POJOKSATU.id, KARAWANG - Kekhawatiran warga Desa Dawuan Barat, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, terhadap keberadaan Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Dawuan milik Pertamina yang berada dekat dengan permukiman kembali mencuat. Isu keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas energi tersebut kini mulai mendapat perhatian berbagai pihak.

Salah satu aktivis sosial yang dikenal dengan sebutan Jambul Merah (JM) menyatakan dukungannya terhadap gerakan mahasiswa yang mulai menyuarakan aspirasi warga. Aktivis yang memiliki nama asli Ferry Alexa itu menilai langkah mahasiswa melakukan pendampingan terhadap masyarakat merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan warga.

“Saya mendukung mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada masyarakat terdampak,” ujar JM, Senin (9/3/2026).

Ia menegaskan bahwa dirinya juga siap turun langsung membantu perjuangan masyarakat Dawuan Barat agar aspirasi mereka mendapat perhatian dari pihak terkait. Menurutnya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terutama jika menyangkut fasilitas penyimpanan bahan bakar yang memiliki risiko operasional tinggi.

Baca Juga: Jambul Merah Siap Menangkan Kerudung Merah di Pilkada Karawang

“Nanti pada waktunya saya akan turun gunung,” katanya.

JM juga menilai perusahaan pengelola fasilitas energi berskala besar memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan keamanan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ia menegaskan bahwa perusahaan harus memberikan jaminan keselamatan bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan operasional.

“Pertamina harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga menyebut momentum bulan suci Ramadhan dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengangkat isu perjuangan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan hak-hak warga.

“Ini bulan yang sangat baik untuk mengangkat bendera perjuangan,” ujarnya.

Baca Juga: Jambul Merah : Bila Perlu Saya yang Pimpin Perjuangan Kepung Pemda Karawang

Kekhawatiran warga Dawuan Barat sendiri mulai mencuat setelah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat (AMPPERA) melakukan peninjauan langsung di sekitar area Terminal BBM Dawuan.

Koordinator AMPPERA, Yoga Muhammad Ilham S, mengatakan dari hasil pengamatan di lapangan terlihat jarak antara tangki penyimpanan bahan bakar dengan permukiman warga dinilai cukup dekat. Bahkan pada beberapa titik, rumah warga disebut hanya dipisahkan oleh tembok pembatas dari area operasional terminal.

“Kami melihat tidak ada zona penyangga yang memadai antara fasilitas penyimpanan BBM dengan rumah warga,” kata Yoga.

Menurut mahasiswa, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait aspek keselamatan. Terminal bahan bakar merupakan fasilitas dengan aktivitas operasional berisiko tinggi, sehingga memerlukan sistem pengamanan yang ketat serta pengaturan jarak aman dari permukiman warga.

Mahasiswa bersama warga kini berupaya mendorong adanya perhatian dari pihak terkait agar persoalan ini dapat ditangani secara serius. Mereka berharap pemerintah daerah maupun pihak perusahaan dapat melakukan evaluasi terhadap kondisi di lapangan, terutama terkait aspek keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terminal BBM.

Warga Dawuan Barat juga berharap adanya dialog terbuka antara masyarakat dengan pihak terkait agar berbagai kekhawatiran yang muncul dapat dibahas secara transparan dan ditemukan solusi yang tepat. ***