Rukman, Lulusan SD yang Peduli Lingkungan dan Juara Nasional Pekerja Sosial Masyarakat

Rukman
Rukman memang hanya lulusan SD. Tapi, pria 40 tahun itu memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Berkat sumbangsihnya pada lingkungan sekitar, warga Sambikerep tersebut menjadi juara pertama tingkat nasional sebagai Pekerja Sosial Masyarakat (PSM).

Laporan Priska Birahy, Surabaya

NAMA Rukman memang belum terkenal. Maklum, sosoknya biasa saja, malah cenderung bersahaja. Dia bukan orang berpangkat atau berpundi tebal. Tapi, kiprahnya membuat warga RT 3, RW 4, Sambikerep, Surabaya, Jawa Timur itu terbebas dari kekumuhan dan kemiskinan.

Sekitar 20 tahun lalu, lingkungan tempat tinggal Rukman terbilang sangat kumuh. Simbol kemiskinan terlihat di mana-mana. Beberapa tetangganya bahkan tak punya jamban yang layak. Rata-rata jamban warga dibuat dengan lubang tanpa saluran pembuangan. Bisa dibayangkan, saat kotoran menumpuk, jamban meluap. Maklum, kala itu hidup begitu susah. Jangankan untuk membuat jamban, uang untuk makan pun sulit didapat.


”Dulu warga sini BAB (buang air besar, Red)-nya masih di jamban tanpa saluran. Jorok dan bikin mereka sakit kulit,” kata Rukman. Suatu ketika Rukman mengingatkan tetangga tentang pentingnya membangun jamban yang baik. Namun, jawaban tetangganya terkesan pasrah. ”Katanya (warga, Red) mau gimana lagi. Lha wong nasibnya begini,” papar Rukman yang menirukan ucapan warga.

Rukman sangat memahami sikap warga. Sebab, dia juga berasal dari keluarga pas-pasan. Keterbatasan biaya pula yang membuat Rukman putus sekolah. Dia kini hanya mengantongi ijazah dari SDN Sambikerep.

Meski demikian, pria kelahiran 1 September 1975 itu tidak putus asa. Dia tetap ingin mengajak warganya meninggalkan kekumuhan. Kemiskinan dan sikap pasrah warga justru memantiknya untuk berkarya. Bermodal keyakinan dan skill komunikasi yang baik, pria yang hobi membaca itu mencari sponsor. Dia memaparkan kondisi lingkungannya ke berbagai kalangan. Empat tahun Rukman berjuang ke sana kemari.

Akhirnya pada 1998 ada NGO (non government organization, semacam lembaga swadaya masyarakat) yang bersedia mendanai program jamban sehat di Sambikerep. Berkat bantuan dana tersebut, 164 warga bisa memiliki jamban yang layak. Mereka mulai terbebas dari kekumuhan.

Namun, Rukman belum puas. Setelah jamban sehat terwujud, ide baru kembali muncul. Dia ingin menghilangkan kemiskinan dari lingkungannya. Caranya dengan memberdayakan ibu-ibu yang selama ini hanya duduk-duduk di rumah. Dia mengajak ibu-ibu untuk menyisihkan uang belanja Rp 500 per bulan. Uang itu lantas dijadikan modal untuk mendirikan koperasi. Namun, jangan bayangkan koperasi itu dikelola modern layaknya koperasi saat ini. Saat itu tujuan pendirian koperasi tersebut sangat sederhana. Yakni, membantu warga bila sewaktu-waktu membutuhkan uang. Semula koperasi itu hanya beranggota tujuh orang. Lambat laun anggota bertambah banyak. Kini jumlah anggota koperasi bernama Bengawan itu mencapai 50 orang. ’’Uang kas koperasi kini sekitar Rp 50 juta,’’ terang Rukman.

Dia lantas mengambil sebuah buku di dalam lemari kamar. Itulah buku kas yang mencatat perputaran uang sejak 1997. Belakangan, buku tersebut menjadi salah satu poin yang dinilai tim juri lomba PSM. Rukman membuka lembar demi lembar buku itu sambil menjelaskan perputaran uang koperasinya. Dia lalu menceritakan mengenai lomba PSM. Menurut dia, tim juri turun langsung ke Sambikerep untuk sidak.

”Mereka bertanya ke anggota koperasi dan melihat pembukuan. Dari situ mereka tahu bahwa binaan saya masih aktif sampai sekarang,” katanya.

Rukman juga mengajak para pria untuk mendirikan Koperasi Mandiri. Bedanya, setorannya lebih banyak, yakni Rp 10 ribu per bulan. Hingga kini, uang kas yang terkumpul sekitar Rp 90 juta. Koperasinya terus tumbuh dengan sehat. Anggota yang membutuhkan modal usaha bisa meminjam uang di koperasi tersebut.

Selain mendirikan koperasi, Rukman kini memiliki usaha katering yang cukup sukses. Ada kisah menarik tentang awal mula usaha katering tersebut. Rukman mengisahkan, pada 2011 terjadi kebakaran hebat di Kalianak. Sebanyak 21 rumah menjadi abu. Warga pun kehilangan materi yang tidak sedikit. Persediaan makanan juga habis. Para korban kebakaran tidak bisa memasak. Saat itulah Rukman masuk. Dia menawarkan makanan dengan harga miring. ”Saya mengajak tiga ibu penjual cilok buat bikin katering. Pelanggan pertama kami ya 21 korban kebakaran itu,’’ terangnya.

Ternyata menu dan harga masakan Rukman cocok bagi warga. Akhirnya, perlahan-lahan jumlah pelanggannya bertambah. Usaha katering itu pun semakin berkembang. Agar layanan semakin profesional, ibu-ibu diikutkan pelatihan tentang cara penyajian makanan dan buffet. Instrukturnya adalah seorang manager food and beverage hotel bintang lima di Surabaya. ”Ya, semua baru belajar dan baru tahu. Ada attitude untuk memegang piring, membuang sisa makanan, hingga cara berbicara,” jelas pria yang tiga bulan sekali memberikan sembako untuk 40 keluarga miskin itu.

Kiprahnya sebagai pekerja sosial juga merambah dunia seni. Anak muda di lingkungan RW- nya yang menganggur diajak berkarya. Beberapa anak muda yang punya talenta musik diajak membentuk grup band. Akhirnya terbentuklah V-Five Band. ”Daripada nyanyi enggak jelas, akhirnya saya bina biar lebih kreatif. Ya itu juga seadanya karena saya juga nggak begitu tahu soal alat musik,” papar penyuka lagu dangdut itu. Perlahan-lahan, grup musik tersebut semakin terkenal. Tawaran manggung di acara pernikahan maupun kafe berdatangan.

Rukman kini dikenal sebagai pembentuk dan penggerak 16 kelompok swadaya masyarakat. Dia juga mampu memberikan beasiswa pendidikan untuk 72 siswa TK hingga SMP.

Kiprahnya sebagai aktivis sosial akhirnya terdengar hingga Jakarta. Pada Oktober 2014, dia diundang ke Jambi untuk menerima penghargaan sebagai Pekerja Sosial Masyarakat dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. (*/c7/oni)