Cerita Menyentuh Sari Darmarani, Pilot ROV yang Terlibat Misi SAR AirAsia

SARI-DARMARANI-3

Banyak pujian yang diberikan kepada tim gabungan pencarian dan penyelamatan korban tragedi AirAsia QZ8501. Di balik tim hebat itu, terselip perempuan yang memiliki peran penting. Dialah Sari Darmarani, penyelam profesional yang bertugas mengendalikan perangkat ROV (remotely operated vehicle).

Laporan Gunawan Sutanto, Jakarta

KAPAL Geosurvey merapat di Dermaga 002, Inggom Jetty, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/1). Lebih dari dua pekan kapal itu terlibat misi pencarian dan penyelamatan AirAsia QZ8501 yang jatuh di sekitar Selat Karimata. Kapal tersebut sangat berperan karena mengusung peranti ROV, sebuah robot yang berfungsi seperti kapal selam otomatis.


Peranti ROV di Geosurvey itulah yang beberapa kali membantu tim gabungan Basarnas mendeteksi bagian-bagian pesawat AirAsia di dasar laut. Orang yang mengoperasikan alat itu biasa disebut pilot. Di Geosurvey, ada seorang pilot perempuan yang bertugas mengoperasikan alat canggih tersebut. Dialah Sari Darmarani.

Siang itu, raut lelah tergores di wajah Sari. Namun, di antara muka letih itu, terselip pula rasa plong yang tidak bisa disembunyikan. Sebab, misi SAR pertama dengan tantangan yang cukup berat akhirnya berhasil dijalani Sari bersama timnya.

’’Lega rasanya. Sebagai manusia, tentu saya dihanyuti kebosanan dan pasti kangen keluarga,’’ ujar ibu tiga anak tersebut.

Keterlibatan Sari dalam misi itu memang cukup mendadak. Dia bahkan tidak sempat membawa telepon satelit yang selama ini dibawa saat mengerjakan proyek penelitian lepas pantai.

Di tengah menghapus kerinduan kepada suami dan tiga anaknya, Sari menyempatkan berbagi pengalaman selama terlibat dalam operasi SAR AirAsia. Sebelumnya, dia tidak menyangka akan terlibat misi tersebut. ’’Waktu lihat berita di TV, memang sempat miris juga. Kasihan sama penumpang dan keluarganya,’’ ungkap perempuan kelahiran 18 Mei 1979 itu.

Tanpa disangka, Selasa pagi (30/1), dua hari setelah AirAsia QZ8501 dinyatakan hilang, tiba-tiba ponsel Sari berdering. PT Advanced Offshore Services (AOS) tempat Sari bekerja freelance memintanya menyiapkan ROV untuk dilibatkan dalam misi SAR AirAsia.

’’Perintahnya, pukul 7 keesokan harinya (31/1) perangkat sudah harus siap onboard di Tanjung Priok,’’ terangnya.

Mendapat tugas itu, perasaan Sari campur aduk antara tertantang dan khawatir gagal. Sebab, dari informasi yang diperoleh, cuaca di lokasi kejadian sangat tidak bersahabat. Ombak hebat kerap menerjang.

Informasi yang diterima Sari waktu itu, cuaca buruk terjadi di sekitar Selat Karimata hingga 6 Januari. Bahkan, kapal nelayan dilarang melaut karena ketinggian ombak mencapai 2–5 meter. ’’Sempat ngeri. Ada kekhawatiran gagal. Tapi, juga ada rasa tertantang karena tidak tega melihat wajah-wajah keluarga korban,’’ ucapnya.

Rasa tertantang itulah yang membuat kaki Sari akhirnya langsung melangkah ke workshop PT AOS di kawasan Srengseng, Ciganjur, Jakarta, untuk menyiapkan ROV. Semalam suntuk dia dan seorang teknisi bernama Hendra Setiawan menyiapkan robot bawah laut itu.

Sari dan Hendra sampai tidak tidur karena pukul 05.00 harus sudah ke Tanjung Priok. ’’Kami hanya punya waktu 18 jam untuk mempersiapkan semuanya, mulai alat sampai perizinannya,’’ terangnya. Menurut Sari, itu adalah proses mobilisasi ROV tercepat yang pernah mereka lakukan. Bahkan mungkin untuk semua pilot ROV di Indonesia.

Sesampai di Tanjung Priok, dia masih bingung dengan proyek kemanusiaan tersebut. ’’Yang saya tahu, proyek ini bagian dari CSR (corporate social responsibility) tujuh perusahaan survei dan subsea engineering. Tapi, dengan siapa saya akan bekerja, saat itu saya belum tahu,’’ paparnya.

Misi yang diemban Sari dan tim di kapal Geosurvey waktu itu adalah mencari bagian pesawat. Sebab, saat Geosurvey berangkat untuk bergabung dalam tim gabungan Basarnas, yang ditemukan baru beberapa jenazah yang mengambang di laut.

Awalnya, Geosurvey menargetkan bergabung dalam misi itu selama tujuh hari. Namun, ternyata operasi molor hingga total 17 hari. ’’Kami bertugas mendeteksi sebagian besar bagian pesawat. Titik-titik koordinatnya kami serahkan ke Basarnas untuk mengeksekusi,’’ terang istri Aif Syaifudin tersebut.

