Hans Ferdinand Pieters, ABK dengan Talenta Merias

Hans Ferdinand
Kreativitas dan pantang menyerah. Itulah yang diyakini Hans Ferdinand Pieters. Punya keterbatasan tidak berarti membuatnya tak bisa mandiri. Anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut kini dikenal sebagai salah seorang tukang rias jempolan di Surabaya.

JEMARI itu tampak lincah ketika mengatur model rambut. Sesekali Hans mundur untuk mengamati riasan rambut pelanggannya. Merenung sedikit, tangannya mengukur-ukur di udara, membayangkan seperti apa riasannya. Suasana panik karena tenggat yang tinggal sepuluh menit untuk merias model itu sama sekali tidak memengaruhinya.

Tidak terasa, waktu dua jam berlalu. Tapi, hasilnya sepadan. Hasil riasannya apik, make-up bernuansa pastel dengan riasan rambut yang anggun. Dandanan itu cocok dengan si model yang berbalut busana pengantin Eropa. Berkat tangan dinginnya, dia dinobatkan sebagai talenta spesial dalam Lomba Tata Rias dan Sanggul Pengantin Eropa.

Ketenangannya di atas panggung mungkin berhubungan dengan kekurangannya. Satu sisi telinganya sama sekali tidak bisa mendengar, sementara satu lagi tinggal beberapa persen. ’’Memang seperti itu kondisinya sejak kecil,’’ kata Lucia Maria Pieters.


Lucia merupakan bibi Hans yang tinggal serumah dengan Hans dan ibundanya, Hermien Caroline Pieters. Perempuan yang akrab disapa Lucy tersebut menuturkan, kecurigaan bahwa keponakannya menderita gangguan telinga muncul pada usia dua tahun.

Saat itu Lucy menjentikkan jari di dekat telinga Hans. Tapi, tidak ada respons dari Hans kecil. Menoleh pun tidak. Keluarga bergegas membawanya ke rumah sakit. Sejak itu, Hans menjalani terapi dan pemeriksaan rutin seminggu sekali di rumah sakit di bilangan Karangmenjangan. Hingga akhirnya dia siap masuk TK.

Masa TK hingga SMP dihabiskan pria kelahiran 29 September 1993 tersebut di Sekolah Luar Biasa Karya Mulia Wonokromo. ’’Hans diketahui sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK, Red),’’ tutur Lucia.

Kendati ABK, masa kecil Hans sarat prestasi. Hans meraih juara pertama lomba menggambar tingkat SD se-Surabaya. Hans yang saat itu duduk di kelas I SD menggambar boat tenggelam. ”Waktu itu pemberitaan kapal karam ada di mana-mana. Hampir setiap hari muncul di TV dan koran,” ucap Lucia.

Kapal karam yang dimaksud Lucy adalah peristiwa kecelakaan kapal di perairan Sulawesi Tenggara. Pilihan objek gambar yang nyeleneh itu justru berbuah manis. Karyanya lolos hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.

Sejak memenangi lomba gambar, Hans semakin giat mengasah bakatnya. Berbagai objek sehari-hari digambarnya. Sketsa-sketsa menumpuk di kamar Hans. Mulai yang sekadar coretan asal-asalan hingga yang diwarnai. Kegemaran itu dilanjutkannya hingga menginjak masa SMP. ”Selepas SMP, sekolah menyatakan dia bisa meneruskan ke sekolah reguler,” kenang Lucia.

Saat itu istilah sekolah inklusi di Surabaya belum sepopuler sekarang. Pilihannya hanya dua: SMA Negeri 10 dan SMK Negeri 8. Ibunda Hans memilih pendidikan kejuruan. Hal tersebut didasari keinginan agar Hans bisa mandiri dengan cara memiliki keterampilan. Hermien berharap Hans bisa masuk jurusan tata boga. ”Karena anaknya kan senang makan, paling enggak dia bisa masak sendiri,” tuturnya.

Namun, Hans tidak diperbolehkan masuk jurusan itu dengan alasan keamanan dirinya. SMK Negeri 8 Surabaya memberikan opsi tata kecantikan rambut. Pilihan tersebut dinilai lebih pas karena tidak melibatkan api dan benda-benda tajam. Ternyata, jurusan itu memang membawa Hans mengembangkan bakatnya. Dia melanjutkan pendidikan di Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya mulai 2012. Jurusan tata rias yang kini tengah ditempuhnya mengenalkan dia pada dunia baru. ”Buat Hans, tata rias itu seperti menggambar. Tapi, di muka orang,” kata Lucy.

Bakat menggambar yang dimiliki sejak kecil kian terasah. Jika dulu tertarik menggambar objek, kini dia lebih berfokus ke sketsa wajah. Lengkap dengan detail dan warna-warni indah di mata, pipi, dan bibir. ”Hasil make-up-nya sempat ditaksir merek kosmetik ternama,” ucap Hermien.

Namun, dia mengaku belum ada kelanjutan dari label tersebut. Selain dilirik lini tata rias profesional, Hans juga mengantongi gelar talenta spesial dalam Lomba Tata Rias dan Sanggul Pengantin Eropa yang diselenggarakan kampusnya. Dia juga menjadi satu-satunya lelaki di ajang adu keterampilan tersebut.

Untuk masalah sosial, Hans kecil ternyata tidak minder dengan kekurangannya. Dia percaya diri dan tidak mengalami kesulitan bergaul dengan teman-temannya. Begitu pula halnya dengan pelajaran-pelajaran di sekolah. Meski prestasi akademisnya tergolong biasa, Hans punya kemauan belajar yang kuat.

Salah seorang dosen jurusan tata rias Diana Evawati SPd MKes menjelaskan, Hans merupakan mahasiswa yang rajin. ”Meski punya keterbatasan, dia tidak punya masalah dengan nilai praktik. Namun, akademisnya memang agak kalah dibanding temannya,” tutur Diana.

Dia terkesan dengan kegigihan mahasiswanya itu dalam mengejar materi. Jika tidak mengerti, Hans akan menemui dosennya setelah kelas berakhir. Menjelaskan memang menjadi pekerjaan rumah bagi guru, dosen, dan keluarga Hans. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya mengejar penjelasan yang memuaskan. Sayang, kosakata pria penyuka aplikasi grafis tersebut terbatas. Mereka pun harus menyederhanakan penjelasan agar Hans paham dan puas.

Saat diwawancarai, Hans memang bisa bercerita sedikit-sedikit dengan bahasa yang terpatah-patah. Untuk itulah, sang bunda dan bibinya ikut membantu menjelaskan. Berkuliah di jurusan tata rias tidak membuat Hans berubah. Dia tetaplah seorang pria, tanpa gerak-gerik yang kemayu atau tutur kata yang dilebih-lebihkan. Bahkan, di tengah keterbatasannya, Hans mandiri dan tidak merepotkan orang lain. Satu-satunya mahasiswa pria di angkatannya itu mengendarai motor untuk mempermudah mobilitasnya.

Karena pendengarannya kurang, Hans tidak jarang mengalami kendala selama berkendara. ”Pernah waktu itu ditilang di daerah Wonokromo, dia malah bangga karena sempat terekam televisi,” ujar Hermien.

Harapan Hermien dan Lucy, Hans bisa survive. Dia tidak boleh manja dan bergantung pada orang lain meski memiliki keterbatasan. ”Semoga dengan bakat dan apa yang dipunyai sekarang, Hans bisa jadi pria yang berguna. Mandiri seperti sekarang,” harap sang ibunda. (*/c6/ayi)