Ana Farhasy, Guru Ngaji yang Juga Desainer Busana Muslim

LUM-ANA-FARHASY-(11)

Selain mengajar mengaji, Ana Farhasy adalah desainer baju-baju muslim. Sudah banyak penikmat karyanya. Termasuk istri menteri dan anggota DPR yang turut menjadi pelanggan setia.

Laporan Khafilul Ulum, Surabaya

KALA itu, Ana Farhasy berusia 12 tahun. Dia kelas 6 madrasah ibtidaiyah (MI) setingkat SD. Ana merengek kepada sang ibu, Zainab, untuk dibelikan baju baru saat Idul Fitri tiba. Namun, ibunya tidak mengabulkan.


Zainab yang seorang penjahit malah memberikan kain dan meminta Ana menjahitnya sendiri menjadi baju. ’’Saya memang sering lihat Umi (panggilan Ana untuk ibunya) menjahit baju dan ikut membantu menjahit,’’ ungkap Ana.

Ana langsung menolak. Dia terus menangis agar permintaannya dikabulkan. Namun, Zainab bersikukuh. Akhirnya, dengan terpaksa, anak sulung lima bersaudara itu menjahit kain tersebut. Ana pun berhasil membuat baju hari raya jahitan sendiri. ’’Setelah dewasa, saya baru menyadari, penolakan itu adalah cara Umi membuat saya mau serius belajar menjahit,’’ ujarnya.

Setelah lulus MI, Ana masuk Pondok Pesantren Salafiyah, Bangil, Pasuruan. Dia jadi jarang melihat ibunya menjahit. Ana berkutat dengan pelajaran pesantren. Meski begitu, sensasi menyenangkan ketika berhasil membuat baju tidak bisa dilupakan. Pada waktu luang saat di pondok, dia menyalurkan hobi menjahit.

Berbekal jarum dan benang, Ana menjahit bajunya yang sobek. Dia juga sering memodifikasi baju-bajunya. Kain baju digunting dengan potongan yang desainnya sudah dibuat di atas kertas koran. Selanjutnya, kain itu dijahit kembali dan menjadi baju dengan model baru. ’’Pokoknya, kalau sudah bosan, baju yang ada saya bongkar,’’ jelasnya.

Baju-baju temannya juga menjadi bahan percobaan mengutak-atik desain baju. Setelah baju model baru dengan bahan lama itu jadi, semakin banyak teman yang ingin bajunya dipermak. Kelihaian Ana dalam mendesain semakin dikenal. Dua tahun menjadi santri, dia lantas ditunjuk menjadi bagian seksi kesenian.

Ana aktif menularkan bakatnya. Selain menjahit, dia mengajari teman-temannya membuat aksesori. Misalnya, gelang, kalung, dan bros. Dia juga mengajar cara merias. Jika ada acara pentas seni, dia cukup sibuk menyiapkan baju, aksesori, serta hiasan.

Lulus madrasah tsanawiyah (MTs), perempuan asal Malang itu meneruskan ke madrasah aliyah (MA) di pesantren yang sama. Bakat perempuan yang lahir pada 7 Mei 1979 tersebut semakin terasah. Dia kembali bergabung dalam divisi kesenian sekolahnya yang tidak lepas dari dunia desain dan jahit, serta membuat kerajinan tangan.

Saat malam kelulusan MA, dia mendesain baju ala India untuk teman-temannya. Ada 40 baju yang didesain. Dia membentuk kain hitam panjang menyerupai rambut yang dikepang. ’’Semua menutup aurat,’’ terangnya. Pengalaman itu menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

Setahun setelah lulus pesantren, Ana menikah dengan Farmadi Hasyim dan tinggal di Surabaya. Aktivitas sehari-harinya adalah menjadi guru mengaji. Baik di taman pendidikan Alquran (TPQ) maupun guru ngaji privat di beberapa rumah di sekitar Margorejo. Dia dikaruniai anak yang diberi nama Abdun Nasir. Ketika anak semata wayangnya itu berusia 3 bulan, Ana ikut kursus menjahit halus.