Meski molor, Sari menyebut waktu 17 hari itu terbilang efisien untuk operasi pencarian pesawat yang hilang. ’’Dalam kurun waktu itu, alhamdulillah saya dan tim bisa mendeteksi, bahkan menemukan beberapa bagian pesawat. Mulai ekor, kursi, jendela, serta bagian badan pesawat beserta sayapnya,’’ ungkapnya.

Dari penemuan ekor itulah, akhirnya bisa dilacak dan didapatkan radius terpisahnya flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR). Dua perangkat tersebut merupakan peranti penting dalam kotak hitam, benda paling dicari dalam investigasi kecelakaan pesawat.

Selama 17 hari bekerja dalam tim pencarian, Sari terus kepikiran keluarga korban. Dia khawatir upayanya bersama tim tidak sesuai dengan harapan keluarga korban. ’’Mereka tahunya kan kami terlibat dalam tim gabungan untuk mencari korban. Padahal, tugas utama kami adalah mendeteksi badan pesawat. Itulah yang kerap menjadi tekanan buat kami,’’ tuturnya.

Untungnya, selama proses itu, Sari dan tim juga berhasil menemukan dan mengevakuasi jenazah. Saat itu, pada hari pencarian ke-13, Geosurvey berhasil menemukan dan mengevakuasi dua jenazah yang masih terlilit di kursi penumpang.

Penemuan itu cukup menyayat hati. Sebab, salah satu jenazah masih mengenakan gendongan bayi. Belakangan, dari hasil identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI), dua jenazah itu merupakan suami istri asal Korea, Seong Beom-park, 37, dan Kyung Hwa-lee, 34. Saat berangkat dari Surabaya menuju Singapura, pasangan itu membawa bayinya yang masih berusia 11 bulan.

Terlepas dari perasaan ngeri, kata Sari, dirinya sangat terharu melihat dua jenazah tersebut. ’’Kejadian itu mengingatkan saya pada istilah till death do us apart. Ternyata, kalau Tuhan berkehendak, mati pun kita bisa terus berdua dengan pasangan kita,’’ ungkapnya.

Selama menjalankan misi pencarian, lawan terberat yang harus dihadapi tim di kapal Geosurvey adalah cuaca. Tingginya ombak yang bisa mencapai 5 meter membuat barang-barang di kapal mudah berpindah dan saling bertabrakan. ’’Itulah yang harus kami jaga. Jangan sampai alat-alat saling berjatuhan dan bertabrakan. Kalau orang-orangnya yang jatuh, tidak masalah,’’ ujarnya lantas tertawa kecil.

BACA BERITA TERKAIT:

Tragedi AirAsia

Molornya misi pencarian juga meninggalkan cerita-cerita seru bagi Sari. Logistik yang dipersiapkan timnya waktu itu sempat habis karena jatahnya hanya untuk tujuh hari. Untungnya, mereka mendapat suplai beberapa logistik dari helikopter. Mulai air bersih dan makanan. ’’Yang tidak bisa didapat itu rokok. Teman-teman yang merokok mulai barter harga diri demi sebatang rokok,’’ ujarnya berkelakar.

Dunia pilot ROV sebenarnya merupakan profesi banting setir yang dilakukan Sari. Sebelumnya, dia dikenal sebagai penyelam profesional untuk proyek bawah laut. Dia menekuni profesi pilot ROV setelah mengalami kecelakaan yang khas dialami para penyelam, yakni dekompresi.

Pada 2009, Sari mengalami decompression illness dari kedalaman 53 meter dengan trimix gas. Akibat kejadian itu, Sari harus menjalani treatment chamber diving, terapi khusus selama lima hari berturut-turut, di RSAL Mintohardjo, Jakarta. Sekali treatment butuh waktu 2,5 jam.

’’Sejak itu, saya pilih-pilih untuk menerima pekerjaan menyelam,’’ ungkapnya.

Dia merasa masih ada orang-orang yang disayanginya yang harus dilindungi, yakni tiga anaknya. ’’Namun, jiwa adventure saya akhirnya membuat saya tetap menerjuni dunia selam. Akhirnya saya putuskan untuk menjadi pilot ROV,’’ jelasnya.

Pada 2010, Sari mulai mengikuti Subnet Services Training di Filipina. ’’Sebenarnya sekarang saya masih sering nyelam. Tapi, memang dominan menerima job pengoperasian ROV,’’ ujarnya.

Menurut dia, ROV dan diving merupakan cabang substansi pekerjaan ’’subsea’’. Perbedaannya, diving dikatakan menyelam basah, sedangkan mengoperasikan ROV biasa diistilahkan penyelaman kering.

Untuk menjadi pilot ROV, Sari sempat menjadi tenaga magang gratis di Filipina hanya untuk mencari jam terbang. Namun, pada 2011, dia sudah mendapat proyek-proyek profesional. Salah satunya menginspeksi kapal tanker.

Meski berat, Sari tertantang jika ada panggilan lagi untuk terlibat dalam misi SAR bawah laut. Dia siap terlibat jika memang misi tersebut didukung peralatan tepat guna. ’’Dari misi kemarin, sebenarnya kami tim gabungan sudah bisa menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara maritim bisa mencari jarum di antara tumpukan jerami,’’ tegasnya.

Pada 2009, Sari sebenarnya juga terlibat dalam misi SAR. Waktu itu, dia sempat mengevakuasi satu jenazah yang meninggal karena snorkeling di Pulau Wangi-Wangi, Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dia terlibat dalam evakuasi sampai pengiriman jenazah korban ke Surabaya. (*/c5/sof)