POJOKSATU.id, KARAWANG – Agenda Panen Raya yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, menghadirkan suasana tak biasa. Di tengah kegiatan resmi kenegaraan, muncul momen spontan yang sarat emosi dan keakraban antara warga dengan sosok Kang Dedi Mulyadi.
Jauh sebelum Presiden tiba di lokasi, perhatian masyarakat justru tertuju pada kehadiran Kang Dedi Mulyadi yang datang bersama rombongan. Begitu ia melangkah menuju area tenda utama, suasana langsung berubah riuh.
Puluhan petani dan warga yang sejak pagi menunggu, serentak merapat. Tanpa dikomando, teriakan khas Sunda menggema dari berbagai arah. “Bapak aing! Bapak aing!” terdengar lantang, memecah formalitas acara.
Sebutan tersebut bukan sekadar sapaan. Dalam budaya Sunda, ungkapan “Bapak aing” mencerminkan rasa kedekatan, penghormatan, sekaligus ikatan emosional yang kuat. Momen itu menunjukkan bagaimana Kang Dedi bukan hanya dipandang sebagai pejabat, melainkan figur yang dianggap dekat dan membumi.
Baca Juga: Bupati Karawang Aep Syaepuloh Terima Dua Tanda Kehormatan dari Presiden RI
Di tengah kerumunan, Kang Dedi Mulyadi tetap tenang. Satu per satu tangan warga ia sambut dengan jabat erat, sesekali melempar senyum dan anggukan. Tak ada jarak, tak ada sekat protokoler yang kaku.
Iwan, seorang petani asal Cilebar yang turut hadir, menilai antusiasme warga bukanlah hal yang dibuat-buat. Menurutnya, kedekatan itu tumbuh dari kebiasaan Kang Dedi yang kerap turun langsung ke lapangan.
“Beliau sering datang ke sawah, ngobrol sama petani, dengar keluhan langsung. Jadi wajar kalau warga merasa dekat, seperti keluarga sendiri,” kata Iwan.
Ia berharap, kehadiran Kang Dedi Mulyadi mendampingi Presiden Prabowo dalam agenda Panen Raya ini dapat memperkuat komunikasi antara petani Karawang dan pemerintah pusat, khususnya dalam mewujudkan target swasembada pangan nasional.
Di sela agenda besar negara, momen sederhana itu justru menjadi potret kuat tentang kepemimpinan yang dirasakan langsung oleh rakyat. ***




