POJOKSATU.id, KARAWANG – Musyawarah Cabang (Muscab) IX DPC PPP Kabupaten Karawang menjadi momentum penting bagi konsolidasi internal partai berlambang Ka’bah dalam menghadapi kontestasi politik mendatang.
Agenda yang digelar di Alam Ceria, Karawang, itu tak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan lima tahunan, tetapi juga panggung strategis untuk membangkitkan kembali kekuatan politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Karawang.
Hadir langsung dalam forum tersebut, Plt Ketua DPW PPP Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum memberikan arahan tegas kepada seluruh kader agar Muscab IX tak berhenti sebagai agenda seremonial semata.
Menurut Uu, Muscab IX adalah amanat organisasi yang wajib dilaksanakan sebagai bagian dari mekanisme penyegaran partai agar mesin politik PPP tetap hidup dan berjalan optimal.
Baca Juga: SMAN 5 Karawang Gelar Perpisahan Sederhana di Sekolah, Siswa Pakai Seragam Putih Hitam
“Muscab IX ini adalah amanat AD/ART, bukan sekadar keinginan subjektif kepemimpinan wilayah. Ini proses penyegaran lima tahunan yang sudah diatur dalam Peraturan Organisasi agar mesin partai tetap menyala,” ujar Uu dalam sambutannya.
Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu menegaskan, Muscab bukan sekadar forum memilih ketua baru, melainkan momen konsolidasi menyeluruh untuk memperkuat struktur partai hingga ke akar rumput.
Ia menilai, pembaruan struktur organisasi menjadi kebutuhan mutlak agar PPP tetap relevan menghadapi dinamika politik yang semakin kompetitif, terutama di tingkat daerah seperti Karawang.
Dalam forum tersebut, Uu juga menyinggung dinamika persaingan internal yang muncul dalam bursa calon ketua DPC PPP Karawang.
Baca Juga: Yani Kalina Pimpin PPP Karawang, Siapkan 50 Persen Pengurus dari Kalangan Muda
Menurut sosok yang akrab disapa Panglima Santri itu, rivalitas antarkader merupakan hal yang lumrah dan justru menandakan bahwa PPP masih memiliki kader-kader potensial yang siap memimpin.
“Wajar jika ada rivalitas karena satu posisi diperebutkan figur-figur terbaik. Itu menandakan kader PPP punya gairah memimpin,” katanya.
Meski demikian, Uu mengingatkan bahwa seluruh dinamika persaingan harus tetap berjalan dalam koridor etika organisasi dan semangat persaudaraan.
Ia menegaskan, begitu keputusan resmi turun dari DPP PPP, maka seluruh proses kompetisi harus dianggap selesai.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Berkah UMKM Karawang, Produksi Tahu-Tempe Naik 6 Kali Lipat
“Begitu SK dari DPP turun, semua persaingan harus usai. Seluruh kader wajib tunduk dan bersatu kembali di bawah keputusan pusat,” tegasnya.
Pesan itu menjadi penekanan penting agar Muscab IX tidak melahirkan fragmentasi internal, melainkan justru memperkuat soliditas partai menghadapi agenda politik ke depan.
Uu juga menaruh harapan besar agar Muscab IX mampu melahirkan pemimpin baru yang bukan hanya kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas menjadi simbol kekuatan politik PPP di Karawang.
Ia bahkan secara terbuka mendorong kader PPP untuk mulai berpikir lebih besar, termasuk berani tampil dalam kontestasi eksekutif di Pilkada Karawang.
Baca Juga: Penjelasan Camat Kotabaru soal Mobil Dinas Parkir di Depan PT Inoac Karawang
Menurutnya, PPP tidak boleh hanya puas menjadi partai pendukung atau sekadar pelengkap demokrasi.
Sudah saatnya, kata dia, PPP Karawang menyiapkan kader terbaik untuk bertarung memperebutkan posisi strategis, termasuk kursi Bupati Karawang.
