Dedy Risdijanto, Kolektor dan Tukang Repro Benda Langka Perang Dunia II

Boks-kolektor-perang-

Perang Dunia II merupakan perang kolosal terakhir dalam sejarah manusia. Itu masih memikat bagi sebagian orang. Salah seorang di antaranya Dedy Risdjijanto, seorang bos usaha kreatif di Surabaya. Dia lebih memilih mengoleksi benda Perang Dunia II ketimbang punya mobil mewah. Dia bukan hanya kolektor, tapi juga renaktor (pereka ulang sejarah, Red).

Laporan Priska Birahy, Surabaya

RUMAH di Kedungdoro Gang IX Nomor 9 bak museum Perang Dunia II. Di teras depan bangunan seluas 6 x 20 meter itu, bertengger sebuah sepeda kuno tentara Jepang saat PD II. Juga ada tas-tas milik tentara Dai Nippon yang digantung artistik. Di belakang rumah, banyak pernik-pernik khas tentara Perang Dunia II di Indonesia.


Pemiliknya, Dedy Risdijanto, memang bukan hanya pencinta sejarah biasa. Tapi, dia juga maniak Perang Dunia II. Baginya, perang antarbangsa pada 1942–1945 tersebut sangat memukau. ’’Sulit diungkapkan dengan kata-kata,’’ ucapnya. Itulah yang kemudian membuatnya mengumpulkan pernik-pernik terkait dengan PD II.

Hanya, Dedy mengkhususkan diri pada pernik-pernik tentara dalam ajang pertempuran PD II di Indonesia. Khususnya pernik-pernik tentara Jepang. Negeri Matahari Terbit itu dalam Perang Dunia II memang merupakan satu di antara tiga negara sekutu AS bersama Jerman dan Italia. Jepang dominan pada awal-awal PD II dan menguasai banyak teritori di kawasan Asia Pasifik, terutama Indonesia.

’’Sejak awal jadi kolektor, saya sudah cocok dengan baju tentara Jepang. Kata teman-teman, wajah saya juga menunjang,’’ ucap pria 43 tahun tersebut, lantas tertawa. Tapi, bukan berarti dia tidak tertarik pernik-pernik milik tentara Inggris atau Amerika. Hanya, dia lebih menyukai seragam dan peralatan tempur angkatan bersenjata Jepang.

Koleksinya pun aneh-aneh dan terbilang sulit dicari. Misalnya, goggle (alat bantu penglihatan, Red) dan helm pilot pesawat tempur Jepang. ’’Saya diberi orang. Katanya amanah peninggalan sang kakek. Belum ada yang punya seperti ini,” ungkap pria yang guratannya sepintas seperti orang Jepang itu.

Dia mengakui, dua benda yang didapatnya itu terlihat begitu usang. Tali penyambung kacamata maupun kulit topi rapuh dan hampir copot. Menurut dia, kedua benda merupakan barang yang dipakai semasa zaman penjajahan Jepang pada Perang Dunia II.

Namun, tidak diketahui secara pasti penggunanya. Sebab, sang pemilik, yakni generasi ketiga dari sang empunya, menghibahkan dua barang langka itu begitu saja. Tujuannya dijaga. ”Katanya sering lihat saya bergaya ala Jepang di Facebook. Jadi, dia berikan,” ungkap owner DR. [email protected] itu.

Namun, dia berkeyakinan si pemilik pertama dua benda tersebut merupakan pelaku sejarah pada era penjajahan Jepang. Jejak yang tersisa hanyalah tulisan Jepang dengan huruf kanji yang menempel bersama logo di bagian dalam topi kulit cokelat itu.

Gambarnya pun sama sekali tidak mencolok mata. Hanya berupa lembaran kain putih yang berisi tulisan dalam kolom. Lelaki yang mulai bergabung menjadi renaktor (pereka ulang sejarah, Red) pada 2004 itu bahkan bertanya kepada seorang rekan di Jepang. ”Katanya itu tulisannya nomor ukuran saja,” terangnya sambil menyulam sebuah tas kulit pesanan orang.

