POJOKSATU.id, KARAWANG – Banjir akibat luapan Sungai Citarum kembali melumpuhkan aktivitas warga di Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. Genangan air yang merendam permukiman tidak hanya membawa kesulitan, tetapi juga memunculkan fenomena tak biasa di Dusun Gempol.
Derasnya arus banjir membuat empang Galatama di wilayah tersebut jebol. Ratusan ikan lele lepas dari kolam dan menyebar ke jalanan hingga halaman rumah warga. Situasi itu kemudian dimanfaatkan warga RT 01/RW 04 sebagai cara bertahan hidup di tengah terhentinya aktivitas ekonomi.
Suryadi, salah seorang warga setempat, mengatakan lele-lele tersebut keluar sendiri karena air empang meluap. Warga hanya mengambil ikan yang terbawa arus ke permukiman.
“Air besar, empang tidak kuat menahan, akhirnya ikannya keluar semua. Warga cuma memunguti yang masuk ke halaman dan jalan,” kata Suryadi, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Pria di Karawang Dikepung Warga Usai Jual Motor Pinjaman
Ia mengungkapkan, sejak banjir melanda, banyak warga tidak bisa bekerja karena akses terputus. Kondisi itu membuat hasil tangkapan lele menjadi penyelamat sementara bagi kebutuhan dapur keluarga.
“Sebagian dimasak buat lauk, ada juga yang dijual. Uangnya dipakai beli kebutuhan pokok karena sekarang warga belum bisa cari nafkah,” ujarnya.
Meski terlihat seperti keberuntungan di tengah musibah, Suryadi menegaskan warga tidak bermaksud mengambil hak orang lain. Situasi darurat memaksa masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.
“Ini bukan mau merugikan siapa pun. Namanya juga bencana, ikannya keluar sendiri. Buat warga yang terdampak, lele ini jadi penopang hidup sementara,” tambahnya.
Di balik aktivitas “panen” dadakan itu, tersimpan kecemasan warga Dusun Gempol. Wilayah tersebut merupakan titik terendah di Tanjungpura dan kerap menjadi langganan banjir kiriman dari wilayah hulu Sungai Citarum.
Setiap kali hujan deras mengguyur daerah hulu seperti Bandung, warga Gempol hampir selalu bersiap menghadapi genangan panjang yang bisa mengisolasi permukiman.
“Kami ini paling bawah. Kalau di atas hujan, pasti di sini kebagian. Kadang sampai berhari-hari tidak bisa ke mana-mana,” ungkap Suryadi.
Baca Juga: Pengemudi Suzuki Pick Up Tewas Terperosok di Saluran Irigasi Karawang
Kondisi tersebut mendorong warga meminta pemerintah tidak sekadar menganggap banjir sebagai rutinitas tahunan. Mereka berharap ada penanganan serius, mulai dari perbaikan tanggul, normalisasi saluran, hingga sistem drainase yang lebih permanen.
Aspirasi itu semakin mendesak karena di lingkungan RT 01/RW 04 banyak dihuni warga lanjut usia dan anak yatim yang sangat bergantung pada bantuan ketika banjir melanda.
“Di sini banyak jompo dan yatim. Kalau banjir, mereka paling terdampak karena akses tertutup. Kami berharap pemerintah hadir lebih cepat dan merata,” tegasnya. ***




