POJOKSATU.id, KARAWANG – Kisah Nopan (18), pemuda dari Desa Sampalan, Kecamatan Kutawaluya, yang viral karena bekerja sebagai buruh tandur di sawah berlumpur Majalaya, langsung mengundang respons cepat dari pemerintah dan pihak terkait. Video perjuangan Nopan yang bekerja seharian dengan upah minim membuatnya ditetapkan sebagai Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS).

Pada Sabtu (6/11/2025), tim dari Dinas Sosial Kabupaten Karawang bersama STPL Bekasi turun tangan setelah mendapati kondisi keseharian Nopan yang memprihatinkan. Bantuan sosial mulai disalurkan tak lama setelah informasi dirinya mencuat di media sosial.

"Kami atas nama PSM dan Pemerintah Desa Sampalan mengucapkan terima kasih kepada Dinas Sosial Kabupaten Karawang dan STPL Bekasi yang telah berkunjung ke rumah PPKS atas nama Novan atau Opang," kata Karman, PSM Desa Sampalan, Selasa (9/12/2025).

Tak hanya paket sembako, Nopan juga menerima tempat tidur dan perlengkapan mandi. Bantuan ini diharapkan bisa membantu meringankan beban ekonominya. Diketahui, Nopan putus sekolah dan bekerja apa saja demi bertahan hidup bersama keluarganya.

Baca Juga: MKKS SMA Negeri Karawang Beri Bantuan untuk Korban Banjir Karangligar

Namun di balik penyaluran bantuan, muncul fakta baru soal usia dan latar belakang pendidikan Nopan. Ia sempat mengaku masih berusia 13 tahun, namun setelah diverifikasi langsung oleh Kepala Desa Sampalan, Jamal, ditemukan bahwa Nopan sudah berusia 18 tahun.

"Kami datang ke rumahnya. Usianya sudah 18 tahun," ujar Kades Jamal saat ditemui Senin (8/11/2025).

Jamal menyebut, alasan Nopan berhenti sekolah sejak kelas 5 SD bukan sepenuhnya karena keterbatasan ekonomi, melainkan keputusannya sendiri. Hal tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah desa, terutama menyangkut masa depan pendidikan pemuda tersebut.

"Waktu SD sampai kelas 5, dia berhenti memang atas kemauan sendiri," tambah Jamal.

Meski sempat menolak tawaran mengikuti pendidikan kesetaraan Paket A dan Paket B, Kades Jamal menegaskan tidak akan menyerah. Ia memastikan pemerintah desa siap memfasilitasi biaya maupun kebutuhan administrasi jika Nopan berkenan kembali menempuh pendidikan.

"Paling besok pagi saya samperin orang tuanya, mau saya tanya, kalau ikut Paket A mau tidak. Kalau misalkan ada biayanya, tidak masalah, itu urusan saya," tegasnya. ***