Wanita Ini Pilih Keluar PNS dan Dirikan Sekolah Musik

11214_9465_boks
Gema Swaratyagita, 31, memutuskan keluar dari pekerjaan sebagai PNS untuk membuat sekolah musik. Dia diundang menjadi salah seorang di antara delapan komposer muda berbakat oleh kelompok Ensemble Modern di Frankfurt, Jerman. Sebuah hal yang tidak mudah didapatkan.

Laporan Farid S Maulana, Surabaya

KOMPOSER bukan sebuah profesi yang menjanjikan kekayaan materi di Indonesia. Kurang adanya apresiasi, industri musik yang belum stabil, dan bisnis musik yang cenderung menurun membuat orang berpikir ulang untuk terjun total. Biasanya, itu hanya dilakoni orang-orang yang sudah mapan.

Tapi, tidak demikian halnya bagi Gema Swaratyagita. Daya tarik musik baginya lebih kuat ketimbang hidup nyaman, tapi tidak sesuai jiwa. ’’Banyak teman maupun kerabat yang tak habis mengerti kenapa saya memutuskan keluar dari PNS. Tapi, mereka tidak tahu cinta saya pada musik,’’ ucap perempuan yang lahir pada 8 Januari 1984 itu.


Latar belakang keluarga Gema sebenarnya bukan musisi. Tapi, bakat, minat, dan kemampuan bisa hadir kepada siapa saja. Bakatnya terlihat sejak kecil. ’’Ada tante yang bilang bahwa saya punya bakat musik bagus,’’ tuturnya. Orang tuanya percaya dan lantas menyekolahkannya ke salah satu sekolah musik di Surabaya.

Dari situ bakat musik perempuan berkacamata itu makin bersinar. Mulai memainkan musik-musik modern dengan cara ngeband hingga menjadi komposer musik bambu tradisional Indonesia. Salah satu yang membentuk dirinya adalah musisi Surabaya, Slamet Abdul Syukur. ”Beliau (Slamet, Red) adalah salah satu guru terbaik yang menjadikan saya seorang komposer seperti sekarang,” kata perempuan yang salah satu komposisinya masuk dalam album kompilasi Musik Tradisi Baru Tembi 2014 itu.

Menurut dia, sosok Slamet sangat berpengaruh pada setiap komposisi karyanya. Slamet yang merupakan salah satu pionir musik kontemporer di Indonesia dijadikan Gema sebagai sosok panutan bermusik.

Salah satu ajarannya adalah musik itu berasal dari hati. ’’Beliau selalu menekankan, karya yang kita hasilkan itu adalah harta yang tidak bisa ternilai harganya. Jadi, hasilkan karya yang tulus setulus-tulusnya,’’ ujarnya.

Perempuan yang lulus S-2 jurusan pendidikan seni dan budaya di Universitas Negeri Surabaya itu sebenarnya menjadi pengajar di salah satu SMK negeri di Surabaya. Prestasinya sebagai pengajar pun tidak main-main. SMK tersebut dibawanya meraih berbagai macam penghargaan di bidang kesenian. Dari situlah dia akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

Tapi, passion Gema bukan pegawai kantoran. Dia memilih untuk meninggalkan profesi sebagai seorang pegawai negeri dan lebih berfokus pada mimpinya membangun sekolah musik. ’’Terlalu banyak aturan menjadi PNS. Sedangkan, idealisme saya mengatakan saya ingin berkesenian dengan bebas,’’ jelasnya, menguraikan alasan utamanya keluar dari PNS.

Gema mengakui, dirinya memang sempat menyesal ketika keluar dari PNS pada 2011. ’’Karena saya harus memulainya dari nol lagi,’’ ucap sulung di antara tiga bersaudara tersebut. ’’Sempat berpikir terlalu sombong dan mementingkan idealisme semata,’’ imbuhnya, lantas tertawa.

Namun, mimpi-mimpinya yang membuatnya bisa bangkit dari kekecewaan itu. Penyesalan tersebut justru membuat Gema makin kuat berjuang. Dia membuktikan bahwa pilihannya tidak salah. ’’Saya akan selalu ingat bagaimana berusaha untuk mewujudkan mimpi ini. Saya jadi tidak kenal istilah menyerah,’’ jelas perempuan yang juga pernah menjadi seorang jurnalis tersebut.

Gema memberikan saran kepada orang-orang yang mempunyai cerita sama dengannya, yang masih ragu untuk memilih mewujudkan mimpi atau tetap berada di zona nyaman, agar bertanggung jawab atas pilihannya. ’’Dengan bertanggung jawab, mimpimu pasti terwujud,’’ saran Gema.

Buktinya, kiprahnya sebagai komposer diakui dunia. Dia terpilih menjadi salah seorang di antara delapan komposer muda yang diundang salah satu kelompok musik Ensemble Modern di Frankfurt, Jerman, untuk workshop dan presentasi tentang karya-karya mereka.

Acara yang diprakarsai Goethe Institute Jakarta itu memang tidak sembarangan dalam memilih komposer-komposer yang diundang ke Frankfurt. Begitu banyak seniman yang harus dipilih Goethe Institute Jakarta untuk dibawa ke Jerman. Gema dengan musik bambunya berhasil menarik perhatian mereka.

’’Awalnya, memang nggak nyangka bisa tembus. Tapi, dengan kerja keras, akhirnya saya berhasil mendapatkan kesempatan itu,’’ ungkapnya di sela-sela kesibukannya mempersiapkan diri untuk berangkat ke Jerman. Rencananya, pada 11 Januari ini, Gema dan tujuh komposer muda asal Indonesia lainnya akan melakukan persilangan budaya di Frankfurt. Karya-karya Gema dan tujuh komposer lainnya dibawakan secara langsung oleh Ensemble Modern. Begitu juga sebaliknya. Karya-karya Ensemble Modern akan ditampilkan delapan komposer pilihan tersebut.

Apa pun, Gema membuktikan bahwa memilih pekerjaan sesuai dengan passion bukan hal yang mustahil. Hobi, bila diseriusi, bisa berjalan seiring dengan upaya untuk membuat dapur tetap mengepul. (*/c6/ayi)