POJOKSATU.id, KARAWANG - Di balik deretan medali yang berhasil diraih, tersimpan kisah perjuangan seorang atlet disabilitas asal Kabupaten Karawang yang hingga kini masih berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Sosok tersebut adalah Sinta (19), penyandang disabilitas yang tinggal di Dusun Cilebar 1, RT 08/01, Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang. Meski hidup dalam kondisi sederhana, semangatnya untuk berprestasi tak pernah surut.
Pelajar SMK Perbankan Indonesia itu telah mengumpulkan berbagai penghargaan dari sejumlah ajang olahraga. Medali emas, perak, hingga perunggu berhasil dibawanya pulang setelah bersaing dalam berbagai kompetisi yang diikuti.
Tak hanya itu, Sinta juga pernah mengharumkan nama Kabupaten Karawang di tingkat Provinsi Jawa Barat. Ia berhasil mencatatkan prestasi pada cabang lomba lari 100 meter sebagai perwakilan daerahnya.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun di balik pencapaian yang membanggakan itu, kehidupan Sinta dan keluarganya masih jauh dari kata sejahtera.
Sinta mengungkapkan bahwa dirinya pernah dijanjikan hadiah sebesar Rp70 juta atas prestasi yang diraihnya. Namun hingga saat ini, hadiah tersebut belum diterimanya.
Baca Juga: Sosok Rugun Saragih Istri Febrie Adriansyah Ternyata Pejabat Kejagung, Hartanya Rp18,22 Miliar
Kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan yang terus dihadapi. Sejak kehilangan sang ayah, Sinta tinggal bersama ibunya, Kurnia, yang berjuang seorang diri memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Setiap hari, Kurnia berkeliling menjajakan telur untuk mendapatkan penghasilan. Dari usaha sederhana itulah kebutuhan sehari-hari mereka dipenuhi.
Meski hidup dalam keterbatasan, dukungan sang ibu menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Sinta untuk terus melangkah dan mengejar cita-citanya.
Kepala Desa Kertamukti, H. Warnadi, membenarkan bahwa Sinta merupakan salah satu anak disabilitas berprestasi yang dimiliki wilayahnya.
Menurut Warnadi, berbagai pencapaian yang diraih Sinta seharusnya mendapat perhatian lebih luas dari berbagai pihak, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
"Semoga ke depannya ada perhatian penuh dari tingkat kabupaten dan provinsi terhadap Sinta, anak disabilitas yang memiliki banyak prestasi," ujar Warnadi.
Harapan baru sebenarnya mulai terbuka bagi masa depan Sinta. Ia diketahui memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi melalui program beasiswa di Karawang.
Namun, persoalan ekonomi kembali menjadi kendala yang tidak mudah diatasi. Meski biaya pendidikan telah terbantu, kebutuhan hidup sehari-hari selama menjalani perkuliahan masih menjadi beban bagi keluarga.
Biaya transportasi, makan, dan kebutuhan penunjang lainnya menjadi tantangan yang harus dipikirkan oleh Sinta dan ibunya.
Kurnia mengaku sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada putrinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Baginya, beasiswa tersebut merupakan peluang besar yang selama ini diharapkan.
Namun di sisi lain, ia tidak bisa menutupi kekhawatiran mengenai biaya hidup yang harus tetap dipenuhi selama Sinta menjalani masa kuliah.
"Saya berterima kasih kepada Bupati Karawang yang sudah memberikan beasiswa untuk kuliah. Tapi yang jadi beban itu biaya sehari-hari. Saya kerja sendiri, jual telur keliling," ungkap Kurnia.
Kisah Sinta menjadi gambaran nyata bahwa masih banyak penyandang disabilitas berprestasi yang berjuang dalam keterbatasan ekonomi. Prestasi yang diraih belum tentu sejalan dengan kondisi kehidupan yang mereka jalani.
Meski demikian, semangat Sinta tidak pernah padam. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia tetap berusaha mengembangkan kemampuan dan mengejar pendidikan yang lebih tinggi demi masa depan yang lebih baik.
Deretan medali yang berhasil dipersembahkan menjadi bukti kerja keras dan ketekunannya selama ini. Nama Kabupaten Karawang telah dibawanya bersinar di berbagai ajang kompetisi.
Kini, yang diharapkan bukan sekadar apresiasi atas prestasi yang telah diraih, melainkan dukungan nyata agar perjuangan Sinta dapat terus berlanjut. Kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi harapan besar bagi masa depannya.
Perjalanan hidup Sinta menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Namun dukungan dari berbagai pihak tetap dibutuhkan agar mimpi tersebut dapat terwujud dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. ***




