Kelompok Elok Mekar Sari Sukses karena Jangkrik

10910_9187_OKE---oke-boks-jangkrik-(3)

Berawal dari coba-coba, justru variasi penganan berbahan jangkrik menjadi sumber pendapatan utama kelompok Elok Mekar Sari. Bermula dari pakan burung, kelompok tani di Semolowaru itu sukses membisniskan kuliner jangkrik. Produk mereka tembus istana dan seolah menjadi oleh-oleh wajib bagi tamu Pemkot Surabaya.

Laporan Ferlynda Putri, Surabaya

EMPAT RT di RW 8 Kelurahan Semolowaru sekarang tak ubahnya sebuah kawasan industri mini. Ada yang menjual jamur, kerajinan koran, dan berbagai macam produk home industry. Tapi, ada satu primadona baru di kawasan yang dibina Kelompok Tani Elok Mekar Sari tersebut. Yakni, kuliner jangkrik.


Kendati output-nya terlihat sederhana, yakni hanya peyek dan serundeng jangkrik, usaha itu menopang banyak lini. Sebab, usaha tersebut membutuhkan peternakan jangkrik dan industri pengelolaan makanan skala rumahan. Cukup mendatangkan uang dan menyedot tenaga kerja.

Menurut Ketua Kelompok Tani Elok Mekar Sari Ary Widiastuti, kuliner jangkrik itu bermula dari coba-coba. ”Usaha ini (kuliner jangkrik, Red) baru kami lakukan setahun lalu (2013, Red),” kata perempuan yang akrab dipanggil Bu Made tersebut.

Mulanya, banyak kepala rumah tangga di wilayah tersebut yang memelihara burung. Selain kroto, salah satu makanan favorit burung adalah jangkrik. Karena banyak jangkrik itulah, Made tertarik untuk mengolahnya. ”Sebelumnya, saya baca bahwa jangkrik adalah hewan yang kaya omega 3,” terangnya. Omega 3 adalah salah satu lemak tak jenuh yang baik dan sangat diperlukan tubuh.

Made kemudian melakukan eksperimen makanan. Setelah beberapa kali trial and error, akhirnya ditemukan rumusnya. Untuk sementara, produk dengan komposisi yang sudah pas adalah peyek dan serundeng. Untuk membuat makanan itu, dipilih jangkrik yang masih tlondho (remaja, Red) karena tidak punya sayap. Selain itu, ketika diolah, bumbu gampang meresap. ”Pernah dulu, pas masih coba-coba, jangkriknya langsung dimasukkan wajan(penggorengan, Red), malah lompat-lompat,” katanya, lantas tertawa.

Asnan, salah seorang warga yang mendampingi Bu Made saat wawancara, setengah berpromosi dengan mengatakan bahwa makan jangkrik baik bagi kesehatan. ”Saya dulu sering sakit punggung. Tapi, setelah biasa makan jangkrik, sakit punggungnya hilang,” ucap Asnan, lantas mengunyah jangkrik goreng sisa bikin rempeyek.

Produk jangkrik olahan kelompok tani itu dipasarkan di Sentra UKM MERR yang baru diresmikan beberapa minggu lalu. ”Selain itu, kami membuka toko di base camp,” ungkap Made.

”Biarpun ini makanan remeh, tapi sudah sampai ke istana negara loh,” ungkap ketua kelompok tani binaan Dinas Pertanian Kota Surabaya itu. Made menambahkan bahwa produknya sering dibawa oleh pemerintah kota untuk dipromosikan jika ada tamu. ”Bahkan SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu) dulu sering memesan produk kami ini,” ungkap Made.

Elok Mekar Sari memiliki tiga pengelola rempeyek jangkrik dan dua pengelola serundeng. Model pemasaran mereka bergantian. ”Misal, minggu ini rempeyek dari Ibu A dijual di Sentra UKM MERR. Minggu depan produk Ibu A digantikan dengan rempeyek buatan Ibu B,” jelas Made.

Soal harga, kelompok tani itu menyepakati sama. Rempeyek jangkrik dihargai Rp 7.000. Sementara itu, serundeng jangkrik dibanderol Rp 7.500. ”Biar perajinnya banyak, kelompok tani ini mengupayakan pemasaran yang baik untuk semuanya. Biar tidak terjadi hal yang merusak silaturahmi anggota,” papar Made.

Selain itu, omzet mereka terbilang besar. Rata-rata, per bulan mereka sanggup menjual 100 hingga 150 dus besar. Tiap dus berisi 20-an peyek dan serundeng jangkrik kemasan. Bila dirupiahkan Rp 100 juta–Rp 150 juta. Itu adalah omzet bersama seluruh perajin yang dikelola kelompok tani tersebut. Jumlah tersebut belum termasuk yang dikirim ke luar daerah seperti Gresik dan Sidoarjo. Ada tambahan sekitar 50 dus lagi.

Dengan omzet sebesar itu, perlu ada usaha sampingan. Misalnya usaha pengemasan, peternakan jangkrik, dan pengadaan plastik kemasan. Dengan begitu, hasil coba-coba usaha kuliner jangkrik tersebut sanggup menghidupi empat RT di Semolowaru.

Made menuturkan bahwa kelompok tani pimpinannya dibina oleh Dinas Pertanian Kota Surabaya. ”Beberapa kali kami mendapatkan penyuluhan, seperti ketika awal peyek jangkrik dirintis. Awalnya, kami menggunakan jangkrik besar. Kemudian, kami diminta membuat dari jangkrik remaja,” kenang Made. Ibu yang tinggal di Kelurahan Semolowaru itu juga mengungkapkan alasan menggunakan jangkrik remaja. ”Kalau terlalu tua, omega 3-nya sudah tidak ada. Kami pilihkan tlondho. Kata dinas pertanian, omega 3-nya masih tinggi,” ungkap Made.

Selain olahan jangkrik, kelompok tani itu juga memproduksi aneka makanan. Di antaranya, sate jamur dan bakso ikan. Bahan-bahannya diperoleh dari hasil urban farming yang dikembangkan di belakang balai RW 8 Kelurahan Semolowaru. Selain makanan, ada kerajinan dari kertas koran dan sak semen. (*/c11/ano)