POJOKSATU.id, KARAWANG - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membawa dampak nyata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah. Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, program yang digulirkan pemerintah itu bukan hanya memperkuat akses gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi pengrajin tahu dan tempe.
Dampak paling terasa datang dari Kecamatan Telagasari, salah satu sentra produksi tahu-tempe di Karawang. Sejak dilibatkan sebagai pemasok Program Makan Bergizi Gratis, para pengrajin mengaku mengalami lonjakan permintaan yang sangat signifikan. Produksi yang sebelumnya berjalan dalam skala kecil untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional, kini meningkat tajam hingga berkali-kali lipat.
Salah satu pengrajin yang merasakan langsung dampak program ini adalah Hj. Siti Romlah. Perempuan yang menjadi perwakilan pengrajin tahu-tempe di Kecamatan Telagasari itu mengaku bersyukur karena Program Makan Bergizi Gratis telah membuka pasar baru yang jauh lebih stabil bagi pelaku usaha kecil.
Menurut Siti, sebelum ada Program Makan Bergizi Gratis, pengrajin tahu-tempe di wilayahnya hanya mengandalkan pasar konvensional dengan volume penyerapan yang terbatas. Dalam kondisi normal, pasokan tahu ke pasar hanya berkisar 50 kilogram per hari. Jumlah itu dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pedagang tradisional, tetapi belum mampu mendongkrak pertumbuhan usaha secara signifikan.
Baca Juga: Bupati Karawang Lantik 200 Kepala Sekolah, Tegaskan Tanpa Titipan
Sejak menjadi bagian dari rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis, permintaan tahu meningkat tajam. Para pengrajin bahkan harus menaikkan kapasitas produksi hingga 3 kuintal atau 300 kilogram per hari untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
“Biasanya kami memasok ke pasar itu paling banyak habis 50 kilogram. Tapi dengan adanya MBG ini, kami menaikkan produksi hingga 3 kuintal setiap hari. Peningkatannya luar biasa,” ujar Siti Romlah saat ditemui di lokasi produksi tahu di Telagasari, Karawang, Sabtu (25/4/2026).
Kenaikan dari 50 kilogram menjadi 300 kilogram per hari menunjukkan lonjakan produksi hingga enam kali lipat. Bagi pelaku UMKM skala rumahan, peningkatan seperti ini bukan sekadar pertumbuhan usaha biasa, melainkan lompatan besar yang mengubah ritme ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar.
Program Makan Bergizi Gratis pun tidak hanya memberi efek pada peningkatan omzet para pengrajin. Dampak lanjutannya justru jauh lebih besar karena menyentuh sektor ketenagakerjaan di tingkat lokal.
Baca Juga: Potret Kartini Masa Kini di Karawang, Siti Kamilah Berjuang Sendiri Rawat Keluarga Lumpuh
Siti menjelaskan, lonjakan permintaan membuat pengrajin harus menambah tenaga kerja baru agar proses produksi tetap berjalan lancar. Mulai dari proses perebusan kedelai, penggilingan, pencetakan tahu, hingga distribusi ke dapur MBG, semuanya membutuhkan tambahan pekerja.
Kondisi ini membuka peluang kerja baru bagi warga sekitar, terutama kalangan pemuda dan ibu rumah tangga yang sebelumnya belum memiliki penghasilan tetap.
“Karena produksinya naik, otomatis kami juga butuh tambahan tenaga. Jadi bukan hanya pengrajin yang merasakan manfaatnya, warga sekitar juga ikut terbantu karena ada pekerjaan,” ungkapnya.
Setidaknya ada sekitar 10 pengrajin tahu dan tempe di Kecamatan Telagasari yang kini terlibat aktif sebagai pemasok utama dalam Program Makan Bergizi Gratis. Keterlibatan mereka menciptakan ekosistem ekonomi baru yang lebih merata karena manfaat program tidak hanya terpusat pada satu pelaku usaha, melainkan menyebar ke banyak titik produksi.
Baca Juga: Diduga Dipakai ABG untuk Nongkrong, Mobil Dinas Pemkab Karawang Terlantar di Kawasan Industri
Pertama, penyerapan tenaga kerja meningkat karena pengrajin membutuhkan tambahan pekerja untuk mengimbangi lonjakan pesanan.
Kedua, pemerataan ekonomi mulai terasa karena banyak pelaku usaha kecil ikut terlibat dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis.
Ketiga, kesejahteraan keluarga perlahan membaik karena penghasilan warga yang sebelumnya menganggur kini mulai stabil.
Bagi pelaku UMKM, pola seperti ini menjadi bukti bahwa program pemerintah yang dirancang dengan melibatkan sektor usaha lokal mampu menciptakan dampak ekonomi yang jauh lebih luas.
Program Makan Bergizi Gratis tidak lagi dipandang semata sebagai bantuan konsumsi bagi penerima manfaat, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Di sisi lain, Siti Romlah mengingatkan bahwa pelaksanaan program sebesar MBG tentu masih memiliki tantangan yang perlu terus dibenahi. Meski manfaatnya nyata, ia menilai evaluasi tetap dibutuhkan agar program berjalan semakin efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya, ruang perbaikan tetap terbuka, baik dari sisi distribusi, koordinasi pasokan, maupun keberlanjutan pelibatan UMKM lokal agar manfaat ekonomi program bisa terus dirasakan dalam jangka panjang.
“Tentu setiap program ada kekurangannya, ke depan harapannya bisa terus diperbaiki. Kami sangat berharap program MBG ini terus berlanjut karena manfaatnya nyata bagi masyarakat, terutama dalam membantu perekonomian dan mengurangi pengangguran,” tambahnya.
Pernyataan itu mencerminkan harapan besar pelaku UMKM terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis. Bagi mereka, program ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan peluang ekonomi yang mampu menjaga stabilitas usaha dan pendapatan masyarakat kecil.
Tahu dan tempe yang selama ini dikenal sebagai panganan sederhana kini memiliki peran yang jauh lebih strategis. Lewat Program Makan Bergizi Gratis, komoditas rakyat ini naik kelas menjadi bagian penting dari rantai pasok pangan nasional sekaligus penggerak ekonomi akar rumput.
Jika pola kolaborasi seperti ini terus dijaga, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha lokal bukan hanya akan memperkuat ketahanan pangan masyarakat, tetapi juga membangun fondasi ekonomi daerah yang lebih mandiri.
Di Karawang, cerita tentang tahu dan tempe kini bukan lagi sekadar soal dapur rakyat. Dari tangan para pengrajin kecil di Telagasari, tahu dan tempe menjelma menjadi simbol bahwa program sosial yang tepat sasaran bisa menjadi angin segar bagi ekonomi lokal.
Program Makan Bergizi Gratis pun perlahan membuktikan diri bukan hanya sebagai solusi gizi, tetapi juga mesin penggerak kesejahteraan masyarakat. ***




