POJOKSATU.id, KARAWANG — Suasana Masjid Agung Syekh Quro Karawang dalam beberapa pekan terakhir tak lagi sejuk seperti biasanya. Di balik megahnya ikon keagamaan tersebut, muncul kisruh yang membuat jamaah geleng kepala: perebutan SK kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).

Perdebatan soal legalitas SK disebut-sebut sebagai pemicu utama ketegangan. Dokumen yang seharusnya menjadi instrumen administrasi itu kini berubah menjadi rebutan dua kubu yang sama-sama mengklaim paling berhak memimpin. Situasi ini bahkan sudah menjadi perbincangan luas jamaah di pelataran masjid.

Konflik tersebut dipicu dinamika klasik: ambisi menduduki posisi strategis. Jabatan pengurus masjid yang idealnya berbasis amanah dan pengabdian, justru dinilai sebagian pihak memiliki nilai sosial dan politik yang tinggi. Tak heran, proses pengesahan SK berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan.

Tak sedikit jamaah menilai bahwa jabatan pengurus masjid kini dipandang sebagai jalan untuk memperluas pengaruh, mengakses jaringan kekuasaan, hingga mengelola aset umat. Ketika jabatan dipersepsikan sebagai ruang strategis, semangat melayani pun terancam tersisih.

Baca Juga: Konflik Kepengurusan Masjid Agung Karawang Makin Memanas

Beberapa pihak disebut merasa dilangkahi, sementara kelompok lain bersikukuh bahwa SK terbaru adalah yang paling sah. Kondisi ini membuat suasana kian panas. Alih-alih menjadi pusat ketenangan, masjid malah menjadi tempat isu “kubu A vs kubu B” berkembang.

Jamaah pun mulai jengah. Mereka merasa suasana ibadah terganggu oleh hiruk-pikuk dinamika yang mestinya tidak muncul di lingkungan masjid.

“Masjid Agung Syekh Quro terlalu agung untuk dipersempit oleh ambisi duniawi. Kami muak dengan drama perebutan SK,” ujar Asep Setiawan, S.Kom, jamaah yang ditemui pada Jumat (14/11/2025). Ia menilai, perebutan SK hanya akan merusak kepercayaan umat terhadap pengurus yang seharusnya menjadi teladan.

Baca Juga: Ada Karangan Bunga Misterius di Pelantikan DKM Masjid Agung Karawang

Asep, yang juga dikenal sebagai Kang Aswan Al-Pancongi, menegaskan bahwa jabatan pengurus masjid tidak sebanding dengan amanah besar yang dipikul.

“Kalau niatnya benar-benar untuk memakmurkan masjid, mengurus sandal jamaah atau membersihkan toilet pun lebih bernilai di sisi Allah dibanding memegang SK yang lahir dari konflik,” tegasnya.

Ia mengajak semua pihak melakukan introspeksi dan kembali menempatkan masjid sebagai tempat ibadah, bukan panggung kompetisi kekuasaan. Menurutnya, keberkahan justru hadir ketika pengurus bekerja dengan tulus dan tanpa kepentingan pribadi.

Jamaah berharap sengketa SK segera diselesaikan secara arif. Masjid, kata mereka, adalah milik umat. Bukan milik kelompok tertentu, bukan pula ruang untuk memperebutkan pengaruh. Umat ingin masjid kembali menjadi tempat teduh, jauh dari konflik yang tidak pantas terjadi di rumah Allah. ***