Mulyono, 12 Tahun Menjadi Tim Rescue Orang Utan di Hutan Palangkaraya

Mulyono-(3)

Kegiatan menyelamatkan orang utan di Kalimantan Tengah tidak bisa dipisahkan dari nama Mulyono. Teknisi orang utan di Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF) itu sudah ratusan kali menyelamatkan orang utan yang terusir dari habitatnya.

Laporan Gunawan Sutanto, Palangkaraya

PERAHU motor tempel bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Pengemudinya membawa aneka buah dan sayuran menuju ke area feeding (pemberian makan) orang utan di hutan Palangkaraya.


Orang di balik kemudi itu adalah Mulyono, teknisi (baby sitter orang utan dewasa) di Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF). Pagi itu dia menjalankan aktivitas rutin, memberi makan ’’anak-anak asuhnya’’ yang sedang menjalani proses pelepasliaran di hutan.

Tugas sehari-hari bapak dua anak itu memang merawat dan melatih orang utan dewasa untuk hidup di hutan. Setiap hari Mulyono keluar masuk hutan di Pulau Kaja dan Bagamat. Di dua pulau tersebut terdapat belasan orang utan yang dipersiapkan untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Di luar rutinitas itu, Mulyono memiliki tugas berat. Yakni, menjadi koordinator tim rescue orang utan yang bertugas menyelamatkan orang-orang utan yang terusir dari habitatnya, atau mengalami luka-luka karena suatu sebab. Di Kalimantan banyak kawasan hutan yang diubah menjadi lahan perkebunan sawit. Otomatis, banyak penghuni hutan yang kehilangan tempat tinggal, tidak terkecuali orang utan.

Tetapi, ada juga orang utan yang bertahan di perkebunan sawit itu. Mereka memakan seadanya di kebun sawit sehingga kemudian dianggap sebagai pengganggu. Ada pula yang masuk ke wilayah pemukiman warga. Yang beruntung akan diburu untuk dipelihara. Namun, yang nahas akan dibunuh, terutama orang utan yang sudah dewasa.

’’Ada pemburu yang ingin mendapatkan bagian-bagian tertentu dari tubuh orang utan untuk dijual. Namun, ada juga yang dibunuh agar anakan orang utan bisa diambil dan dijual di pasar gelap,’’ jelas Mulyono yang ditemui Desember silam di markas BOSF Nyaru Menteng, Palangkaraya.

Di pasar gelap bayi orang utan dihargai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Tetapi, ada juga yang mau membeli lebih mahal daripada harga tersebut. Bergantung kondisi si bayi orang utan.

Itulah tugas Mulyono dan tim, menyelamatkan orang-orang utan yang dipelihara warga secara ilegal maupun orang-orang utan yang terjebak di perkebunan. Mulyono sudah tidak ingat lagi berapa orang utan yang dia evakuasi. ’’Kalau sejak awal (2003), kemungkinan sudah ribuan,’’ ujar pria asli Palangkaraya itu.

Penyelamatan orang utan yang dilakukan Mulyono dkk juga tidak hanya di sekitar Palangkaraya. Dia juga blusukan ke hutan-hutan di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang membutuhkan waktu sekitar 7 jam perjalanan darat.

Tidak semua orang bisa menjadi tim rescue orang utan. Mereka adalah orang-orang terlatih yang memiliki beberapa sertifikat keahlian. Mulai keahlian menembak hingga memanjat pohon seperti orang utan. Pelatihan menembak yang diikuti di polda setempat pada praktiknya susah dilakukan. Sebab, yang digunakan bukan peluru tajam untuk membunuh atau melukai sasarannya, melainkan obat bius guna melumpuhkan binatang liar tersebut.

’’Kalau menembak beruang atau hewan lain yang ada di tanah, mungkin bisa. Lha ini kami harus menembak orang utan di pohon,’’ ujarnya.

Apalagi, penembakan dengan menggunakan bius tidak bisa dilakukan di sembarang bagian tubuh orang utan. Bius hanya boleh mengenai bagian punggung dan kaki. Selebihnya tidak boleh karena bisa membahayakan kelangsungan hidup orang utan.

Selama 12 tahun menjadi bapak asuh orang utan, banyak cerita menarik yang dialami Mulyono saat bertugas di lapangan. Salah satunya saat melakukan pembiusan. Suatu ketika Mulyono melakukan rescue di hutan daerah Sampit, Kotawaringin Timur. Orang utan yang sudah ditembak bius ternyata tidak segera pingsan. Berbagai upaya dilakukan. Namun, orang utan tersebut tidak jua terjatuh ke jaring yang disiapkan di bawah.

