Kisah Lima Sekawan yang Jadi Pemburu PSK

11458_9684_OKE---boks-(2)

Tidak banyak kaum muda Surabaya seperti lima sekawan ini. Tanpa banyak umbar omongan, malam-malam mereka mencari pekerja seks komersial (PSK). Dijadikan teman, lalu diajak hidup yang lebih sehat dan lebih baik.

Laporan Eko Priyono, Surabaya

PAGI masih sangat buta. Jarum jam menunjukkan pukul 00.20 Rabu (14/1) ketika lima orang keluar dari rumah di sebuah gang buntu kawasan Asemrowo. Dengan berboncengan sepeda motor, mereka beranjak dengan kecepatan rendah tanpa mantel meski hujan turun rintik-rintik.


Di tengah jalan, kelimanya berpencar. Ada yang ke selatan, timur, ada juga yang ke utara. Mereka merambah sisi gelap Surabaya saat sebagian besar penduduk kota sedang terlelap tidur. Tujuannya satu. Berbincang dengan PSK yang sedang menanti tamu datang.

Aktivitas tersebut merupakan salah satu kesibukan mereka sejak dua tahun terakhir. Lima orang itu adalah Herman Felani, 20; Rasti Arie Anggraeni, 19; Junasril Agus alias Anas, 26; Missy Aryati, 32; dan Bintang Ramadan, 31. Mereka terbagi dalam tiga kelompok dan memiliki kawasan sendiri-sendiri yang didatangi hampir setiap hari.

Meski tidak memberikan penghasilan, mereka selalu disambut baik dan disapa ramah ketika mendekati PSK yang sedang mangkal. ”Monggo Nak,” ucap seorang PSK yang usianya sudah menyentuh kepala lima kepada Bintang dan Rasti. Setelah bersalaman, mereka duduk bareng.

Obrolan ringan mengawali pertemuan dini hari itu. Mulai cuaca yang hujan sejak sore hingga intensitas tamu yang mendatangi perempuan paro baya tersebut selama beberapa hari terakhir. Bintang dan Rasti mendengarkan cerita PSK tersebut tanpa menyela. Sesekali perbincangan itu diselingi tawa yang membuat suasana hidup.

Di sela-sela obrolan ringan tersebut, Rasti dan Bintang menyelipkan pesan yang tidak menghakimi. ”Jaga kesehatan ya, Bu. Masih punya kondom kan?” tanya Bintang. PSK itu menjawab dengan anggukan. Rasti menimpali dengan permintaan agar memberi kabar jika membutuhkan bantuan.

Bahan perbincangan yang sama diucapkan kepada sejumlah PSK yang ditemui di lokasi tersebut. Terkadang perbincangan sampai memakan waktu hingga 30 menit karena PSK itu curhat tentang masalah pribadinya.

Bintang mengatakan, aktivitasnya itu memang lebih banyak mendengarkan kisah dan keluh kesah PSK di Surabaya. Selama ini tidak ada yang mau mendengar perkataan mereka. Termasuk masalah yang sedang dihadapi. Karena itulah, kehadiran para remaja tersebut disambut sangat baik oleh para kupu-kupu malam.

Mereka tidak hanya membawa pesan moral layaknya dai. Tetapi, mereka juga memosisikan diri sebagai teman yang kadang memberikan bantuan. Tidak ada kesan menggurui, sebagai teman curhat. Mereka sekaligus memberikan edukasi secara halus. ’’Kami memang tak bisa mengangkat hidup mereka dengan memberikan modal. Tapi, setidaknya kami bisa membantu mereka untuk meminimalkan efek buruk jadi PSK,’’ tambahnya.

Kemauan mendengar itu juga dimanfaatkan untuk memberikan nasihat secara halus tentang bahaya menjadi PSK. Biasanya, nasihat tersebut dilontarkan melalui pertanyaan yang jawabannya dikembalikan kepada PSK. ”Misalnya, ibu tahu enggak bahayanya kalau seperti ini terus? Bagaimana caranya agar tidak terkena penyakit?” ucap Bintang mencontohkan.

Hal yang sama dilakukan Missy, Anas, dan Herman. Mereka berusaha masuk dan diterima di lingkungan para PSK sekadar untuk mendengarkan cerita yang sering berulang-ulang. Di sela-sela perbincangan itulah, mereka memasukkan pesan agar PSK menjaga diri sehingga tidak terjangkit HIV/AIDS.

Tidak mudah bagi mereka bisa diterima di kalangan PSK. Khususnya Bintang, Anas, dan Herman. Kedatangan mereka awalnya dikira aparat yang sedang memata-matai aktivitas PSK. Karena itulah, ketika terjun, mereka selalu melibatkan seorang perempuan.