“Kader PPP harus punya nyali untuk mencalonkan diri menjadi Bupati. Kehadiran partai di Karawang harus mampu mendorong akselerasi pembangunan yang selaras dengan visi misi pemerintah daerah,” ujar Uu.
Ia menekankan bahwa keberadaan PPP harus benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar hadir saat musim politik.
Baca Juga: Karawang Jadi Poros Logistik Baru, Lippo Land Luncurkan ECOPrime dengan Konsep Hybrid Warehousing
Karena itu, kader PPP dituntut tampil sebagai pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan publik sekaligus membawa aspirasi umat.
Dalam arahannya, Uu juga membekali para kader dengan konsep kepemimpinan ideal yang ia sebut sebagai “4M”.
Konsep ini, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi kader PPP untuk menjawab tantangan politik modern yang kini semakin berorientasi pada figur ketimbang partai.
Empat karakter yang dimaksud yakni Muadib, Muwahid, Mujahid, dan Murabbi.
Muadib berarti pemimpin harus menjadi teladan moral dan akhlak di tengah masyarakat.
Baca Juga: Kota Bandung Memanas Saat Demo May Day, Farhan Sakit Tipes: Aksi Anarkis Disebut Bukan Ulah Buruh
Seorang kader PPP, kata Uu, tidak cukup hanya piawai berpolitik, tetapi juga harus mampu menjaga integritas dan memberi contoh yang baik.
Kemudian Muwahid, yakni pemimpin yang memiliki keimanan kuat serta menjadikan nilai ketauhidan sebagai landasan utama dalam mengambil keputusan.
Selanjutnya Mujahid, yaitu sosok pejuang yang tangguh, militan, dan memiliki keberanian dalam membela kepentingan umat.
Terakhir Murabbi, yakni pemimpin yang mampu membina, membimbing, dan mengayomi kader agar tumbuh menjadi kekuatan politik yang solid.
Baca Juga: Kota Bandung Memanas Saat Demo May Day, Farhan Sakit Tipes: Aksi Anarkis Disebut Bukan Ulah Buruh
“Empat karakter ini harus melekat pada kader PPP. Politik hari ini bukan hanya soal partai, tetapi soal figur. Maka figur PPP harus kuat secara moral, ideologi, dan kepemimpinan,” jelasnya.
Uu mengakui, tantangan PPP ke depan tidak ringan.
Selain harus menghadapi kompetisi dari partai-partai baru yang memiliki basis ideologis serupa, PPP juga berhadapan dengan meningkatnya sikap apatis masyarakat terhadap politik.
Fenomena ini, kata dia, menjadi ancaman serius jika tidak dijawab dengan penguatan ideologi dan kedekatan nyata dengan masyarakat.
Baca Juga: Yani Kalina Pimpin PPP Karawang, Siapkan 50 Persen Pengurus dari Kalangan Muda
Ia menilai, salah satu persoalan terbesar partai saat ini adalah makin langkanya kader ideologis yang benar-benar memahami ruh perjuangan PPP.
Karena itu, ia meminta seluruh kader kembali menghidupkan identitas ideologis partai sebagai kekuatan utama untuk bertahan dan berkembang.
“Saat ini kader ideologis mulai langka. Kita harus kembali menyentuh masyarakat dengan jargon PPP Partaiku, Islam Agamaku, Ka’bah Kiblatku,” tandasnya.
Bagi Uu, jargon itu bukan sekadar slogan, tetapi identitas politik yang harus ditanamkan kembali dalam kerja-kerja kader di lapangan.
Ia optimistis, jika ideologi partai tetap kuat dan kader mampu menjaga kedekatan dengan masyarakat, PPP akan tetap mampu bersaing di tengah ketatnya pertarungan politik.
Muscab IX PPP Karawang pun diharapkan tak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga menandai kebangkitan semangat baru PPP untuk kembali menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan di Karawang. ***




