naik angkot kembali ke salah satu apartemen di Kota Bekasi,” paparnya.

Meskipun memiliki waktu mengajar tidak lama, Minami mengaku kerasan mendampingi siswa-siswi di SMKN 5 Bekasi belajar bahasa dan kebudayaan Jepang. Selain keramahan siswanya, dia juga sudah jatuh cinta terhadap kuliner di Kota Bekasi, seperti soto ayam, pangsit, bakso dan jengkol.

”Saya senang disini dan berharap bisa kembali lagi suatu saat nanti,” tandasnya. (ip/kan)