Tutik Hidajati, Pemilik PKBM yang Bimbing Bonek Mandiri

PEND-boks-pkbm-1-

Tak banyak yang memedulikan arek-arek Bonek, sebutan suporter klub bola Persebaya Surabaya. Namun, Tutik Hidajati berbeda. Dia memfasilitasi para bonek itu untuk mandiri. Dia memberikan pelatihan dan modal secara cuma-cuma sampai mereka berhasil.

 

Laporan Titik Andriyani, Surabaya


HENDRO Mulyanto menghela napas lega. Dia baru selesai menyablon setumpuk kaus. Disekanya keringat di dahi. Lalu, dia meneliti satu per satu kaus yang digantungkan di tiang baju itu. Kaus dengan dominasi warna hitam dan putih tersebut memiliki bermacam gambar. Hendro dan kawan-kawan memberi merek Like Us. Dengan senyum puas, dia memamerkan karyanya itu.

”Kaus-kaus ini siap jual. Sudah banyak yang pesan lho,” ucapnya bangga. ”Gambar ini termasuk paling laris,” tambahnya, lalu memamerkan kaus hitam yang dikenakannya. Kaus berdesain wajah perempuan tersebut merupakan karya para Bonek.

Hendro adalah ketua Bonek Dinowati, Kecamatan Sukomanggal. Sudah sebulan mereka mendapat pelatihan menyablon secara cuma-cuma. Adalah Tutik Hidajati, pemilik Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Interaktif, yang memberikan pelatihan gratis tersebut kepada Bonek di daerahnya. Pelatihan dilakukan di rumahnya, Jalan Raya Sukomanunggal.

Tutik mengatakan, sudah lama dirinya menaruh kepedulian terhadap para Bonek di lingkungan rumahnya. Sebagian besar kerap menghabiskan waktu dengan mabuk, berhuru-hara, atau berbagai kegiatan negatif lainnya. Tak tahan melihat itu, Tutik membina Bonek pada Maret 2013. Mereka dikumpulkan untuk diberi ilmu agama, hukum, dan sebagainya. Dari situ, lalu muncul pemikiran positif untuk memberdayakan mereka.

Tutik mencari-cari pelatihan yang cocok untuk mereka. Dia mulai mengajak para pentolan Bonek. Jika sang ketua berhasil dibujuk, Tutik yakin yang lain akan mengikuti. ”Tidak mudah merangkul mereka. Bonek itu semaunya sendiri. Butuh pendekatan khusus untuk mengajak mereka,” ucap perempuan kelahiran 22 Juli 1960 itu.

Hingga akhirnya, Tutik merasa usaha sablon sebagai bidang yang cocok untuk digeluti para Bonek. Modal tidak terlalu besar, kemampuan bisa dilatih, dan pasar masih terbuka. Mulai awal Desember Tutik membuka pelatihan tersebut.

Pada pekan pertama tak sampai sepuluh Bonek yang ikut. Tapi, Tutik tak patah arang. Dia terus melakukan pendekatan dengan iming-iming akan memberikan modal usaha. Tutik tidak omong kosong. Tak hanya memberikan pelatihan dengan mendatangkan tutor, Tutik membeli peralatan sablon seharga Rp 3,5 juta. Plus mesin jahit, kain, dan peranti menyablon lainnya.

Para Bonek hanya diminta datang untuk mendapat pelatihan. Setelah itu, mereka langsung praktik sampai bisa. Hingga mulai pekan kedua, pertemuan diikuti 20–30 bonek. ”Pelatihan dilakukan tiap Minggu karena itu hari libur kerja. Soalnya, masih ada sebagian Bonek yang menjadi pegawai pabrik atau bengkel,” tambah Tutik.

Tutik ingin anak binaannya bekerja maksimal. Produk-produk itu dijual secara online dan sambutannya sudah hangat sejak pertama dipasarkan. Pesanan pun mulai mengalir. Untuk meningkatkan pengetahuan mereka, Tutik mengikutsertakan dua Bonek dalam workshop wirausaha yang diadakan distro Indonesia. Tujuan pelatihan itu adalah membuka link pemasaran produk dengan distro-distro se-Indonesia. ”Workshop-nya satu orang bayar Rp 3,5 juta,” jelas Tutik.

Tutik membagi timnya. Ada yang didapuk sebagai bagian desain dan marketing, ada juga yang bagian produksi. Saat ini ada satu Bonek yang pintar mendesain kaus setelah mendapat pelatihan khusus. Sementara itu, Soiful, wakil ketua Bonek, yang kebagian tugas di bagian marketing punya cara tersendiri dalam berjualan.

Setelah beberapa kaus kelar, Soiful langsung tancap gas iseng memamerkannya lewat BlackBerry Messenger(BBM). Tak disangka, beberapa teman langsung memesannya. Hasil produksi perdana mereka pun ludes dipesan orang. ”Senang rasanya,” ucap dia.

Saat ini Tutik sedang menggarap distro untuk para Bonek. Untuk itu, dia telah menyediakan ruang 3 x 4 meter di samping PKBM-nya. ”Tak begitu luas memang,” kata dia. Namun, itu cukup untuk memulai usaha baru. Desain dan pengelolaan distro akan dipasrahkan kepada para Bonek. Tutik hanya berperan sebagai ”tukang kritik”. ”Kalau nggak bagus, ya saya ngomel,” ucap ibu empat anak tersebut.

Prinsipnya, Tutik siap memodali mereka. Seluruh keuntungan atau laba menjadi hak anak-anak binaannya. Bagi Tutik, modalnya cukup balik. ”Sebab, saya melakukan ini tanpa mengharap keuntungan atau embel-embel lain,” ucap istri Supin tersebut.

Yang penting, kata dia, ada perputaran modal. Saat ini Bonek binaannya itu sedang merancang sistem marketing. Penjualan, antara lain, akan dilakukan via online, BBM, berbagai pameran dan bazar, serta distro. ”Karena ini masih awal banget, kami menjualnya ke warga sekitar sini. Alhamdulillah, produksi perdana ini langsung ludes,” ucap Hendro yang akrab dipanggil Cukrik.

Hendro ingin membuktikan bahwa Bonek tak selalu identik dengan anarkis. Banyak hal yang bisa mereka lakukan. Di antaranya, berkreasi membuka usaha. Mereka juga mempunyai kepedulian terhadap masyarakat. ”Kami pernah lho bagi-bagi takjil saat puasa,” ucap Hendro.

Ke depan mereka siap memproduksi kaus secara masal. Untuk menekan biaya, pengerjaan penyablonan dilakukan secara manual karena biaya produksi lebih murah. Hanya, memang pengerjaannya lebih sulit. Bila tak mahir, catnya belepotan. Karena itu, mereka berniat terus berlatih supaya pengerjaan penyablonan secara manual makin baik dari hari ke hari. Mereka juga membuka pintu lebar-lebar bila ada Bonek dari wilayah lain ingin bergabung.

Tak hanya memberikan pelatihan kepada Bonek, Tutik memberikan pelatihan kepada warga didik yang ikut PKBM-nya. Mulai pelatihan membuat pita sulam, menjahit, otomotif, hingga membuat aksesori. ”Saya tidak mau anak didik saya menganggur setelah ikut kejar paket di sini. Mereka harus bisa mandiri,” ucapnya. (*/c10/ayi)