POJOKSATU.id, KARAWANG – Deretan buruh tandur terlihat bergerak serempak di persawahan Desa Ciranggon, Kecamatan Majalaya. Di antara puluhan pekerja dewasa itu, seorang bocah bernama Opang, 13 tahun, ikut menanam padi dengan ritme cepat seperti halnya para buruh lainnya.

Opang berasal dari Desa Sampalan, Kecamatan Kutawaluya. Ia datang bersama rombongan besar yang biasa mengerjakan sawah secara borongan. Meski masih remaja, ia bekerja penuh sebagai buruh harian, mengikuti kecepatan dan tekanan pekerjaan di lapangan.

“Kami kerja rombongan, A. Jadi lebih cepat kalau bareng-bareng,” ujar Opang saat ditemui di lokasi tanam padi, Sabtu (6/11/2025).

Baca Juga: Bupati Bogor Bergerak Cepat, Siap Bangun Jembatan Permanen Penghubung Bogor–Karawang yang Putus Diterjang Arus Ciomas

Karena keterbatasan ekonomi, Opang sudah tidak lagi bersekolah. Ia menyebut ibunya bekerja di Arab Saudi, sementara ayahnya berada di Karawang. Kondisi itu membuatnya memilih turun ke sawah demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Mau sekolah, A, tapi enggak ada biaya. Jadi kerja saja. Di sawah juga lebih tenang,” katanya dengan suara pelan.

Rombongan tandur biasanya memulai pekerjaan sejak pukul 05.00 WIB dan baru berhenti menjelang petang. Selama sekitar 12 jam, Opang terus bergerak di petakan sawah yang dikerjakan secara kolektif. Dari pekerjaan itu, ia mendapatkan upah sekitar Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per hari, yang ia gunakan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.

Sarikin, salah satu buruh yang bekerja bersama Opang, membenarkan bahwa sistem rombongan seperti ini menjadi tumpuan banyak keluarga petani di Karawang. Menurutnya, buruh tandur adalah bagian dari rantai penting yang menjaga produksi pangan di daerah tersebut.

“Kami kerja begini untuk bertahan hidup. Kami ini penopang beras di Karawang,” kata Sarikin. ***