POJOKSATU.id, KARAWANG – Peta politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Bengle, Kabupaten Karawang, mendadak berubah drastis. Mantan Kaur Kesra Desa Bengle, Karna, resmi menyatakan mundur dari bursa pencalonan kepala desa dan mengalihkan seluruh dukungannya kepada Teh Alya.

Keputusan tersebut langsung menjadi sorotan publik. Pasalnya, Desa Bengle dikenal memiliki basis pemilih besar dengan jumlah mencapai sekitar 28 ribu hak suara.

Langkah Karna mundur dinilai bukan keputusan biasa. Ia memilih mengesampingkan ambisi pribadi demi menjaga suara masyarakat agar tidak terpecah dalam kontestasi politik desa.

Dalam pernyataannya, Karna menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui diskusi panjang dengan sejumlah tokoh masyarakat serta melihat langsung visi dan program yang dimiliki Teh Alya.

Menurutnya, ada kesamaan tujuan dalam membangun Desa Bengle ke arah yang lebih maju.

Baca Juga: Momen Haru di CKM, Warga Peluk dan Doakan Nurnida Alya Jadi Kades Bengle

“Politik itu soal pengabdian, bukan sekadar menang atau kalah. Saya melihat ketulusan dan program Teh Alya sejalan dengan harapan masyarakat,” ujar Karna, Jumat (29/5/2026).

Ia menilai Desa Bengle membutuhkan sosok pemimpin yang mampu bekerja cepat, solid, dan memiliki kemampuan menjalankan program pembangunan secara nyata.

Karena itu, Karna memilih bergabung dan menyatukan kekuatan bersama Teh Alya demi menjaga stabilitas politik desa menjelang Pilkades November 2026 mendatang.

“Saya memilih berdiri di samping Teh Alya agar pembangunan desa ke depan bisa berjalan lebih fokus dan satu arah,” katanya.

Baca Juga: Balon Kades Bengle Nurnida Alya Serap Keluhan Warga Perum CKM Lewat Program Belanja Masalah

Tak hanya menyatakan dukungan, Karna juga menginstruksikan seluruh simpatisan dan basis pendukungnya untuk ikut memenangkan Teh Alya pada Pilkades nanti.

Ia berharap keputusan tersebut menjadi jalan terbaik agar energi masyarakat tidak habis dalam persaingan politik yang memecah belah warga.

“Agar suara rakyat tidak terfragmentasi, saya mundur dan mengarahkan seluruh pendukung untuk bersama memenangkan Teh Alya. Kepentingan warga harus diutamakan,” tegasnya.

Meski mundur dari pencalonan, Karna memastikan dirinya tetap akan terlibat dalam pembangunan Desa Bengle.

Ia mengaku siap membantu menyempurnakan program-program yang selama ini sudah berjalan baik demi kepentingan masyarakat luas.

Sikap politik yang ditunjukkan Karna pun mendapat perhatian masyarakat. Keputusannya dinilai menjadi contoh politik desa yang lebih mengutamakan persatuan dibanding perebutan jabatan.

Dengan bergabungnya kekuatan Karna ke kubu Teh Alya, peta persaingan Pilkades Bengle 2026 diprediksi akan berubah signifikan. ***