Perjuangan Silviana Putri Damayanti Berganti Status Kelamin Menjadi Laki-Laki

LAWU-Vivi-ganti-k
MAHIR: Vivi pintar memainkan bola sepak. Giringannya bagus dan tendangannya jitu. (Loditya Fernandez/Radar Madiun)

Hidup Silviana Putri Damayanti mendadak berubah frontal. Status perempuan yang selama 15 tahun diembannya mulai 20 Januari lalu berganti menjadi laki-laki. Dia pun merasakan kebahagiaan tak terkira.

Laporan Loditya Fernandez – Eko S, Ngawi

DENGAN mahir Silviana Putri Damayanti memainkan bola sepak dengan kaki dan kepalanya. Remaja asal Desa Grudo, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu memang penggemar sepak bola. Bila bermain di lapangan, gerakannya lincah dan gesit.

Tapi, sore itu dia tampak hati-hati saat mendribel atau menyundul bola. “Soalnya habis operasi, jadi tidak berani neko-neko,” ujar Vivi –panggilan Silviana– saat ditemui Jawa Pos Radar Madiun di rumah orang tuanya, Senin (26/1).


Ya, pada 20 Januari lalu putra pasangan Suwito-Paini tersebut sukses menjalani rekonstruksi kelamin di RSUD dr Soeroto Ngawi. Jenis kelaminnya yang selama ini “kurang jelas” direkonstruksi menjadi “jelas”. Yakni laki-laki. Maka, sejak itu pula dia berhak menyandang status baru sebagai laki-laki tulen.

Operasi dilakukan karena alat vital Vivi mengalami kelainan hipospadia. Yakni, ada kecenderungan mirip perempuan, padahal sebenarnya laki-laki. “(Operasi) ini sudah lama saya tunggu-tunggu. Karena sebenarnya saya itu laki-laki, bukan perempuan,” ujar penggemar grup band Endank Soekamti dan Slank tersebut.

Selama 15 tahun Vivi hidup dengan status perempuan. Sebab, sejak lahir pada 10 Desember 1999, dia dinyatakan sebagai perempuan oleh bidan yang membantu proses kelahirannya. Alat kelaminnya semasa bayi memang cenderung mirip perempuan. Sehingga di akta kelahiran maupun kartu keluarga (KK) dia tercatat dengan status jenis kelamin perempuan.

“Sekarang saya lebih tenang dengan status (laki-laki) ini. Selama ini jiwa saya berontak. Wong saya laki-laki kok dibilang perempuan,” ujar Vivi yang kini punya nama baru Rahmat Nur Hidayat.

Saat masih berstatus perempuan, Vivi tidak sreg bila berkumpul dengan teman-teman perempuannya. Karena itu, dia sering meninggalkan teman-teman ceweknya yang bermain ke rumah. Dia lebih senang bergaul dengan teman-teman laki-lakinya di lapangan sepak bola atau bermain layang-layang. Soal dandanan, dia pun lebih sering memakai kaus oblong daripada rok.

“Saat mengenakan pakaian perempuan, sebenarnya saya malu. Misalnya, saat kelas VII saya disuruh menjadi putri domas. Saya benar-benar terpaksa,” kenangnya lantas tertawa.

Paini, sang ibu, ternyata juga menyambut gembira status baru anaknya itu. Momentum perubahan status tersebut memang sudah lama dia nanti-nantikan. Tapi, pihak keluarga baru memberanikan diri memeriksakan Vivi ke dokter setelah mendapat saran dan masukan dari pihak sekolah. Saat ini Vivi tercatat sebagai siswa kelas VIII SMP Negeri (SMPN) 3 Ngawi. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pak Munir (Kepala SMPN 3 Ngawi Darorul Munir, Red),” ungkapnya.

Kata Paini, pihak sekolah secara intens membantu mengomunikasikan kondisi anaknya ke Puskesmas Pembantu (Pustu) Watualang, Ngawi, dan RSUD dr Soeroto. Bahkan, beberapa kali pihak sekolah datang ke rumah untuk memberikan dorongan moral kepada keluarga agar Vivi segera diperiksakan ke dokter khusus. Itu terjadi setelah Hartati, guru bahasa Indonesia SMPN 3 Ngawi, merasa prihatin atas kondisi Vivi yang terlihat lebih laki-laki daripada statusnya sebagai perempuan.

“Kata gurunya itu, Vivi sudah dicek, dadanya rata. Suaranya juga seperti laki-laki dan maunya hanya bermain dengan teman laki-laki,” paparnya.

Paini menerangkan, Vivi lahir prematur di usia kandungan tujuh bulan. Proses persalinannya dibantu bidan desa. Semula sang bidan bingung melihat kondisi alat kelamin bayi mungil itu. Sebab, ada kecenderungan seperti alat kelamin perempuan. Maka, sang bidan lalu menyimpulkan bahwa bayi tersebut perempuan.

“Saat lahir, alat kelaminnya memang tidak seperti punya laki-laki. Saat itu di alat kelaminnya dikira ada daging tumbuh biasa. Makanya kemudian di akta dan kartu keluarga anak saya berstatus perempuan,” cerita Paini.

Saat Vivi berusia delapan bulan, Paini bekerja di Surabaya. Nah, selama sang ibu di perantauan, Vivi hidup bersama Parni, neneknya. Vivi pun “tumbuh” menjadi perempuan. Sejak kecil diperlakukan sebagai perempuan, mulai pakaian hingga dandanannya.

