POJOKSATU.id, KARAWANG – Semangat ketahanan pangan berbasis lingkungan perumahan terus tumbuh di Kabupaten Karawang. Salah satu contoh nyatanya terlihat dari aktivitas KWT Mbah Cipto yang berlokasi di Perumahan Bumi Telukjambe Blok K RT 03/RW 15, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur.
Kelompok Wanita Tani (KWT) tersebut menjadi salah satu komunitas urban farming yang aktif dan produktif dalam mengembangkan budidaya sayuran hidroponik sekaligus edukasi pertanian bagi masyarakat sekitar.
Didirikan sejak tahun 2022, KWT Mbah Cipto berhasil membangun kawasan pertanian skala rumah tangga yang mampu menghasilkan berbagai jenis sayuran sehat seperti pakcoy, bayam, hingga kangkung.
Saat ini kelompok tersebut memiliki sekitar 10 rak tanam dengan total kurang lebih 2.000 lubang tanaman hidroponik yang dikelola secara gotong royong oleh para anggota.
Ketua KWT Mbah Cipto, Chandra Jadianti mengatakan hasil panen sayuran selama ini dipasarkan di lingkungan sekitar perumahan dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Baca Juga: Dua Dekade Mengabdi untuk NKRI, Kisah Serka Imang dari Medan Konflik Aceh ke Teritorial Karawang
“Untuk harga jual saat ini, pakcoy Rp22 ribu, bayam Rp26 ribu, dan kangkung Rp18 ribu. Alhamdulillah hasilnya bisa membantu perekonomian anggota, khususnya ibu rumah tangga,” ujarnya saat ditemui di lokasi kebun KWT Mbah Cipto, Senin (11/5/2026).
Keberadaan kebun hidroponik tersebut bukan hanya menjadi sumber pangan sehat, tetapi juga membuka peluang usaha tambahan bagi warga sekitar, terutama ibu rumah tangga yang terlibat aktif dalam pengelolaan kelompok.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, KWT Mbah Cipto mampu membuktikan bahwa pertanian modern tetap dapat berkembang secara produktif di lingkungan perumahan.
Selain fokus pada budidaya tanaman hortikultura, kelompok ini juga mengembangkan program edukasi pertanian atau study farming untuk anak-anak TK dan PAUD.
Program edukasi tersebut dikemas menarik dengan berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari pengenalan dunia pertanian, praktik menanam sayuran, hingga membawa hasil panen secara langsung.
Menurut Chandra, kegiatan edukasi itu mendapat antusiasme tinggi dari pihak sekolah maupun orang tua murid karena dinilai mampu mengenalkan pentingnya pertanian sejak usia dini.
“Biayanya bervariasi sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu, tergantung konsep dan kesepakatan bersama pihak sekolah,” tambahnya.
Saat kunjungan media berlangsung, tampak sejumlah pengurus KWT Mbah Cipto turut aktif mendampingi kegiatan di lokasi. Di antaranya Ibu Nung selaku humas kelompok dan Ibu Harianti yang bertugas sebagai bendahara.
Tidak hanya mengembangkan sektor pertanian, KWT Mbah Cipto juga mulai memperluas kegiatan usaha melalui budidaya perikanan.
Saat ini mereka memiliki empat kolam terpal berdiameter sekitar tiga meter yang digunakan untuk memelihara ikan nila dan ikan gurame.
Salah satu anggota yang aktif membantu pengelolaan kolam ialah Deni, yang terlihat sedang membersihkan area kolam ikan ketika kegiatan berlangsung.
Pengembangan sektor perikanan tersebut menjadi bagian dari konsep ketahanan pangan terpadu yang terus dibangun kelompok agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh anggota dan masyarakat sekitar.
Menariknya, KWT Mbah Cipto juga diketahui menjadi salah satu kelompok binaan Yamaha.
Baca Juga: Yani Kalina Pimpin PPP Karawang, Siapkan 50 Persen Pengurus dari Kalangan Muda
Melalui pembinaan tersebut, diharapkan keterlibatan masyarakat dalam program ketahanan pangan keluarga tidak hanya didominasi kaum ibu, tetapi juga melibatkan para bapak untuk bersama-sama mengembangkan lingkungan produktif berbasis urban farming.
Meski telah aktif menjalankan berbagai program dan bahkan beberapa kali meraih penghargaan tingkat daerah maupun kabupaten, hingga kini KWT Mbah Cipto ternyata belum terdaftar dalam sistem SIMLUHTAN.
SIMLUHTAN sendiri merupakan Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian yang digunakan sebagai basis pendataan kelembagaan petani di bawah Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan.
Legalitas tersebut dinilai penting karena dapat membuka akses kelompok terhadap berbagai program pembinaan, bantuan pemerintah, pelatihan, hingga pendampingan pengembangan usaha pertanian.
Namun demikian, peluang untuk memperoleh legalitas resmi mulai terbuka.
Baca Juga: Bupati Karawang Lantik 200 Kepala Sekolah, Tegaskan Tanpa Titipan
Berdasarkan hasil komunikasi melalui sambungan WhatsApp dengan Ibu Diah, pihak terkait akan segera berkoordinasi dengan UPTD PPL Kecamatan Telukjambe Timur mengenai proses pendataan dan registrasi kelompok.
Bahkan pada Selasa, 12 Mei 2026, pihak Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang bersama kepala bidang terkait dijadwalkan melakukan kunjungan langsung ke lokasi KWT Mbah Cipto.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal percepatan proses legalisasi kelompok agar dapat segera terdaftar dalam sistem SIMLUHTAN.
Keberadaan KWT Mbah Cipto kini dinilai menjadi contoh nyata bagaimana konsep pertanian perkotaan atau urban farming mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian, kelompok tersebut berhasil membangun semangat gotong royong, meningkatkan produktivitas warga, serta membuka peluang usaha baru berbasis lingkungan.
Dengan berbagai capaian yang telah diraih selama ini, masyarakat berharap KWT Mbah Cipto segera memperoleh legalitas resmi agar pengembangan program ketahanan pangan berkelanjutan dapat berjalan lebih optimal di masa mendatang. ***




