POJOKSATU.id, KARAWANG - Di tengah tren perayaan kelulusan sekolah yang kerap digelar di hotel berbintang atau gedung mewah, SMAN 5 Karawang justru mengambil langkah berbeda yang menuai apresiasi.

Sekolah negeri yang berada di Kabupaten Karawang itu memilih menggelar acara perpisahan sekaligus pembagian Surat Keterangan Lulus (SKL) bagi siswa kelas XII secara sederhana di lingkungan sekolah, Senin (4/5/2026).

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pihak sekolah menegaskan, konsep perpisahan sederhana dipilih agar momen kelulusan tetap berkesan tanpa menjadi beban tambahan bagi para orang tua siswa.

Di saat banyak sekolah berlomba menggelar acara pelepasan penuh gemerlap dengan biaya tidak sedikit, SMAN 5 Karawang justru menunjukkan bahwa makna perpisahan tidak terletak pada kemewahan tempat, melainkan pada rasa syukur, kebersamaan, dan silaturahmi.

Baca Juga: SMAN 5 Karawang Resmi Jadi Sekolah Maung, SPMB 2026 Hanya Buka Jalur Prestasi

Kepala SMAN 5 Karawang, Dr. Epul Saepul, M.Pd., menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk kepedulian sekolah terhadap kondisi ekonomi keluarga siswa.

Menurutnya, sekolah sengaja memaksimalkan fasilitas yang ada agar kegiatan tetap berjalan khidmat tanpa harus membebani wali murid.

“Kami sengaja mengadakan perpisahan ini secara mandiri di sekolah. Mengoptimalkan fasilitas yang kami miliki, mulai dari panggung hingga sound system. Tujuannya jelas, kami tidak ingin perpisahan ini memberatkan orang tua siswa secara ekonomi,” ujar Dr. Epul di sela kegiatan.

Pernyataan tersebut menjadi penegas bahwa sekolah tidak ingin euforia kelulusan justru berubah menjadi tekanan finansial bagi keluarga siswa.

Baca Juga: Merasa Diintimidasi, Mantan Kepsek SMAN 5 Sinjai Aliyuddin Lapor Kepsek SMAN 8 Sinjai ke Gubernur Sulsel

Langkah SMAN 5 Karawang ini sekaligus menjadi angin segar di tengah polemik biaya perpisahan sekolah yang belakangan kerap dikeluhkan para orang tua.

Tidak sedikit wali murid yang mengaku terbebani dengan biaya acara pelepasan yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, terutama ketika acara digelar di hotel atau gedung dengan konsep mewah.

SMAN 5 Karawang memilih memutus mata rantai kebiasaan itu.

Alih-alih menyewa ballroom atau aula hotel, sekolah memanfaatkan sarana internal yang sudah tersedia. Panggung sekolah ditata sederhana, perangkat suara digunakan dari fasilitas milik sekolah, dan seluruh prosesi difokuskan pada momen inti: pelepasan siswa dan pembagian SKL.

Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Berkah UMKM Karawang, Produksi Tahu-Tempe Naik 6 Kali Lipat

Kesederhanaan itu juga tampak dari aturan busana yang diterapkan.

Pihak sekolah secara tegas meniadakan kewajiban mengenakan kebaya, jas, atau busana formal mewah yang selama ini identik dengan acara perpisahan sekolah.

Sebagai gantinya, seluruh siswa cukup mengenakan seragam putih hitam.

Aturan ini bukan sekadar soal kesederhanaan, tetapi juga sarat makna simbolik.

“Kami tidak mengizinkan siswa menggunakan pakaian mewah. Cukup mengenakan seragam putih hitam. Ini adalah simbol penghormatan terakhir mereka sebagai siswa sebelum menanggalkan seragam sekolah untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi,” lanjut Dr. Epul.

Baca Juga: Ribuan Massa GMPI Kepung DPRD Karawang

Seragam putih hitam yang dikenakan para siswa menjadi simbol penutup perjalanan mereka selama tiga tahun menempuh pendidikan di bangku SMA.

Tanpa balutan kebaya mahal atau jas formal, para siswa justru tampil setara, sederhana, dan tetap elegan dalam suasana yang penuh makna.

Acara perpisahan tersebut dihadiri seluruh siswa kelas XII yang dinyatakan lulus, jajaran dewan guru, serta staf sekolah.

Baca Juga: Cerita Ibu di Karawang Usai Makan MBG: Anak Muntah-muntah Tengah Malam

Meski digelar sederhana, suasana acara berlangsung tertib, hangat, dan penuh kekhidmatan.

Agenda utama kegiatan difokuskan pada pembagian Surat Keterangan Lulus (SKL), dokumen resmi yang menjadi penanda kelulusan siswa sekaligus bekal penting untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.

Momen pembagian SKL menjadi salah satu bagian paling emosional dalam acara tersebut.

Satu per satu siswa menerima dokumen kelulusan mereka dengan wajah haru.

Baca Juga: Punkesmas, Band Punk Karawang yang Angkat Isu Buruh dan Lingkungan

Beberapa di antaranya tampak tak kuasa menahan emosi saat bersalaman dengan guru yang selama tiga tahun mendampingi perjalanan pendidikan mereka.

Tanpa dekorasi mewah dan lampu gemerlap khas ballroom hotel, suasana haru justru terasa lebih kuat.

Konsep bersahaja yang diusung sekolah membuat interaksi antara siswa dan guru terasa lebih dekat, lebih intim, dan lebih tulus.

Tidak ada sekat formalitas berlebihan. Yang hadir justru kehangatan perpisahan yang sederhana namun membekas.

Bagi banyak siswa, momen itu bukan hanya tentang menerima SKL atau merayakan kelulusan.

Baca Juga: Kota Bandung Memanas Saat Demo May Day, Farhan Sakit Tipes: Aksi Anarkis Disebut Bukan Ulah Buruh

Lebih dari itu, acara tersebut menjadi ruang perpisahan yang jujur—tempat mereka mengucapkan terima kasih kepada guru, mengenang perjalanan sekolah, dan menutup masa putih abu-abu dengan rasa syukur.

Langkah SMAN 5 Karawang ini pun dinilai menjadi contoh baik bagi sekolah lain.

Di tengah tuntutan efisiensi dan semangat pendidikan yang inklusif, sekolah menunjukkan bahwa perpisahan tidak harus identik dengan biaya mahal.

Momen kelulusan tetap bisa berlangsung khidmat, berkesan, dan bermartabat tanpa harus dibungkus kemewahan.

SMAN 5 Karawang membuktikan bahwa inti perpisahan sekolah bukanlah kemegahan acara, melainkan makna yang tertinggal setelahnya.

Dan dari halaman sekolah yang sederhana itu, para siswa belajar satu hal penting sebelum benar-benar melangkah keluar: bahwa kesan mendalam tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari ketulusan. ***