POJOKSATU.id, KARAWANG - Insiden mencekam yang dialami satu keluarga di lift Mall KCP Karawang menyisakan trauma mendalam sekaligus kritik keras terhadap sistem keamanan gedung. Selama kurang lebih 30 menit terjebak di dalam lift, Ilyas bersama istri dan anaknya mengaku tidak mendapat respons cepat dari sistem darurat yang seharusnya menjadi perlindungan pertama bagi pengunjung.
Peristiwa itu terjadi saat Ilyas bersama keluarganya tengah berkunjung ke pusat perbelanjaan dan hendak menuju lantai bioskop CGV. Momen yang seharusnya menjadi waktu santai bersama keluarga justru berubah menjadi pengalaman menegangkan yang masih membekas hingga kini.
Ilyas menuturkan, insiden bermula ketika ia bersama istri dan anak masuk ke lift untuk menuju lantai atas. Namun baru beberapa saat lift bergerak, mendadak kabin berhenti total di tengah perjalanan.
Baca Juga: Kisah Bagas Ananda, Sahabat Ilyas yang Sigap Bantu Evakuasi Keluarga Terjebak Lift Mall KCP
Situasi di dalam lift langsung berubah tegang. Ruang sempit, sirkulasi udara terbatas, serta kepanikan anak dan istri membuat kondisi semakin sulit dikendalikan.
“Selama 10 menit pertama, saya mencoba menggunakan alarm dan speaker di dalam lift, tapi tidak ada respons sama sekali. Saya juga berusaha memberi tanda ke arah CCTV, namun seolah tidak ada gunanya,” ujar Ilyas usai pertemuan dengan pihak manajemen, Senin (27/4/2026).
Pernyataan itu menjadi sorotan serius. Sebab dalam kondisi darurat, alarm, speaker, dan kamera pengawas di dalam lift seharusnya menjadi jalur komunikasi utama antara korban dengan petugas keamanan gedung.
Namun dalam pengalaman Ilyas, seluruh perangkat itu justru tidak memberi bantuan berarti saat dibutuhkan.
Baca Juga: Lift Festive Walk Karawang Macet, Satu Keluarga Terjebak 30 Menit dan Trauma
Alih-alih mendapat respons cepat, Ilyas justru harus bertahan dalam kepanikan sambil berusaha mencari cara lain agar keluarganya bisa segera dievakuasi.
Kondisi semakin sulit karena sinyal telepon di dalam lift sangat lemah. Upaya untuk menghubungi bantuan pun tak mudah dilakukan.
Di sisi lain, teriakan minta tolong dari dalam lift juga nyaris tak terdengar oleh orang di luar. Posisi lift yang berdekatan dengan area permainan anak membuat suara dari dalam tertutup kebisingan sekitar.
Situasi itu membuat Ilyas dan keluarganya praktis hanya bisa menunggu sambil berusaha tetap tenang di tengah tekanan.
Dampak insiden tersebut tidak berhenti saat pintu lift berhasil dibuka. Bagi Ilyas, yang paling berat justru efek psikologis yang kini dialami istri dan anaknya.
Baca Juga: Potret Kartini Masa Kini di Karawang, Siti Kamilah Berjuang Sendiri Rawat Keluarga Lumpuh
Ia mengaku sang anak kini mengalami trauma dan menolak menggunakan lift setelah kejadian tersebut. Sementara istrinya masih dalam kondisi syok akibat pengalaman terjebak di ruang sempit selama setengah jam.
“Anak saya sekarang trauma, sampai saat ini tidak mau lagi naik lift. Istri juga masih merasa syok dengan kejadian kemarin,” katanya.
Di tengah kondisi panik itu, Ilyas akhirnya berhasil menghubungi rekannya, Bagas, melalui pesan singkat setelah sempat mendapat sedikit akses jaringan.
Pesan itu menjadi titik awal datangnya bantuan dari luar. Bagas kemudian bergerak cepat mengoordinasikan informasi dengan petugas keamanan dan tim teknis hingga proses evakuasi bisa dilakukan.
Baca Juga: Alumni SMK TK 76 Nurul Falah Karawang Tertipu Jutaan Rupiah, Berawal dari Rekomendasi Guru
Pintu lift akhirnya berhasil dibuka setelah sekitar 30 menit. Ilyas bersama istri dan anaknya berhasil keluar dalam keadaan selamat, meski trauma masih membekas.
Pasca-kejadian, pihak manajemen pusat perbelanjaan yang diwakili Edwin mendatangi keluarga korban untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
Ilyas mengakui pihak pengelola telah menunjukkan itikad baik dengan datang langsung dan memberikan permintaan maaf atas insiden tersebut.
“Tadi pihak manajemen sudah datang untuk meminta maaf atas kejadian yang dialami saya dan keluarga. Mereka juga memberikan voucher sebagai bentuk kepedulian,” ujar Ilyas.
Baca Juga: Diduga Dipakai ABG untuk Nongkrong, Mobil Dinas Pemkab Karawang Terlantar di Kawasan Industri
Meski demikian, Ilyas menegaskan bahwa permintaan maaf saja tidak cukup jika tidak dibarengi evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan gedung.
Menurutnya, insiden ini harus menjadi alarm serius bagi pengelola pusat perbelanjaan untuk memastikan seluruh perangkat keselamatan benar-benar berfungsi saat dibutuhkan.
Ia secara khusus menyoroti alarm darurat dan CCTV di dalam lift yang menurutnya harus dipastikan aktif, responsif, dan terhubung langsung dengan petugas.
Baca Juga: Proyek PT Visindo di Karawang Diduga Picu Banjir Lumpur, Warga Mengaku Diintimidasi Preman
“Masukan saya untuk manajemen, alarm dan CCTV di dalam lift itu benar-benar harus aktif dan terhubung ke petugas, jangan hanya jadi pajangan. Ini demi keselamatan banyak pengunjung yang menggunakan fasilitas mall,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi kritik paling tajam dari korban. Sebab bagi pengunjung, fasilitas keselamatan bukan sekadar pelengkap standar gedung, melainkan sistem vital yang harus bekerja dalam hitungan detik saat keadaan darurat terjadi.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan fasilitas publik tidak cukup hanya terlihat tersedia, tetapi juga harus dipastikan benar-benar berfungsi.
Bagi Ilyas, pengalaman 30 menit terjebak di lift bukan sekadar gangguan teknis. Itu adalah pengalaman traumatis yang menguji keselamatan keluarganya di ruang publik yang semestinya aman.
Kini, ia berharap kejadian serupa tidak kembali menimpa pengunjung lain. Sebab pusat perbelanjaan bukan hanya tempat hiburan keluarga, tetapi juga ruang publik yang wajib menjamin rasa aman bagi setiap orang yang datang. ***




