POJOKSATU.id, KARAWANG - Ketegangan yang sempat viral di media sosial terkait dugaan intimidasi dalam aktivitas proyek Pembuangan Sedimentasi di Dusun Cisalak Utara, Desa Margakaya, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, akhirnya berakhir damai.
Perselisihan antara warga dan pihak pelaksana proyek yang sebelumnya memicu keresahan publik kini telah diselesaikan melalui jalur mediasi resmi yang digelar di Balai Desa Margakaya.
Ro Bharjo, pihak yang sempat disebut dalam berbagai narasi yang beredar, memberikan klarifikasi tegas terkait tudingan adanya tindakan premanisme di lokasi proyek. Ia membantah keras isu yang menyebut adanya kekerasan fisik terhadap warga, termasuk kabar soal pemukulan maupun benturan kepala.
Baca Juga: Ketua DPRD Karawang Minta RSUD Gratiskan Parkir untuk PSM, Honor Kecil Tugas Besar
“Kabar yang menyebutkan adanya tindakan premanisme atau pemukulan itu tidak benar. Saya bekerja secara profesional di sini. Yang terjadi kemarin murni karena adanya miskomunikasi di lapangan saat pengerjaan berlangsung,” ujar Bharjo usai mengikuti mediasi.
Menurutnya, dinamika yang terjadi saat itu lebih disebabkan oleh kendala komunikasi teknis di lapangan, bukan bentuk intimidasi seperti yang ramai diperbincangkan di grup media sosial lokal.
Situasi yang sempat memanas tersebut akhirnya mencapai titik terang setelah digelar pertemuan formal yang mempertemukan kedua belah pihak. Dalam mediasi tersebut, Bharjo bertatap muka langsung dengan Firman (KS) sebagai warga terdampak, bersama anggota keluarganya, termasuk sang ayah, Galingging.
Baca Juga: Aksi Damai GMNI di Karawang, Mahasiswa Beri Mawar ke Dandim
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu menghasilkan kesepakatan damai. Kedua belah pihak sepakat mengakhiri perselisihan dan saling memaafkan atas ketegangan yang sempat terjadi.
“Kami sudah bertemu dengan saudara Firman beserta keluarganya di Balai Desa. Kami sudah bicara baik-baik, masalah sudah clear, dan kami sudah saling memaafkan. Tidak ada lagi persoalan di antara kami,” lanjut Bharjo.
Dengan berakhirnya konflik personal tersebut, perhatian kini kembali difokuskan pada penanganan dampak proyek terhadap lingkungan sekitar, khususnya terkait luapan lumpur yang sebelumnya sempat masuk ke permukiman warga.
Baca Juga: Hangat di Momen Lebaran, HPCI Karawang Perkuat Solidaritas Lewat Halal Bihalal di Alam Terbuka
Pihak pelaksana proyek menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan proses normalisasi saluran air serta memperkuat tanggul guna mencegah kejadian serupa terulang, terutama saat intensitas hujan tinggi.
Selain itu, sejumlah langkah konkret juga telah dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warga terdampak. Di antaranya penyediaan sumur satelit untuk kebutuhan air bersih serta pembersihan sisa material lumpur di area permukiman.
Kesepakatan damai ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperbaiki komunikasi antara perusahaan dan masyarakat setempat. Koordinasi yang lebih baik dinilai menjadi kunci agar pelaksanaan proyek ke depan dapat berjalan tanpa menimbulkan konflik serupa.
Warga Desa Margakaya yang sebelumnya diliputi kekhawatiran kini mulai merasa lega dengan adanya penyelesaian secara kekeluargaan ini. Mereka berharap pihak pelaksana lebih mengedepankan aspek keselamatan lingkungan serta membangun komunikasi yang terbuka dengan masyarakat. ***




