Dr Aimee Nugroho, Dokter Pendiri Group Therapy

Dr Aime

Pemandangan sekelompok orang berkumpul dan saling curhat tidak hanya ada di negara Barat atau film-film seperti Fight Club. Terapi jenis berkelompok itu juga bisa ditemukan di Surabaya. Hal tersebut diawali sebuah komunitas bernama Mentis yang didirikan dr Aimee Nugroho.

Laporan Dinda Lisna Amilia, Surabaya

PASIEN itu terlihat masih penasaran. ’’Dok, apa ada pasien lain yang punya masalah seperti saya?’’ ucap Irma (bukan nama sebenarnya) kepada dr Aimee Nugroho pada akhir 2012. Irma adalah salah seorang korban broken home yang menjadi pasien Aimee. Karena sejak kecil orang tuanya berpisah, Irma kerap merasa sendiri dan kesepian.


Ketika Aimee mengangguk, Irma langsung bertanya lagi. ’’Kalau begitu, kenapa kami tidak dipertemukan saja satu sama lain, Dok?’’ tanyanya. Pertanyaan itu langsung menghunjam ke benak dokter umum yang masih menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) psikiatri RSUD dr Soetomo tersebut.

Pertanyaan singkat Irma itu menginspirasi Aimee untuk berbuat lebih. Dia kemudian teringat dengan salah satu metode terapi yang sebenarnya sudah cukup populer di negara-negara maju, tapi masih cukup asing di Indonesia. Yakni, support group. Metode itu juga dikenal dengan istilah psikoterapi atau group therapy. Yakni, mengumpulkan sejumlah pasien yang memiliki masalah sama. Kemudian satu per satu menceritakan masalah mereka dan semuanya sama-sama mendukung.

Dengan begitu, anggota support group menyadari bahwa bukan mereka saja yang mempunyai masalah. Bahkan, menyadari ada juga orang yang masalahnya lebih berat. Yang tidak kalah penting, sesama orang dalam support group bisa memberikan saran terkait dengan masalah masing-masing. Aimee juga teringat dengan salah satu pesan dosennya yang merupakan psikiater senior, yaitu dr Nalini M. Agung SpKJ(K). ’’Beliau bilang kalau jadi psikiater itu, jangan mendirikan istana di awang-awang,’’ ucap perempuan 29 tahun tersebut.

Maksudnya, psikiater yang baik seharusnya berbaur dengan masyarakat. Semuanya menjadikan tekad Aimee semakin bulat. Pada saat itu juga, Aimee mendirikan komunitas yang diberi nama Mentis. Nama itu adalah istilah Latin untuk menyebut mental. Dia pun mengajak beberapa pasiennya untuk bergabung.

Pertemuan perdana dihadiri empat pasien, tentu dengan didampingi Aimee. ’’Kami berkumpul di rumah salah seorang pasien,’’ ucap anak kedua di antara tiga bersaudara pasangan Irwan Nugroho dan Yuliani Dewi tersebut.

Pertemuan pertama cukup menyenangkan. Meski tak saling kenal, mereka bisa langsung terbuka dan menceritakan masalah dengan detail. Kisah mereka beragam. Mulai latar belakang keluarga, percintaan, hingga persahabatan.

Tentu saja pertemuan tersebut diwarnai sejumlah hal dramatis dan tangis. ’’Yang penting, pulang dari kegiatan tersebut, ada yang lebih bersyukur sama hidupnya. Tidak merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia,’’ ucap perempuan kelahiran Surabaya, 25 Maret 1985, tersebut.

Untuk memperkuat support group itu, Aimee memanfaatkan media sosial. Yang utama adalah membuka grup di WhatsApp. Selain itu, mengampanyekan sejumlah hal dan informasi via Facebook dan Twitter.

Aimee membagi beberapa topik yang ditulis orang yang dirasa kompeten. Pertama adalah mentis spirit yang berisi seputar penguatan rohani. ’’Mentis muslim, Kristen, dan agama lain,’’ imbuh istri Herlan Sri Pambudi tersebut. Kedua adalah mentis health. Untuk mentis itu, giliran Aimee yang membuatnya atau temannya yang juga dokter. Ketiga adalah mentis growth yang berisi seputar artikel motivasi soal pengembangan diri. Terakhir adalah mentis sharing yang berisi seputar pengalaman nyata seseorang dalam melawan penyakit.

Salah satu pengalaman ditulis seorang pengusaha asal Surabaya. Dia menceritakan proses kehilangan anaknya yang didiagnosis menderita kanker hingga meninggal. Semua tulisan tersebut di-posting ke media sosial.

Tujuannya adalah mengedukasi masyarakat. Dia terinspirasi beraneka terapi untuk pasien dengan gangguan jiwa di luar negeri yang mendapatkan pengobatan secara komprehensif. Jadi, tidak hanya pengobatan oral (minum). Apalagi, di Indonesia stigma terhadap psikiatri masih identik dengan orang-orang gila. Padahal, gangguan jiwa bukan hanya soal penyakit seperti skizofrenia. Namun, penyakit seperti bipolar, depresi, dan panic attack pun perlu ditangani psikiater.

Sebab, sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa pasien dengan penyakit tersebut punya gangguan pada neurotransmitter (zat dalam otak). Jadi, mereka juga perlu menjalani pengobatan dengan psikiater. ’’Masih banyak pasien yang cerita, jika berobat ke dukun atau rohaniawan, mereka malah dilarang ke dokter,’’ papar Aimee.

Selain itu, Mentis mengampanyekan soal stigma terhadap para penderita gangguan jiwa. Masyarakat masih memandang mereka sebagai sosok pembuat onar dan penyebab keresahan. Kemudian masyarakat melakukan diskriminasi. ’’Pandangan ini harus diubah,’’ tegasnya.

Kini sudah setahun Mentis berjalan. Ada 18 anggota. Mereka terdiri atas pasien depresi, panic attack, hingga bipolar.

’’Hampir setiap hari kami sharing lewat grup WhatsApp,’’ terangnya.

Selama setahun membimbing pasien dalam komunitas mentis, Aimee semakin bersyukur. Banyak orang yang diberi porsi masalah berbeda-beda. Aimee juga mengerti tidak semua orang yang diajak mau bergabung. Menurut dia, tidak semua orang mau membagikan kisahnya. Aimee menghargai keputusan itu. ’’Ini memperkaya terapi saya. Jadi, lebih mengenal macam-macam karakter dan bagaimana menanganinya,’’ tambahnya.

Menjadi residen psikiatri (dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis) memang membuat Aimee lebih sabar menghadapi berbagai macam karakter orang. Bahkan, dia pernah diancam pasiennya yang juga menderita gangguan jiwa. ’’Ancamannya, dia akan menyebarkan berita bahwa saya adalah dokter gadungan,’’ ucapnya. Sempat tebersit di pikirannya bahwa bercita-cita menjadi dokter spesialis kejiwaan ternyata terlalu berat. ’’Tapi, menekuni hal ini (spesialis psikiatri, Red) adalah sebuah pilihan. Saya mantap menekuni pilihan tersebut,’’ katanya. (*/c7/ano)