Tak berhenti di situ, untuk memastikan keasliannya, lelaki yang dikenal dengan sebutan Dedy Kopral Risdijanto itu lantas melacak keberadaannya di ebay hingga situs sejarah lainnya. Hasilnya idem. Bahkan, di kalangan renaktor dan beberapa pelaku sejarah, benda tersebut hampir tidak ada.

Tidak heran, begitu di-posting di media sosial, berbagi komentar hinggap di wall-nya. Mereka tidak lain ingin memilikinya. Berbagai tawaran hingga barter dengan sesama benda PD II pun ditolaknya. ”Namanya amanah ya harus dijaga. Dan ini tak ternilai. Soalnya, susah didapat,” jelas pria yang awalnya menjadi onthelist (pengayuh sepeda onthel, Red) pada 1992 itu.

Bukan hanya goggle dan topi, sebuah holster nambu (tempat pistol Jepang) berbahan kulit pun masih terlihat kukuh. Sarung senjata yang dipakai sekitar 1943 itu punya sejarah. Berdasar hasil pencarian di internet dan bertanya langsung kepada saksi sejarah, holster warisan tersebut pernah dipakai tentara PETA. Yakni, tentara Jepang yang berbalik dan membela tanah air demi kemerdekaan.

Lelaki yang rela resign untuk meneruskan hobinya itu juga menemukan holster miliknya dipakai tentara Heiho atau pasukan bentukan tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Meski demikian, barang-barang itu terbatas. Dia pun mengaku kesulitan untuk mencari sisa peninggalan di Surabaya. Alhasil, target buruannya berpindah ke luar kota hingga luar pulau.

Misalnya, gunto (pedang yang dipakai samurai) asli yang didapatnya dari hasil buruan di Sumbawa, NTB. Bentuknya persis gunto yang dipakai saat prajurit Jepang bertarung untuk merebut kekuasaan. Pedang miliknya itu adalah shin gunto, jenis pedang milik perwira yang dililit ratusan untaian benang. Mulai pegangan hingga ujung sarung pedang. ”Pedangnya sampai berkarat. Banyak yang minta, tapi enggak bisa saya lepas,” aku pemilik tujuh sepeda kuno yang sering dijadikan properti fotografi itu.

Di sarung gunto yang sudah kusam tersebut terdapat beberapa bercak cokelat. Itu lebih mirip sisa cairan yang tumpah dan mengering. Dedy pun tidak tahu pasti apakah itu cairan atau darah. Baginya, senjata-senjata tersebut punya nilai tersendiri.

Koleksi lainnya adalah water canteen atau botol air minum bercap tulisan Jepang di bagian bawah. ”Sama, ini juga dapatnya di pasar loak Malang. Tapi, ini asli dan carinya susah,” sambung alumni SMA Negeri 4 Surabaya itu.

Sambil memasang putee (kain yang dililitkan di kaki), ketua Kosti (Komunitas Sepeda Tua Indonesia) Jatim itu mengakui hobinya tersebut membuatnya lebih mengenal sejarah bangsa. Jika dahulu sejarah hanya didapat dari tulisan di buku, kini dia bisa mereka ulang. ”Belajar sejarah itu jadi lebih fun. Saya juga bisa merasakan perjuangan para pejuang dahulu,” tuturnya. Kini selain masih memburu barang bekas PD lain, dia aktif memproduksi barang repro. Mulai tas, senjata, topi, hingga tempat magazin, dan peluru. Itulah yang membuat dia dikenal sebagai spesialis repro yang mungkin hanya ada satu di Surabaya. ”Saya masih ingin cari topi perang Jepang,” katanya sambil mengenakan field cap Jepang.

Namun, dia tidak hanya berhenti menjadi kolektor. Dia bahkan bisa hidup dengan koleksinya. Yakni, membuat produk ulang benda bersejarah tersebut. Misalnya, tas perang Jepang. Dia melihat aslinya, kemudian mereproduksi benda tersebut dan menjualnya. Hasilnya ternyata lumayan. ’’Tidak usahlah saya sebutkan. Yang penting, saya bisa hidup dari hobi ini,’’ ucapnya, lantas tersenyum. (*/c6/ano)