POJOKSATU.id, KARAWANG — Musim kemarau menyebabkan warga Desa Taman Mekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, kekurangan air.
Namun, kondisi itu tidak menghentikan Eman (48) memproduksi arang sebagai salah satu sumber penghasilan.
Di tengah udara panas, asap mengepul dari tungku pembakaran. Eman mengatur tumpukan kayu yang perlahan berubah menjadi arang.
Pembuatan arang dimulai dengan memilih dan mengeringkan kayu, lalu membakarnya hingga layak dijual. Bahan bakunya antara lain kayu johar, Pornis dan mahoni yang diperoleh dari pemasok.
Menurut Eman, kemarau membantu mempercepat pengeringan kayu.
“Kalau kemarau kayunya lebih cepat kering,” ujar Eman saat ditemui pada Sabtu (2/9/2026).
Satu kali produksi membutuhkan waktu sekitar lima hari dan menghasilkan sekitar 50 karung arang, bergantung pada ketersediaan bahan baku serta kondisi pembakaran.
Harga arang berada di kisaran Rp35 ribu per karung, tergantung jenis dan pembeli.
Dengan produksi sekitar 50 karung dalam satu siklus selama lima hari, nilai penjualan mencapai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,75 juta.
Jumlah tersebut merupakan omzet kotor dan belum dikurangi biaya produksi.
Eman menyebut keuntungan bersihnya sekitar Rp300 ribu per lima hari produksi.
Dalam menjalankan usaha tersebut, Eman dibantu tiga karyawan, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga pembakaran dan pengemasan.
Selain memproduksi arang, Eman memelihara sapi dan domba sebagai sumber penghasilan lain.
Di tengah kemarau dan kekurangan air, Eman membagi waktu antara mengelola tungku, menjalankan usaha arang, dan merawat ternak.
Keterbatasan air, bahan baku, serta hasil penjualan yang tidak selalu besar menjadi tantangan.
Meski demikian, Eman tetap menjalankan usahanya selama bahan baku tersedia dan arang masih memiliki pembeli.
Tungku sederhana itu menjadi tumpuan penghasilan bagi keluarganya dan tiga karyawan yang membantunya.