Agar bisa mendekat dan berbaur, Rasti dan Missy menjadi ujung tombak. Mereka berusaha meyakinkan bahwa tujuannya hanya untuk berbagi kisah. Banyak PSK yang akhirnya menerima. Salah satunya disebabkan melihat Rasti yang masih belia. ”Ada yang salut. Ada juga yang membuat PSK menangis karena teringat anaknya,” ucap perempuan lulusan MAN I Situbondo itu.

Dengan kedekatan tersebut, Rasti sering dipeluk PSK yang teringat anaknya. Saat itulah dia memasukkan pesan positif. Mulai rajin memakai kondom, meminum vitamin, sampai rajin memeriksakan diri ke puskesmas agar bisa memantau kesehatannya.

Lain lagi Missy. Dia mendekati PSK dengan cara mengaku seolah-olah pernah menjadi PSK. Lulusan SMA I Blitar itu berusaha meyakinkan sasarannya bahwa dirinya pernah merasakan pengalaman sebagai PSK. Cara tersebut cukup tokcer untuk bisa diterima. ”Saya sampai bisa tidur-tiduran di kosnya hingga jalan bareng,” paparnya.

Dari sanalah, dia berhasil merayu para PSK agar mau memeriksakan kesehatan ke puskesmas. Berdasar pemeriksaan itulah, diketahui sejumlah PSK yang dikenalnya positif mengidap HIV/AIDS. Sebagai teman, dia berusaha memberikan masukan dan penjelasan tentang penyakit tersebut. Termasuk cara menjaga kondisi tubuh tetap fit.

Kebanyakan PSK di jalanan memahami jika terkena HIV/AIDS, usianya tidak lama. Padahal, virus tersebut menjadi parah ketika kondisi tubuh tidak fit. Karena itulah, dia tidak bosan mengingatkan para PSK kenalannya agar rajin minum obat.

Lima orang itu juga sering jemput bola agar para PSK mau memeriksakan diri ke puskesmas. Biaya pendaftaran di puskesmas hasil iuran para remaja tersebut. Mereka juga pernah memeriksakan secara masal PSK yang berjumlah 40 orang. Mereka iuran untuk menyewa angkot ke puskesmas.

Dari blusukan itu, mereka mendapati kenyataan hidup yang cukup miris. ”Mungkin orang lain tidak percaya. Tapi, ini ada dan nyata,” ucap Anas. Misalnya, mereka pernah mendapati PSK yang melayani tamu dengan diantar suami dan anaknya yang masih berusia tujuh tahun.

Ketika PSK tersebut sedang menjajakan diri, suami dan anaknya menunggu di tempat yang tidak jauh dari lokasi kencan sampai selesai. Bintang dkk yang menjadi teman ngobrol ketika suami dan anak itu menunggu PSK tersebut selesai bekerja. Pernah juga ada PSK yang berumur 53 tahun melayani tamu anak yang masih berusia 13 tahun. Ketika sedang berkencan, tiba-tiba petugas satpol PP merazia. Keduanya kemudian diangkut ke truk bersama PSK lain yang terkejar petugas.

Saat itulah PSK tersebut mengatakan kepada petugas bahwa dirinya bukanlah PSK. Dia mengaku sedang jalan-jalan bersama anaknya. Karena pengakuan itulah, mereka dilepas. Setelah dilepas, anak tersebut membayar biaya layanan seks yang diterima dari perempuan yang pantas menjadi ibunya itu.

Ada juga PSK yang berusia 55 tahun. Di tengah keterbatasan hidup, PSK tersebut menghidupi seorang anak berusia 14 tahun yang ditinggalkan ibunya yang juga seorang PSK. ”Kalau enggak salah, anak itu juga sekolah,” ucap Herman.

Ditanya alasan mau bersusah payah berkeliling saat waktu istirahat, mereka terdiam sesaat. ”Kami hanya ingin melakukan apa yang bermanfaat untuk orang lain. Meskipun kami tidak bisa berbuat banyak. Setidaknya yang kami punya itu,” ucap Bintang kemudian.

Tujuan mereka sederhana saja. Mereka ingin para PSK itu tidak terjangkit HIV/AIDS. Kalaupun ada yang sudah positif, mereka berusaha memantau sehingga kondisi tubuhnya terjaga. Blusukan para remaja itu baru berakhir ketika azan subuh berkumandang. Mereka kembali bertemu di rumah aman Yayasan Embun Surabaya ketika hari mulai terang. (*/c6/ayi)