Perkuat Sistem Perkarantinaan, Kementan Jajaki Transfer Teknologi Bio-Sensing dari Belanda

Ketua Komisi IV DPR selaku Ketua Delegasi RI, Edhy Prabowo dan Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan RI, Ali Jamil, dalam Kunker Studi Diplomasi Komisi IV - DPR RI di Amsterdam, Belanda, Selasa (23/7/2019)
Ketua Komisi IV DPR selaku Ketua Delegasi RI, Edhy Prabowo dan Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan RI, Ali Jamil, dalam Kunker Studi Diplomasi Komisi IV - DPR RI di Amsterdam, Belanda, Selasa (23/7/2019)

POJOKSATU.id, JAKARTA – Badan Karantina Pertanian (Barantan), Kementerian Pertanian RI tengah menjajaki transfer teknologi Bio-Sensing dari Belanda.


Hal itu dilakukan mengingat luas wilayah NKRI yang cukup luas dengan ribuan pulau tapi tak sebanding dengan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki saat ini.

Karena itu, diperlukan terobosan inovasi dan teknologi agar dapat tetap menjamin kelestarian sumber daya alam (SDA) hayati yang sangat kaya ini.

Termasuk menjamin kesehatan masyarakat selaku pengguna akhir produk pertanian.


Kepala Barantan, Ali Jamil menjelaskan, kondisi tersebut juga menjadi tantangan bagi negara-negara di daratan benua Eropa.

“SDM Perkarantinaan yang terbatas dibandingkan luas wilayah yang harus dijaga. Di Pelabuhan Rotterdam di Belanda sebagai satu-satunya pintu masuk benua Eropa menerapkan teknologi bio-sensing untuk pengawasan. Ini yang menjadi perhatian kami,” kata Ali Jamil dalam keterangan tertulisnya dari Amsterdam, Belanda, Selasa (23/7).

Teknologi Bio-Sensing yang digunakan oleh petugas otoritas Karantina Belanda dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan komoditas pertanian yang dilalulintaskan antar wilayah.

Tidak hanya itu, peralatan ini digunakan juga untuk melakukan pengawasan ekspor dan impor komoditas pertanian, sehingga dapat meminimalkan waktu pemeriksaan dan meningkatkan efisiensi serta biaya yang dipergunakan.

“Sangat cocok digunakan oleh petugas karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran utama, agar pengawasan dapat lebih efisien, efektif dan akurat,” tambah Jamil.

Keinginan yang diapresiasi pemerintah Belanda ini segera ditindaklanjuti dalam kerjasama pada klausul ‘added value of decision support for potato light blight control in Indonesia’.

Kerjasama pengawasan terhadap komoditas kentang telah disusun oleh kedua belah pihak terlebih dahulu dan ini yang ditambahkan pasaltambahan.

Kedepan, menurut Jamil, bimbingan teknis untuk penerapan teknologi bio-sensing akan diperluas untuk komoditas pertanian lainnya.

“Tentunya penguatan SDM dengan kapasitas dan keahlian juga perlu disiapkan. Saat ini sejumlah petugas Karantina Pertanian tengah disiapkan mengikuti tugas belajar jenjang S-2 dan S-3. Dan bio-sensing menjadi topik utama penelitiannya,” terangnya.

Belanda sebagai satu dari empat negara yang telah menerapkan sertifikat elektronik dalam proses bisnis ekspor komoditas pertanian menjadi mitra dagang strategis bagi Indonesia.

Dalam rangkaian Kunjungan Studi Diplomasi, anggota Komisi IV DPRI-RI Edhy Prabowo juga membahas terkait platform kerjasama bilateral di bidang pertanian, perikanan dan kehutanan yang telah ada, yakni Working Group on Agriculture, Fisheries and Forestry (WGAFF).

Menurut Edhy Prabowo selaku Ketua Delegasi menjelaskan, bahwa kerjasama yang telah terjalin adalah dibidang transfer teknologi dan pengembangan SDM Pertanian.

Kedepan, kerjasama untuk saling memperkuat ketahanan pangan di masing-masing dan juga meningkatkan pertumbuhan komoditas pertanian yang berorientasi ekspor guna memperkuat sektor pertanian kedua negara.

Sementara itu untuk bidang perkarantinaan, Edhy menekankan pentingnya peningkatan pengawasan untuk komoditas yang dilalulintaskan antara kedua negara dengan memberikan notifikasi jika terdapat permasalahan perkarantinaan dimasing-masing negara.

Seperti halnya Notify of Non Compliance (NNC) terhadap bunga bibit bunga Lili (Lilium sorbone) asal Belanda yang terkontaminasi penyakit yang belum ada di Indonesia, A1 yakni Rhodococus fascians.

Benih terkontaminasi virus berbahaya yang masuk di sepanjang awal tahun 2019 masing-masing di Bandar Udara Soekarno Hatta, Semarang dan Bandung.

Dan semuanya telah dilakukan tindakan pemusnahan guna mencegah terjadinya wabah yang dapat mematikan upaya pengembangan Hortikultura di Indonesia.

“Kita saling mendukung untuk kelestarian SDA hayati, tugas yang cukup berat dan diperlukan kerjasama yang kuat,” tegas Edhy.

Berdasarkan data dari sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST sampai dengan Juni 2019 nilai ekspor komoditas pertanian ke Belanda senilai Rp603,39 miliar masih surplus dibandingkan nilai impor dari Belanda senilai Rp273,66 miliar.

Adapun jenis komoditas yang laris di pasar Belanda adalah belimbing, durian, jeruk, mangga, manggis, markisa dan buah naga.

“Dengan berhasil
menembus persyaratan ekspor negeri Belanda, kita sekaligus dapat menerobos pasar negara-negara Eropa. Sejalan dengan arahan pak Mentan memacu ekspor, ini harus terus kita perkuat,” pungkas Jamil.

(ruh/pojoksatu)