’’Orang utannya besar sekali. Sampai menghabiskan sebotol obat bius. Sialnya, saat obat bereaksi, orang utan itu tidak bisa jatuh ke jaring karena tangannya tesangkut ranting,’’ cerita dia.

Mulyono lantas memanjat pohon untuk melepaskan tangan orang utan yang terjepit ranting-ranting pohon. Namun, belum sampai dia di sasaran, orang utan liar tersebut tiba-tiba siuman. Mulyono panik. Dia cepat-cepat turun. Akibatnya, tubuh pria 36 tahun itu babakbundas tergores kayu. ’’Kami terpaksa menembak lagi dan sesaat kemudian orang utan itu jatuh di jaring yang kami persiapkan,’’ paparnya.

Ada juga operasi penyelamatan yang sangat mudah, namun mengharukan. Lokasinya tidak jauh dari lahan perkebunan swasta di Kotawaringin Timur. ’’Penyelamatan orang utan ini yang paling saya ingat dan membuat saya menangis,’’ kenangnya.

Saat itu Mulyono menyelamatkan orang utan liar tanpa pembiusan. Orang utan itu lemas karena tidak ada yang bisa dimakan lagi di lahan tempat tinggalnya. ’’Orang utan betina itu sudah tua, 12–15 tahun. Badannya kurus sekali,’’ ucap Mulyono.

Ketika diangkat dan dibawa oleh tim Mulyono, orang utan tersebut hanya pasrah tanpa perlawanan.

Orang utan itu sempat dirawat di BOSF Nyaru Menteng, namun kini berhasil dipindahkan ke tempat yang sesuai dengan habitatnya.

Penyelamatan paling sulit terjadi ketika Mulyono cs mengambil orang utan betina bersama anaknya. Si anak tidak bisa lepas dari ibunya. Berkali-kali si anak kabur ketika induknya dibius. Untuk memancing si anak, induknya terpaksa dilepaskan lagi.

’’Kami terpaksa bolak-balik membius induk orang utan itu dan akhirnya anaknya terjaring,’’ tuturnya.

Tim rescue bisa mendeteksi keberadaan orang utan yang perlu dievakuasi melalui sisa-sisa makanan dan sarang. ’’Sisa makanan dan ranting akan menjadi petunjuk pencarian hari berikutnya jika pada hari itu gagal mendapatkan orang utan,’’ terangnya.

Dulu, ketika pembalakan dan pembukaan hutan di Kalimatan Tengah marak terjadi, sebulan tim rescue bisa melakukan operasi hingga empat kali. Sekali operasi bisa mendapat lima–tujuh orang utan.

Bagi para penyelamat orang utan, hal yang paling sulit adalah mengingat lokasi pencarian. Pasalnya, tim selalu melihat ke atas untuk mengawasi orang utan yang lari dari satu pohon ke pohon yang lain.

’’Kalau kita tidak pandai mengingat posisi semula kita di mana, ya bisa nyasar. Sebab, sepanjang pencarian kami melihat ke atas,’’ paparnya.

Di luar tugas sebagai tim rescue, pekerjaan Mulyono juga lumayan berat. Setiap hari dia harus merawat orang utan asuhannya. Berbeda dengan baby sitter yang merawat orang utan kecil-kecil yang masih lucu. Para teknisi seperti Mulyono bertugas mengurusi orang utan dewasa yang liar.

Padahal, kekuatan orang utan dewasa bisa empat kali lebih kuat jika dibandingkan dengan manusia.

Selain memberi makan, setiap hari Mulyono membawa orang utan di BOSF ke sekolah hutan. Dia juga bertanggung jawab mengurusi orang utan yang dipersiapkan untuk pelepasliaran. Orang utan yang seperti itu ditempatkan di Pulau Kaja dan Bengamat.

’’Di dua pulau itu saya hanya menyiapkan makanan tambahan di feeding station. Sebab, makanan di pulau kadang kurang tercukupi,’’ ujarnya.

Tugas terakhir itu menjadi berat ketika musim kemarau datang. Pasalnya, aliran sungai yang menggelilingi dua pulau tersebut surut. Jika biasanya ke pulau bisa menggunakan speed boat, pada musim kemarau mereka terpaksa harus berjalan di lumpur sungai hingga 2 kilometer. Dia harus membawa makanan untuk anak asuhnya hingga 70 kg.

Meski berat, Mulyono menikmati tugas yang diberikan oleh BOSF itu. Dia merasa pekerjaan sebagai teknisi dan tim rescue merupakan bagian dari balas dosanya. Sebab, Mulyono pernah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang illegal logging.

’’Saya menikmati sekali pekerjaan ini. Puas rasanya jika berhasil melihat orang utan yang saya selamatkan bisa hidup normal kembali di habitatnya,’’ papar pria kelahiran 12 Maret itu .(*/c4/ari)