Budinuryanta Yohannes, Dosen yang 17 Tahun Serbahitam

Budinuryanta Yohannes

Sejak dua mahasiswanya tertabrak kereta api (KA) sekitar akhir 1990-an, hidup dosen Universitas Negeri Surabaya Budinuryanta Yohannes berubah. Sejak itu, dia memakai pakaian serbahitam sebagai tanda penghormatan.
Laporan Farid S. Maulana, Surabaya
TIAP mengingat headline surat kabar yang berjudul Gara-gara Mau Ikut Kuliah Logika Bahasa, Dua Mahasiswa Tewas Tertabrak Kereta, tiap itu pula dada Budinuryanta Yohannes berdenyut. Dua mahasiswa tersebut ditulis tengah memburu waktu untuk ikut kuliahnya dan sangat mungkin melanggar palang pintu lintasan KA.

Budi memang menerapkan disiplin ketat di ruang kelasnya. Maksimal, mahasiswa hanya mendapat 15 menit toleransi keterlambatan. Lewat tenggat itu, mahasiswa tidak boleh masuk. Sebuah aturan yang sebenarnya wajar-wajar saja. Tapi, insiden kecelakaan itu mengubah hidupnya. ’’Saya memakai pakaian hitam bukan karena saya bersalah, tapi untuk mengenang dua mahasiswa saya,’’ tegasnya.

Yang membuatnya terkenang adalah Arif, nama salah seorang mahasiswa yang tewas tertabrak KA tersebut. Budi mengaku tidak tahu nama lengkapnya. Tapi, dia hanya mengenang sifat mahasiswa itu sama dengan namanya. Yakni, Arif. ’’Dia koordinator di kelas saya,’’ ucapnya.


Menurut Budi, sebenarnya rute Arif ke kampus tidak melewati rel KA tersebut. Tapi, dia harus menjemput temannya. ’’Saya dengar cerita dari mahasiswa saya, temannya si Arif ini tengah banyak masalah. Bahkan, sudah memutuskan berhenti kuliah,’’ terangnya.

Namun, Arif tidak ingin temannya menyerah. Bahkan, dia mau mengalah untuk menjemput temannya tersebut. Hingga, pada hari nahas itu, Arif bersama temannya yang bermasalah itu. Buah pengorbanan itu membuat hidupnya berakhir. ’’Menurut saya, itu kematian yang mulia. Saya sangat hormat dengannya,’’ terangnya.

Lantas, Budi yang, tampaknya, masih emosional dengan judul headline tersebut berceletuk. ’’Coba kalau tahu ceritanya, pasti nulisnya tidak seperti itu. Kenapa malah nyalahin saya,’’ tambahnya dengan nada meninggi.

Sejak kejadian tersebut, pria yang tinggal di daerah Karah itu memakai semua hal yang berwarna hitam. Sebagai rasa kehilangan dan kesedihan, bukan penyesalan. Budi tidak ingin pakaian hitam yang dikenakan itu membuat orang mengingat kejadian yang justru sangat ingin dia hapus dari lembaran hidupnya tersebut.

Tapi, tetap saja banyak orang yang mengaitkan kematian dua mahasiswanya itu dengan dirinya. Terutama opini koran yang dianggapnya sangat menyesatkan tersebut. Bahwa dua mahasiswa itu meninggal karena kedisiplinannya menerapkan aturan perkuliahan. Dua hal yang sebenarnya tidak berkaitan.

Budi sendiri mengaku tidak ingat dan tak mau mengingat kejadian nahas tersebut. Dia tak ingin mengingat luka yang sangat membekas dan rasa marah terhadap surat kabar yang seakan-akan memojokkan dirinya.

Menurut Budi, hitam yang selalu dia kenakan hanyalah sebuah simbol. Dirinya tidak peduli tentang apa yang orang pikirkan mengenai pakaian serbahitam tersebut. Menurut dia, penafsiran setiap orang mengenai sebuah simbol berbeda-beda.

’’Terserah orang mau melukiskan saya seperti apa. Tapi, yang pasti hitam yang saya pakai adalah sebuah cerita pribadi milik saya, pertanggungjawaban saya dengan Tuhan,’’ ungkapnya.

’’Saya tidak suka, ketika mahasiswa saya sudah mendengar kabar semacam ini, mereka justru melihat saya sebagai orang yang depresi. Saya tekankan lagi, saya tetap Budi yang tegas dan disiplin seperti dulu,’’ jelasnya.

Pria yang memang dikenal sebagai simbol pemberontakan di kalangan dosen Unesa tersebut berharap mahasiswanya bisa mencontoh mereka yang sukses berkat didikan kerasnya. Pendidikan dan kedisiplinan, menurut Budi, adalah sebuah kewajiban yang harus dimiliki mereka yang berjiwa pengajar. ’’Pendidikan itu memaksa kita untuk maju, tentu dengan garis kasih yang benar,’’ ujarnya.

Budi menganggap pakaian serbahitam tersebut juga menjadi tanda bahwa dirinya sebenarnya menginginkan dua mahasiswa itu mengenakan pakaian hitam berupa toga. ’’Dosen itu ikut bahagia melihat mahasiswa yang diajarnya bisa memakai toga. Itu suatu kebanggaan bagi kami,’’ pesan Budi untuk para mahasiswa yang selalu berpikir bahwa dosen selalu menjadi penghalang mereka untuk menjadi sarjana.

Soal persepsi orang, Budi mengaku tidak ada masalah. Dia mengatakan tidak hidup untuk menuruti keinginan orang-orang. ’’Saya menikmati apa yang orang pikir tentang saya. Itu terserah mereka. Untuk kenangan yang itu, cukup saya dan Tuhan yang mengetahuinya,’’ terang Budi. (*/c17/ayi)