Kemampuannya menjahit itu digunakan untuk membuat baju untuk anak dan suaminya. ’’Pokoknya, baju kami tidak ada yang beli. Menjahit sendiri. Paling kalau beli cuma kaus,’’ ujarnya.

Ketika anaknya berusia 4 tahun pada 2007, Ana mulai mendapat order menjahit baju dari teman dan tetangga. Karyanya semakin banyak diakui. Makin banyak orang yang menjahitkan baju ke rumah. Setelah pengalamannya semakin matang, pada 2013, Ana betul-betul terjun ke dunia fashion. Dia juga membuka butik dengan brand Majmal Boutique di Perum Graha Al-Ikhlas, Sedati, Sidoarjo.

***

Minggu siang (11/1), Ana tampak sibuk di ruang tengah rumahnya. Dia menggambar desain baju yang dipesan klien. Ada dua kertas yang sudah digambar. ’’Ini baru satu desain,’’ katanya. Model yang satu pakai rok dan yang satu lagi pakai celana.

Ana sedang merancang baju kantor untuk karyawati salah satu rumah sakit di Surabaya. Selain tumpukan kertas, pensil berbagai warna setia mendampingi. Dia menggunakan pensil hitam lebih dahulu. Setelah desain jadi, baru dia mewarnai gambar.

Ibu satu anak itu harus merampungkan 12 desain gambar dalam dua hari. Desain tersebut akan diserahkan ke pihak rumah sakit untuk dipilih salah satu. ’’Pokoknya, saya buatkan sebagus-bagusnya. Dari 12 desain itu, pasti ada satu gambar yang dipilih,’’ terang penghobi traveling itu.

Selain baju untuk karyawan rumah sakit, Ana sedang mendesain baju yang dipesan istri Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Shobibah Rahmah. Tidak hanya memesan satu baju, tapi belasan sekaligus. ’’Beliau menjadi langganan saya sejak lama,’’ katanya.

Ana juga menyebutkan, beberapa istri anggota DPR juga memesan baju untuk beberapa acara. Untuk baju pesanan, sebelum menjahit, dia membuat desain sesuai dengan permintaan. Berbeda dengan baju koleksi sendiri, biasanya dia langsung potong, kemudian dijahit tanpa digambar lebih dahulu. ’’Walaupun tidak digambar, hasilnya juga bagus. Buktinya, baju itu dipakai dalam fashion show islami,’’ ungkapnya.

Ana juga punya pelanggan dari Malaysia. Kebetulan, mereka pernah kuliah di Surabaya sehingga pernah berkenalan. Beberapa hari lalu, mantan mahasiswa di Indonesia itu memesan busana. Selain itu, banyak warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Hongkong yang memesan baju. ’’Suami kan sering ngisi ceramah di Hongkong,’’ kata perempuan penyuka ikan asin dan nasi jagung tersebut.

Selain memenuhi order pelanggan, Ana aktif merancang busana untuk acara fashion show. Dialah yang merancang busana dalam acara pemilihan Putri Jilbab Indonesia. Ada 35 busana yang dirancang. Yaitu, 25 gaun dan 10 Turkey modern style yang terdiri atas blazer dan abaya. Baju itu dikenakan para finalis pemilihan putri jilbab.

Sebelumnya, Ana mengikuti berbagai ajang fashion show islami. Antara lain, Wajah Muslimah dan acara Ramadan. Dia juga sering mengisi rubik busana di Tabloid Modis, grup Tabloid Nurani.

Walaupun sibuk dengan dunia desain, Ana tetap aktif mengajar mengaji pada Senin–Jumat setelah magrib. Pengajian itu dikhususkan untuk ibu-ibu di sekitar rumahnya di Perumahan Graha Al-Ikhlas. ’’Ada 30 orang yang ngaji di sini,’’ katanya.

Selain mengajar mengaji, Ana menularkan ilmu menjahit. Saat ada acara fashion, mereka sering diajak ikut serta. Ibu-ibu pengajian itu menjadi tim solid yang mendukung Ana. Tentu, mereka mendapat imbalan yang setimpal. (*/c5/ayi)