Namun, kejanggalan mulai terlihat ketika anak pertama Paini itu menginjak SD. Dia lebih senang bermain dengan laki-laki daripada dengan perempuan. Tingkah lakunya juga demikian. Meski setiap hari tetap didandani perempuan.

“Saat SMP dia mulai tidak mau mengenakan seragam perempuan bila olahraga. Akhirnya, setelah dicek alat kelaminnya, Vivi memang laki-laki. Sejak itu gurunya mendorong agar Vivi diperiksakan ke dokter,” papar Paini.

Berdasar keterangan dokter, Paini menyatakan, pada 20 Januari lalu anaknya menjalani operasi tahap pertama rekonstruksi alat kelamin di RSUD dr Soeroto Ngawi. ”Alhamdulillah, operasi berjalan lancar dan kata dokter sukses,” tuturnya.

Begitu operasi selesai, Vivi mendapat hadiah nama baru dari salah seorang dokter yang merawatnya. Yakni, Rahmat sebagai ucapan rasa syukur atas keberhasilan operasi itu. ”Tapi, kami juga sudah menyiapkan nama baru, Nur Hidayat. Maka, ya sudah, kami gabung saja menjadi Rahmat Nur Hidayat,” jelasnya.

dukungan_terhadap_
DUKUNGAN: Guru dan teman-teman sekolahnya di SMPN 3 Ngawi memberi semangat Vivi. (Loditya Fernandez/Radar Madiun)

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Ngawi Darorul Munir menuturkan, perubahan besar Vivi tersebut tidak lepas dari peran Hartati, guru bahasa Indonesia. Ceritanya, saat istirahat, guru yang mengajar di kelas VII itu terlibat obrolan serius dengan Vivi. Terutama soal tingkah polah Vivi yang cenderung tomboi. Hartati pun iba dan terharu setiap bertemu muridnya yang ”ganteng” tersebut.

”Bu Hartati biasanya lalu memeluk Vivi. Nah, saat memeluk itu, Bu Hartati merasa heran kok dada Vivi rata, tidak ada tonjolan (payudara, Red) sama sekali, padahal usianya sudah hampir 15 tahun,” ungkapnya.

Selanjutnya, Hartati melapor kepada Munir. Mantan kepala SMPN 6 Ngawi itu shock dan memilih membentuk tim untuk meneliti lebih jauh perilaku Vivi. Sebab, dia tidak ingin kondisi tersebut membuat Vivi terjerumus ke kelompok minoritas dan kekeliruan identitas. ”Alhamdulillah, pihak keluarga terbuka dan menerima masukan kami,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, dr Aji Rahmad Sp BA, anggota tim dokter RSUD dr Soeroto yang menangani operasi Vivi, menegaskan bahwa pasiennya itu bukan berkelamin ganda. Namun, dia mengalami kelainan hipospadia. Hal itu terjadi karena lubang kencingnya berada di antara skortum, bukan di ujung alat kelamin. Selain itu, alat kelaminnya melengkung karena adanya jeratan kulit. Karena itu, saat Vivi baru lahir dulu, orang awam menilai alat kelaminnya terlihat lebih mirip alat kelamin perempuan daripada laki-laki.

”Skortumnya terbelah menjadi dua dan ada lubang di bagian tengahnya sehingga ketika bayi cenderung seperti perempuan,” jelasnya.

Operasi pertama rekonstruksi alat kelamin Vivi berupa pembentukan alat kelamin laki-laki. Proses operasi memakan waktu dua jam karena tingkat kerumitannya cukup tinggi. Sebab, penis si pasien sudah menempel di zakarnya dan terikat korda sehingga melengkung hampir 90 derajat. Dokter melakukan restrukturisasi untuk memosisikan penis pasien secara normal. ”Operasi tahap pertama, kami melepas kordanya karena ini mengalami kelainan bawaan,” ujarnya.

Dia menambahkan, Vivi alias Rahmat perlu menjalani dua operasi lagi agar alat kelaminnya sempurna. Pada operasi tahap kedua, bakal dilakukan scrotoplasti. Berdasar rencana, operasi dilakukan Februari nanti. Dalam operasi tersebut, tim dokter RSUD dr Soeroto bakal menormalkan skortum atau zakar pasien. Sebab, kantong zakar terlalu tertarik ke atas hingga seolah penis pasien berada di tengah-tengah buah zakar. Selain itu, ukuran testis antara sebelah kiri dan sebelah kanan terlalu berbeda jauh.

”Ukuran testis sebelah kiri normal, sedangkan yang sebelah kanan terlalu besar. Perbandingannya 1:3,” jelasnya.

Aji menambahkan, secara medis, Vivi alias Rahmat memang condong ke laki-laki. Sebab, dia mendapati tanda-tanda sekunder pada remaja 15 tahun itu. Dia justru tidak menemukan tanda-tanda sekunder seorang perempuan. Salah satunya masa menstruasi. Meski begitu, dia memuji kondisi psikologis pasien yang tetap terlihat tegar dan bersemangat.

”Secara klinis lebih condong ke laki-laki dan orang awam melihat dia laki-laki, bukan perempuan,” katanya.

Aji menandaskan, operasi tahap ketiga berupa uretroplasti, yakni membuat saluran kencing. Dari saluran kencing saat ini hingga ke ujung penis. Pihaknya sudah menyiapkan kulit kulup penis pasien untuk membuat saluran itu. ”Dimungkinkan Juli nanti operasi tahap terakhir dan itu lebih rumit karena memakan waktu lebih lama,” ungkapnya. (*/c9/ari)